blog*spot
get rid of this ad
BEDAH CERITA PENDEK AGUSTINUS WAHYONO BUAT BELAJAR

:: BEDAH CERITA PENDEK AGUSTINUS WAHYONO BUAT BELAJAR ::

Kelas ini sengaja dibuka oleh Agustinus Wahyono bagi siapa saja yang berniat belajar menulis cerpen, belajar mengamati cerpen atau belajar mengomentari/mengritik cerpen. (abang_onoy_bangka@yahoo.com)
:: selamat datang di kelas BEDAH CERITA PENDEK AGUSTINUS WAHYONO BUAT BELAJAR :: agustinus wahyono | STASIUN UTAMA ::
[::..ARSIP-ARSIP..::]
[::..JALINAN..::]
:: CERPEN BARU DIMUAT <]
:: ANTOLOGI PERTAMA <]
:: ANTOLOGI KEDUA <]
:: ANTOLOGI KETIGA <]
LAIN-LAIN :
:: ESAI CERPEN <]
:: INFO CERPEN <]

[ Tuesday, August 26, 2003 ]

SEEKOR ANJING MENELAN BOM *

Seekor anjing setinggi sekitar 75 cm berdiri tegap di tengah pintu utama restoran mewah itu. Ia menatap satu per satu orang-orang di dalam restoran mewah. Hidungnya kembang-kempis. Jalan nafasnya patah-patah. Lidahnya menjulur-julur. Air liurnya menetes-netes, memantulkan sinar pelangi elektrik dari mana-mana. Bulu-bulunya basah dan ditempeli lumpur. Tidak jelas lagi apakah anjing itu berbulu warna hitam, coklat atau jingga merata. Kuping, mata dan kakinya kudisan seperti kena kutuk kusta.

Orang-orang di dalam restoran itu memandang ke arahnya. Mereka melongo.

“Anjing siapa sih?”

“Entah.”

Anjing itu mengibaskan titik-titik air yang terjebak di sela-sela bulunya. Selesai. Lalu ia menjulur-julurkan lidahnya lagi. Air liurnya menetes-netes terus. Nafasnya terengah-engah. Sesekali lidahnya keluar menyapu moncongnya yang sedikit berbusa di sela-sela. Lalu menjulur lagi.

“Dia mencari seseorang.”

“Mungkin dia mengenal seseorang di sini.”

“Lebih baik tadi kau tidak ikut ke sini.”

“Sialan.”

Perlahan-lahan bau anjing itu merangsek ke dalam ruangan, menggapai hidung orang-orang. Serta-merta mereka menutup hidung masing-masing. Bau menjijikkan. Beberapa perempuan malah muntah. Seorang pelayan segera menutup pintu restoran.

“Oh iya, aku ingat! Anjing tadi… anjing itulah…”

“Benarkah?”

“Ya! Aku ingat ciri-ciri moncongnya!”

***

Subuh telah tertinggal di lantai kamar mandi. Surya timur belum juga bangun dari dekapan selimut kaki langit timur, hanya tangannya masih mengulet manja. Jalan-jalan telah digerayangi kendaraan dengan kecepatan paling kencang yang bisa dilakukan mereka. Di trotoar orang-orang berpakaian rapi, juga ada yang berdasi, remaja berseragam putih-biru tampak berjalan tergesa-gesa. Alunan nafas mereka menderu. Sebentar-sebentar menengok jam. Mendesah. Dada berdetak lebih cepat. Sebagian dahi terbit kerut. Mereka seolah memburu matahari. Mereka seolah dikejar-kejar matahari. Mereka seolah tidak peduli matahari.

Seekor anjing berjalan perlahan di antara kaki-kaki mereka. Matanya sayu. Dilihatnya orang-orang. Diendusnya aroma tubuh mereka. Ia seolah mencari seseorang. Mungkin sedang mencari perlindungan. Atau, mungkin… Ia tidak menemukan siapa yang dibutuhkannya. Kemudian melangkah lagi.

Ia berhenti di kaki tiang trafficlight, memiringkan bagian belakang badannya, terus mengangkat sebelah kaki belakangnya. Cuuuuuuur. Ia kencing di situ. Sementara ada sepasang mata mengamati anjing itu. Seekor anjing dengan ciri yang pernah didengarnya dari orang lain. Sepasang mata ini yakin bahwa itulah anjing tersebut.

“Awas, ada anjing berbahaya!” teriaknya spontan sembari menunjuk anjing itu.

Semula orang-orang tidak menggubrisnya. Tetapi sewaktu anjing itu menatap garang ke arah mereka dan dengan taring yang menyeruak di celah moncongnya, baru kemudian mereka sadar. Anjing bertubuh cukup besar itu siap mengejar.

“Aaaaaaaaaaaa!”

“Waaaaaaa!”

“Toloooong! Aduh aduh… ada anjing gila! Mati aku!”

“Toloooong! Anakku, anakku… Tolong anakku!”

“Anjing lu! Kagak punya mata ya? Liat-liat dong kalo lari!”

Sontak suasana berubah. Para pejalan kaki kalangkabut. Para pengendara sepeda motor langsung ngebut. Mereka lari tunggang-langgang, meninggalkan apa saja. Anak-anak kecil menangis ribut. Ada yang terjerembab. Ada yang bertabrakan. Pedagang kaki lima meninggalkan gerobak mereka. Beberapa orang malah menjarah makanan yang tak bertuan di gerobak dorong kaki lima. Pertokoan di sekitarnya segera tutup.

Debu-debu beterbangan. Suara klakson, cacimaki dan teriakan bercampuraduk. Orang-orang di dalam mobil dan angkutan kota segera menoleh ke arah pergerakan massa yang panik. Kendaraan roda dua dan roda empat terjebak. Perempatan jalan berubah kacaubalau. Empat polisi lalulintas terkejut, tidak siap dengan keributan mendadak itu. Tapi anjing itu sudah berlalu dari tempat itu. Lenyap seperti angin.

“Hei, Bung! Jangan main-main! Kau lihat sendiri kan akibatnya?”

“Sungguh, Om, ada anjing berbahaya. Itu, di sana! Barusan mengencingi kaki tiang trafficlight!” sahutnya sambil terus berlari kencang.

“Kau tahu dari mana?”

“Dari mereka yang pernah makan di restoran itu. Ciri-cirinya ya begitu itu!”

“Waaaaaaa!”

Teriakan tadi menyebabkan pergerakan pejalan kaki dan kendaraan roda dua makin kencang. Panik, takut, khawatir, jijik dan lain-lain menulari sekitarnya. Jumlah polisi lalulintas yang minim terpaksa meninggalkan pos penjagaan, lalu turun ke jalan.

“Mungkin ini politik bisnis yang kotor.”

“Betul, Om, anjing itu kotor sekali, kata mereka.”

“Bukan itu. Ini sebuah permainan bikinan pesaing restoran itu.”

“Permainan? Silakan saja kalau Om mau bermain-main dengan anjing itu.”

“Busyet lu!”

***

Di halte bis dan stasiun kereta penuh orang-orang orang-orang berpakaian rapi, ada yang berdasi, remaja berseragam putih-biru menanti-nanti. Sebentar-sebentar menengok jam. Mendesah. Dada berdetak lebih cepat. Sebagian dahi terbit kerut. Mereka seolah menunggu matahari melintas. Mereka seolah tidak menginginkan matahari muncul sebelum mereka meninggalkan halte dan stasiun itu.

Tulalit! Ning! Tulalit! Nong! Suara handphone. Seseorang meraihnya dari kalungnya. Ngobrol sebentar, kemudian dahinya berkerut. Matanya segera menyapu sekitar. Nafasnya mengalir cepat. Detak jantungnya pun terimbas. Tak ayal suara seseorang itu terpatah-patah. Kemudian dia berhenti berkomunikasi.

“Kamu tadi lihat di sekitar sini ada anjing, nggak?”

“Anjing? Anjing penguasa atau anjing konglomerat maksudmu? Preman?”

“Hush! Bukan. Anjing ya anjing!”

“Enggak lihat tuh. Emangnya kenapa?”

“Anjing itu… Kata kawanku, seekor anjing gawat telah berkeliaran!”

“Haaaaah!!”

Halte bis dan juga stasiun kereta api tiba-tiba gempar. Para calon penumpang kocar-kacir, dan segera menghentikan apa saja; entah bis apa saja, metromini apa saja maupun kereta apa saja. Pedagang kaki lima tidak peduli dengan dagangan mereka; mau dijarah, ditendang atau pun dibiarkan, asalkan segera menyelamatkan diri. Semua orang tidak mau mengalami masalah terburuk sepanjang hidup mereka.

“Hoi, Mas, Mbak! Awas, ada anjing berbahaya! Menyingkirlah segeraaaaaa!”

Laki-laki itu segera menoleh ke sumber suara. Lalu kembali menghadap istrinya yang sama-sama berdiri di ujung stasiun. Kemudian laki-laki itu menarik tangan istrinya beserta beberapa tas besar mereka.

“Ayo lekas minggat! Ada anjing berbahaya.”

“Apa?” tanya istrinya sambil mencopot earphone radio 2 band-nya.

“Ada anjing berbahaya! Kita harus segera pergi dari sini.”

“Anjing gila, maksud Mas?”

“Entahlah. Aku cuma dengar ‘awas, ada anjing berbahaya’. Itu saja.”

“Lha iya. Mungkin anjing gila.”

“Entahlah. Aku cuma dengar ‘awas, ada anjing berbahaya’. Itu saja.”

“Sudah, sudah! Aku bisa gila betul kalau bicara begini dengan Mas! Eh, tapi kita mau pergi ke mana lagi, lha wong kita baru pertama kali ini datang ke sini.”

“Walahiyung! Modar aku!”

***

Bulan menyapa ketakutan mendadak kota itu sejak kemunculan anjing itu. Tidak ada para pejalan kaki, kaki lima, pengemudi kendaraan roda dua dan roda tiga. Hanya mobil yang berani melintas. Itu pun dengan kecepatan tidak seperti biasa. Mereka tidak mau mengambil resiko terburuk dalam hidup, karena anjing itu munculnya mendadak

Selain itu, sejak kemunculan anjing yang serba mendadak dan sukar ditemukan jejak tegasnya itu setiap rumah memasang pagar besi setinggi-tingginya, dan selalu tertutup rapat. Untuk rumah-rumah tanpa halaman, tentu saja pemasangan pagar adalah pengecualian. Tak pelak usaha perakitan pagar besi dirundung untung berlipat-lipat, sehingga mulai merebak usaha sejenis di mana-mana.

Tak lupa pula pemerintah setempat mengerahkan pasukan pemburu anjing dan petugas penjinak anjing. Pasukan khusus itu disebar ke segala penjuru kota bersama anjing-anjing pelacak. Di samping itu wajah kota mulai disemarakkan oleh gambar tempel dan pamflet tertulis “Awas, Ada Anjing Berbahaya!”, lengkap dengan profil anjing itu. Beberapa media massa pun turut mempublikasikan peringatan serupa.

Pengerahan pasukan penjinak anjing itu pun berdampak serius bagi ketentraman hidup anjing-anjing di kota itu. Terjadilah pembantaian terhadap anjing-anjing yang tak berdosa. Setiap anjing yang kedapatan liar di jalanan; entah memang anjing liar maupun anjing milik siapa, langsung ditembak tanpa ampun. Tidak ada interogasi macam-macam. Akibatnya, setiap hari selalu terpampang mayat anjing bergelimpangan di jalan, halaman rumah, emperan pertokoan, taman kota, halte, terminal, stasiun, pasar ikan atau area-area publik lainnya. Tak ayal para pemilik anjing atau penyayang anjing segera mengurung anjing mereka di dalam rumah.

Sementara anjing yang paling dicari-cari itu terkadang bermalas-malasan di bawah tumpukan kardus mi instan. Kepalanya digeletakkan begitu saja di potongan sampul majalah bergambar perempuan nyaris bugil. Mukanya murung. Dipandanginya trotoar yang lengang tersiram lampu mercuri. Ia hanya bisa mendengar lolongan histeris anjing-anjing di dalam rumah-rumah orang. Terkadang ia mengungsi entah ke mana.

***

Di sebuah laboratorium, mata para peneliti yang tengah mengamati contoh air liur, kencing dan tinja anjing itu mendadak terbelalak. Dari ketiga contoh hasil ekresi anjing itu mereka menemukan suatu zat aditif yang sama, yakni mengandung bahan radioaktif yang biasa dipakai untuk bahan peledak. Seketika itu juga mereka melaporkan penemuan darurat itu ke bagian pertahanan dan keamanan kota.

Entah siapa dan bagaimana bisa, berita tersebut langsung bocor di media massa. Maka tersiarlah kabar di mana-mana, baik lewat media tersebut maupun sudah dalam format pamflet atau spanduk lebar mengangkangi jalan-jalan. Mal, swalayan, shopping center, pertokoan, perkantoran, sarana-sarana pendidikan, rumah ibadah, halte, terminal, stasiun, kafe, discotique, nite club, karaoke, panti pijat, lokalisasi dan tempat-tempat apa saja otomatis sepi. Suasana kota betul-betul mencekam. Betapa tidak. Seekor anjing telah menelan bom yang masih sangat aktif dan setiap detik bisa meledak. Kekuatan ledakannya diperkirakan mencapai radius 1 km dengan meninggalkan sebuah lubang berdiameter seratus meter dan kedalaman beberapa belas meter.

“Anjing milik siapa sih sebenarnya?”

“Mungkin milik teroris untuk meninggalkan jejak.”

“Teroris memakai anjing?”

“Nggak apa-apa, kan. Yang penting kan misi tercapai.”

“Eh, jangan-jangan anjing itu milik aparat. Entah sengaja atau tidak anjing itu menelan bom. Tapi entahlah, karena anjing itu belum tertangkap, belum diinterogasi.”

“Jangan-jangan, anjing itu milik seorang elit politik yang sedang bermasalah. Barangkali ada motif kepentingan tertentu. Apalagi sudah ada isu kampanye.”

“Ah, aku nggak tahu ah. Mending mikir, kapan kita bisa kerja lagi.”

Sejalan dengan kalimat tersebut, anjing yang telah diidentifikasi ‘menelan bom’ itu tenang melintas di ujung gang dekat mereka nongkrong. Sontak mereka melotot, memastikan apakah itu anjing yang meresahkan kota. Setelah yakin, mereka langsung bergerak. Seorang lainnya segera melaporkan berita tersebut ke aparat terdekat.

“Itu dia! Itu dia!”

“Kejar!”

Anjing itu mendengar teriakan mereka. Ia langsung lari sekencang-kencangnya, berbelok ke lorong-lorong, lalu menghilang dalam gorong-gorong.

“Kejar? Apa kita mau mati konyol?”

“Iya ya, kalau tiba-tiba bom di perutnya meledak, tamatlah riwayat kita.”

“Aku masih doyan hidup. Mending kabur dari kota sialan ini!”

***

Kereta Senja Ekonomi meninggalkan stasiun kota. Kali ini gerbong betul-betul sarat muatan. Orang-orang berjubel seperti hendak mudik lebaran atau masa berlibur sekolah menjelang tahun ajaran baru, bahkan tidak sedikit yang nekat duduk di atap gerbong, walau sudah ditambah beberapa gerbong. Mereka ingin pulang dulu sebelum anjing yang menelan bom itu tertangkap. Sebab, selama anjing itu masih berkeliaran, muncul tiba-tiba dan sukar dideteksi, nyawa mereka jelas terancam setiap saat.

“Keparat betul anjing itu. Masak belum apa-apa kita sudah pulang lagi. Masak orang kalah ama anjing. Apa kelak kata tetangga kita. Dasar anjing siluman!”

“Apa?” tanya istrinya sambil mencopot earphone radio 2 band-nya.

“Ah, barang utangan itu terus saja kamu dengarkan! Ini soal anjing bangsat itu!”

“Iya, Mas, barang utangan ini gimana ngelunasinnya. Belum utang lainnya.”

“Anjing betul anjing itu! Nggak bisa lihat orang mau sukses!”

Istrinya tidak menanggapi. Ia agak risih dengan umpatan-umpatan yang selalu begitu ringan melayang dari mulut suaminya. Untuk mengalihkan gerutuan suaminya, ia menekuk tubuhnya ke kolong tempat duduk mereka, pura-pura mencari sesuatu.

“Maaaaaaaas…. Asssss……..!” Mukanya pucat.

*******
babarsariyogya, maret 2003

*) terilham dari sajak Narasi Anjing yang Menelan Bom karya Nanang Suryadi, 2002

[cerpen ini masuk 5 besar Lomba Menulis Cerpen Hadiah Tepak Dewan Kesenian Kabupaten Bengkalis Riau, 18 Agustus 2003]

***

Komentar Sang Guru Sastra Denmas Marto via email 19 Maret 2003:

Untuk mengomentari cerpen "Seekor Anjing Menelan Bom"-mu, aku akan mulai dengan mengutip pendapat pengamat film JB Kristanto di lembaran budaya "Bentara", Kompas, 7 September 2001. Ia menguraikan panjang lebar perihal koherensi pada karya film (yang juga sering disebut "logika-dalam") dalam tulisan berjudul Film Indonesia dan Akal Sehat:

"Logika-dalam ini datang saat sang pencipta mengawali ciptaannya dalam bentuk apa pun. Ia bisa berimajinasi berupa karakter satu tokohnya, bisa juga plot sebuah cerita, sebuah masalah tertentu, sebuah citra tertentu atau sebuah gambar tertentu. Begitu sudah menetapkan awalan tadi, maka tercipta pulalah sebuah logika tertentu, yang secara teori tetap berpatokan pada ilmu logika umum.

Pada saat itu, sang pencipta tidak lagi bebas. Ia harus mematuhi konsekuensi logis dari yang sudah ditetapkan sebelumnya. Ia tidak lagi bisa semena-mena memperlakukan tokoh ciptaannya, atau jalan cerita yang sudah disusun awalannya.

Ini merupakan hukum umum dan dasar penciptaan karya seni dari jenis apa pun. Hal ini pula yang menyebabkan perlunya ada penelitian khusus dan mendalam mengenai apa yang diperlukan, sampai ke soal-soal yang sangat sepele sekali seperti jenis tata rambut, pakaian, tingkah laku, dan lain-lain."

Logika-dalam inilah yang menyebabkan adegan berlari di atap-atap rumah atau perkelahian di pucuk bambu dalam film Crouching Tiger Hidden Dragon karya sutradara Taiwan, Ang Lee, menjadi enak ditonton dan bukan hal yang tak masuk akal."

Meskipun ia membicarakan cerita film, namun pendapatnya itu berlaku pula untuk setiap bentuk cerita kreatif lainnya, termasuk, dalam hal ini, cerpen.

Namun, sebelum mengomentari "logika dalam" cerpenmu, akan kutengarai perubahan mencolok dalam "Seekor Anjing Menelan Bom" dibandingkan dengan cerpen-cerpenmu terdahulu (Kemajuan, nih ye?). Cerpen "Anjing" sangat deskriptif. Inilah cerpen Onoy yang showing, dan bukan telling – walaupun kadang-kadang masih tergelincir juga menggunakan deskripsi yang kurang imajinatif, seperti "Suasana kota betul-betul mencekam." (Nggak usah bilang "mencekam"; gambarkanlah "kemencekaman" itu, Mas!)

Betapapun, Onoy berhasil menahan dirinya untuk tidak menjejalkan komentar pribadinya (bukan komentar tokoh ceritanya) ke tengah-tengah narasi. Kalaupun mau berkomentar, Onoy "meminjam" tokoh anonim untuk melontarkannya dalam dialog. Kerja bagus, Noy, dan perlu terus dikembangkan!

***

Sekarang soal logika dalam. Cerpenmu tidak memberikan jawaban memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini:

Pertama, bagaimana mungkin SELURUH kota bisa begitu gempar dengan ulah SEEKOR anjing liar? Tidak adakah orang yang cukup punya nyali untuk menggertak anjing itu, memukulnya, melemparinya dengan batu, atau sekalian menembaknya? (Ingat, kabar bahwa anjing itu menelan bom baru bocor sekian hari kemudian. Jadi, kalau pada pemunculan pertama langsung saja ditembak, memangnya kenapa?)

Kedua, bagaimana mungkin "anjing yang paling dicari-cari itu" terus lolos dari sergapan, bahkan setelah pasukan penjinak anjing dikerahkan? Bagaimana ia bisa muncul begitu liar dan menggemparkan (sekali lagi) SELURUH kota, namun juga "terkadang bermalas-malasan di bawah tumpukan kardus mi instan"? Kurasa, anjing yang bisa menakut-nakuti satu kota tentunya sosoknya dahsyat juga, sehingga tidak mungkin baginya menyelinap diam-diam tanpa ketahuan. Atau ini anjing siluman? Kalau anjing siluman, seharusnya anjing ini sudah cukup menakutkan tanpa perlu diembel-embeli "menelan bom".

Ketiga, di tengah kepanikan seheboh itu, di mana untuk keluar rumah saja takut, kok masih sempat sih orang membangun pagar? Pakai bodyguard ya?

Keempat, bom berkekuatan sedahsyat itu sebesar apa sih? Bagaimana si anjing bisa menyimpan bom sebesar dan seberat itu di dalam perutnya dan tetap berlenggang kangkung begitu rupa ke seluruh penjuru kota? Bom itu ditelan oleh si anjing sendiri, atau ditanamkan oleh entah siapa ke dalam perutnya? Kalau si anjing yang melakukannya, apa ya bom itu tidak telanjur lebih dulu meledak saat si anjing berusaha mengremusnya (atau dia bisa menelan bom itu bulat-bulat)? Kalau bahan radioaktif ditemukan dalam hasil ekresi anjing itu (jadi, kubayangkan bom itu sudah terurai), bagaimana bom itu "masih sangat aktif dan sewaktu-waktu bisa meledak"?

Dengan tidak terjawabnya pertanyaan-pertanyaan itu, klimaks cerpenmu yang hiruk-pikuk itu jadi nonsens. Bagaimana, Mas Onoy?

Contoh kecil dari Harry Potter dan Kamar Rahasia. Di situ Harry antara lain "memaksa" Lucius Malfoy melemparkan kaus kaki kotor kepada peri rumahnya. Akibatnya, peri rumah itu jadi "merdeka". Nah, adegan ini akan nonsens kalau Rowling tidak lebih dulu membentuk logika dalam bahwa di dunia Harry Potter, peri rumah akan merdeka bila tuannya memberinya pakaian (termasuk kaus kaki ini).

***

[ agustinus 2:11 PM [+] ]
TEMPAT DAMAI DI ATAS PELANGI

Usai kunjungan khusus ke perusahaan t-shirt C 59 Bandung waktu lalu, kusempatkan diri singgah ke Bogor. Nyaris lima tahun aku tidak mengunjungi Kota Hujan ini, semenjak aku tidak lagi terlibat cinta dengan “seseorang”. Ya, hampir lima tahun, terhitung sejak kami memutuskan tali cinta yang, bagiku, percuma. Akhirnya kami sepakat berpisah dan bebas menentukan sendiri pilihan atas jalan-jalan kami.

“Mantan gadismu itu sudah menikah, Noy,” tutur kawanku beberapa waktu lalu.

“Lho, kapan?”

“Beberapa bulan setelah kalian putus. Mungkin gara-gara dia kecewa pada dirimu yang hanya suka pacaran tanpa pernah sudi menikahinya.”

“Ah, kau terlalu berprasangka.”

Mungkin benar, tampaknya aku lebih berani berpacaran saja ketimbang menikah. Tanteku sendiri pernah mencibir, “Kamu itu nggak berani kawin aja.” Aku malu sekali dibilang begitu. Tapi, jujur, aku memang takut. Sebab aku masih takut, ragu dan bimbang untuk memulai sebuah kehidupan baru yang disebut rumah tangga, keluarga baru. Aku takut kehilangan kebebasanku. Hal itu berlanjut hingga usiaku melewati 30 tahun – tapi sebagian orang bilang 30 tahun belum terlalu tua. Ketika kini aku berani, justru belum kusiapkan gadis lainnya.

Betapa kini aku kembali ke kota yang telah sedikit-banyak memberiku kenangan. Masih seperti dulu, saban aku sampai, gerimis selalu menyambut kehadiranku. Itulah keramahannya hingga kini tetap terasa. Aku suka sekali. Aku selalu ingin segera bertemu dengannya. Menyentuhnya. Memilin jarum-jarum cair yang tak pernah mengenal musim. Dia akan merengkuhku dengan dekapan basahnya. Kebasahan yang menghangatkan pertemuan yang membuatku senantiasa rindu pada Bogor.

Tapi itu hanya kerinduan pada hujannya, pada sesuatu yang tak akan pernah menantangku “nikahi aku kalo emang kamu berani”.

Hari ini, seingatku, aku belum membuat janji untuk bertemu “seseorang” alias gadis yang pernah selama bertahun-tahun bersemayam dalam hatiku itu. Kebetulan aku pun tak tahu berapa nomor HP-nya dan alamat emailnya. Berarti, aku bisa memberi kejutan padanya. Ya, itu keinginanku. Paling tidak, aku bisa menengoknya. Tidak lebih, dan memang aku tidak punya maksud-maksud mengusut benang cinta yang telah lama kusut, terputus, hanyut. Yah, meskipun aku masih sangat mencintainya sampai detik ini. Mencintainya, karena dialah cinta pertama saya yang paling menggebu-gebu.

Benarkah aku tak merindukannya lagi?

Kendaraan-kendaraan di sekitarku tetap melaju, menembus guyuran gerimis. Mereka terbiasa begitu. Sementara sembari berlindung di halte, kurapatkan jaketku demi menolak sergapan dingin nan basah. Sebab, aku hanya suka dingin tanpa dicampuri basah. Dan, kubiarkan pertanyaan seputar “seseorang” itu merambati jiwaku.

Ehm, mungkin anak-anaknya sudah dua atau bahkan lebih. Mungkin rumahnya sebesar istana mungil yang asri dan penuh kehangatan. Mungkin suaminya tampan, berwibawa dan kaya raya. Mungkin seorang direktur sebuah perusahaan termasyhur.

Ya, dia memang seorang gadis yang beruntung, dan suaminya justru lebih beruntung lagi. Di dunia ini, pria itulah yang paling berbahagia, karena memperoleh istri yang sebaik dia. Dulu aku ingin seberuntung suaminya kini. Dulu aku ingin bisa memegang erat-erat gadis itu selamanya. Tapi dasar memang bukan keberuntunganku.

“Ah!” desahku pendek. Ada setumpuk sesal menindih batinku.

Cukup lama kunantikan gerimis reda. Pun kendati reda, sesaat saja akan kembali mencurahkan kebasahannya. Kupikir, tak mengapa. Inilah sebabnya kenapa disebut Kota Hujan. Apalagi sewaktu kutengok langit lapang terbentang dengan bongkahan-bongkahan mendung melintas. Aku berjalan kaki diiringi aroma tanah basah kota ini. Sejuk.

Sekitar separo jalan menuju ke rumah “seseorang” itu mendadak kulihat pelangi menukik. Pita sutera berwarna-warni itu melengkung, cembung membentuk busur dan kedua ujungnya menjejak di kaki langit dengan jarak renggang yang sukar kuhitung.

Waow, indah nian, guman takjubku.

Seketika aku teringat masa kecilku, saat saya pertama kali melihatnya, saat pertama kali ibuku berkisah tentang pelangi. Waktu itu saya bersama ibu sedang duduk di teras depan. Barangkali hanya pikiranku yang saat itu tiba-tiba terhanyut menuju masa lampau melalui pelangi.

***

“Pelangi itu adalah selendang para bidadari, yang digunakan sebagai jembatan untuk turun ke bumi,” cerita ibuku dulu.

“Bidadari itu siapa, Bu?”

“Mereka adalah putri-putri kahyangan yang cantik jelita tiada tara.”

“Cantik seperti Ibu?”

Ibuku hanya tersenyum. Aku pun tersenyum. Tapi senyum ibuku manis sekali.

“Kenapa selendang itu nggak basah, padahal ‘kan habis kena air hujan? Terus, kenapa cuma munculnya sehabis hujan, Bu? Kok nggak hari selain hujan?”

Ibuku tidak menjawab. Entah kenapa. Atau, barangkali saja ibu kebingungan mencari kata untuk membuka pintu pengertianku. Untuk menerangkan dengan dalil-dalil ilmu alam, mana mungkin di seusiaku yang belum genap lima tahun itu aku sanggup memahaminya.

“Jumlah selendang itu,” lanjut ibuku tanpa hirau pada pertanyaanku tadi dan aku pun tidak peduli pada pertanyaanku sendiri, “ada tujuh dengan warna berbeda. Selendang itu tersusun menjadi jembatan angkasa. Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang dipenuhi jalan permata, tanah-tanah selembut sutera, rumah-rumah mirip istana, sungai susu, telaga madu, tanpa matahari yang menggigit kulit dan tanpa bulan yang menyeramkan, langit berwana-warni, dan para penghuninya tidak suka marah-marah atau berkelahi. Indah dan penuh kedamaian. Tempat itu disebut kahyangan.”

“Kahyangan itu planet apa, Bu?” tanyaku seolah terbawa keindahan warna pelangi yang menjelma sebagai selendang serta kehebatannya menjadi jembatan menuju tempat bernama kahyangan yang, kata ibuku tadi, indah dan penuh kedamaian.

Lagi-lagi ibuku tersenyum. Ibuku tahu bahwa aku cuma tahu kisah-kisah tentang planet-planet yang sering muncul dalam film-film kesukaanku.

“Kahyangan itu surga,” jawab beliau seraya mencengkram pipiku dengan gemasnya. Aku mengaduh, karena memang sakit. Sakit-sakit menyenangkan, karena cengkraman itu adalah bahasa kasih tersendiri. Aku hafal sentuhan kasih ibuku.

Waktu itu kupikir, salah satu planet yang sering muncul dalam film-film adalah kahyangan. Pantas saja orang-orang bumi berlomba-lomba mengungsi ke planet itu, berperang demi planet, dan bahagia di planet itu. Pasti planet itulah kahyangan, seperti yang disebutkan ibuku. Tak salah lagi, pasti planet seperti dalam film-film itu.

Hari-hari berikutnya, setiap habis hujan, aku selalu mencari ibuku. Bertanya lagi tentang selendang dan kahyangan. Dan ibuku selalu memberi waktu untuk berkisah. Entah dari mana ibuku memperoleh bahan-bahannya. Bagiku, ibuku adalah guru sejatiku, yang mengajarkan apa saja untuk memuaskan kehausan pengetahuan kecilku.

Aku suka sekali dengan dunia atas langit, dunia kahyangan ciptaan ibuku itu, atau planet kahyangan seperti kisah-kisah dalam film-film kesukaanku. Aku membayangkan sebuah istana, taman dan segala kemeriahannya. Aku membayangkan para penghuninya, robot-robotnya. Aku membayangkan permainan-permainan yang biasa kumainkan bersama kawan-kawan kecilku. Anak-anak di sana pasti baik hati dan tidak jahil. Aku membayangkan makanan yang serba enak, buah-buahan yang bertaburan. Aku membayangkan udara sejuk dan mentari tak jahat menyengat.

“Banyak nggak sih orang di planet kahyangan itu, Bu?”

“Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana.”

“Aku ingin ke sana, Bu.”

“Ya, Ibu selalu berdoa untukmu, supaya kelak kamu bisa ke sana.”

“Doa itu semacam piring terbang yang bisa membawaku ke planet surga, ya?”

“Bukan.”

“Kata Ibu tadi, hanya orang baik yang akan bisa ke sana. Kalau doa pun bisa mengantarkan aku ke sana, lantas kebaikan itu untuk apa, Bu?”

“Kelak kamu akan mengerti, untuk apa doa dan untuk apa pula kebaikan.”

“Sekarang aja, Bu, jangan kelak,” rengekku.

Waktu itu kupikir, apa sih susahnya memberiku pengertian. Aku sudah jenuh dengan janji-janji orang dewasa. Dulu ketika kakak-kakakku pergi berenang, aku tidak diajak. Kemudian ayah membujukku dengan seutas janji yang tak pernah terwujud. Aku dikibulin. Kenapa orang dewasa justru mengajariku berjanji palsu?

“Kahyangan itu alangkah indahnya, Nak.”

“Tapi kok di planet kahyangan itu ada perang-perang, Bu?” serobotku lagi. “Apa memang orang baik itu harus berperang dulu demi mempertahankan planet kahyangan itu, Bu?”

Ibuku tidak menyahut. Soalnya ibuku tidak suka menonton film-film kesukaanku. Ibuku lebih suka menonton acara Mana Suka Siaran Niaga- yang isinya barang-barang belanjaan melulu.

***

Aku tersadar dari kisah usang ibuku tatkala aku teringat kembali pada arah ayunan kakiku. Entah mengapa, ketika kini aku diperkenankan untuk melihat pelangi lagi, lagi dan entah hingga kapan lagi, betapa aku mengkhayalkan berada di planet kahyangan, tempat yang penuh kedamaian itu seperti kisah ibuku dulu. Aku ingin ke sana dalam keabadian, bukan kefanaan bumi yang menyesakkan dadaku ini.

“Jalan menuju tempat yang penuh keindahan dan kedamaian hati yang abadi?” aku bertanya sendiri. “Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Begitukah?”

Pertanyaan itu mendadak buyar sewaktu kudengar suara sebuah mobil bakal melintas. Aku memperhatikan jalan sekitarku, apakah ada daerah genangan air. Aku harus menghindari batas genangan air, agar tidak kecipratan. Kemudian kulirik mobil itu. Tampak pengendara dan penumpangnya adalah keluarga. Ada bapak-ibu, nenek-kakek dan anak-anak. Sementara suara unggas bersahutan di antara pepohonan sekelilingku.

“Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Suci. Sebab, kahyangan adalah suci. Begitukah?”

Tiba-tiba keraguan mengepung diriku. Aku mulai ragu, apakah aku sanggup meneruskan perjalananku menuju rumah mantan gadisku itu. Dari relung hatiku perlahan-lahan muncul semacam rambu-rambu. “Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana,” kata-kata ibuku yang mendadak terngiang-ngiang kembali.

Realitas masa lalu bukan berarti bisa kupakai untuk menyingkirkan realitas masa kini. Dulu dia adalah pacarku, tetapi cincin kawin dilingkarkan di batang jemari manisnya oleh pria lain. Aku tak berkutik. Kami tak punya ikatan apa-apa. Kami tak punya komitmen apa-apa. Aku harus terus-menerus menyadari itu. Aku tidak boleh meresahkan keharmonisan keluarga mereka, sebagaimana ibuku tak pernah ribut kecil dengan mendiang ayah menyangkut masa lalu. Tapi aku masih sangat mencintainya.

Daun-daun renta berguguran diterpa angin basah. Aku berhenti sejenak. Keraguan telah menghentikan langkahku. Aku memandang sekitarku bagaikan tersadar dari mimpi buruk. Ya, mimpi buruk. Kerinduanku yang telah terkubur, tiba-tiba bangkit, dan hendak menghasut perasaan dan akal sehatku. Masa lalu rupa-rupanya hendak menyeretku dan akan menyesahkanku ke dalam kehidupan yang bukan lagi milikku.

Walah, kenapa kesepian dan kerinduan semu ini telah menyesatkanku ke masa lalu? Waduh, celaka sekali kalau aku tak segera mengendalikan emosi dan pikiranku ini!

Sungguh aku kuatir jika pertemuan itu nantinya justru hanya sandiwara lucu sebabak tapi sanggup menyayat luka lama bahkan kembali melukai aku dan dia. Betapa kurasa konyol sekali. Sia-sia tapi malah bisa menjadi musibah berikutnya. Aku tidak ingin diriku terjebak romantisme usang yang sia-sia. Aku tidak mau kesia-siaan itu menciptakan pelangi semu yang sudah bukan milikku. Apa hebatnya lagi jika lantas dituduh sebagai perusak suasana surga dunia yang telah terbina dalam istana cinta orang.

Tidak. Aku tidak mau merampok surga itu. Aku tidak mau menjajah kahyangan itu. Perempuan itu harus menikmati hidup fananya sendiri dengan kebahagiaan surgawi yang sanggup dinikmatinya bersama keluarga barunya. Mungkin pelangi selalu ada di rumah mereka, menjadi kahyangan itu. Itu milik mereka.

Aku membelok ketika sampai di sebuah pertigaan. Seketika sore itu juga aku mengurungkan keinginanku menengoknya. Aku belum siap berjumpa dengan dia sekeluarga. Orang-orang di sekitarku tak peduli padaku; orang asing.

Ah, biarlah semua yang terjadi tetap seperti adanya di masa lalu, pikirku.

Sudah cukuplah di masa lalu aku berada pada waktu dan tempat yang keliru. Setelah semua terjadi dulu, aku tidak ingin melintasi jalan menuju tempat itu lagi. Sekarang bukan waktunya untuk mengutak-atik soal kesalahan. Aku tahu pasti bahwa tidak akan ada kedamaian di sana bila luka masa lampau kubawa serta ke masa kini.

“Hanya orang-orang yang hidupnya baik yang akan bisa ke sana,” kata ibuku yang sangat kuingat. Orang yang hidupnya baik, bukan penuh lukalaralukalama masa lampau. Aku tidak tengah berada di masa lampau. Aku sedang menuju masa-masa di depanku.

Plak! Kutendang kencang-kencang sepotong ranting patah di tepi jalan yang tengah kulalui, seolah ingin kutendang jauh-jauh ‘luka’ itu. Sementara kesejukan mendaki tangga-tangga kedinginan, menembus pakaianku dan mulai menjamah pori-poriku. Aku kian memeluk diriku sendiri supaya kehangatanku dapat merata dan mengusir jari-jari dingin yang berusaha mengusap pori-pori tubuhku melalui sela-sela jaketku.

Sekarang aku tahu, ke mana aku harus melangkah di antara sisa-sisa titik-titik gerimis yang mengantarkan langkahku kembali menuju sebuah halte. Seorang pria sedang duduk santai sambil membaca koran.

“Permisi, Mas,” sapaku pelan, “saya mau nanya.”

Pria tersebut meresponku dengan menurunkan korannya, kemudian menatapku seraya tersenyum.

“Kalau ke terminal, naik angkot yang mana, ya, Mas?”

“Naik yang ini aja, Mas,” jawabnya dengan langsung melihat ke samping, ke arah jalan. Kebetulan sebuah angkot terlihat hendak menuju halte.

“Terima kasih, Mas,” kataku sembari turun dari halte dan melambai sebagai isyarat kepada sopir angkot bahwa aku mau menumpang angkotnya.

“Ya, kembali kasih.”

Aku segera naik angkot itu, tapi orang tadi tidak.

Di dalam angkot ini aku terus teringat pada ibuku di Bekasi dan beberapa saudaraku yang masih tinggal dengan beliau. Tiga bulan aku belum mudik, semenjak aku pindah bekerja di Madiun. Aku ingin mengunjungi ibuku selagi mungkin ada pula pelangi singgah di sana. Paling tidak, di sana sudah menunggu keponakan-keponakanku yang lucu dan, bagiku, cukup mewarnai kegamanganku.

Mentari perlahan muncul di antara gumpalan-gumpalan awan. Cahaya tipisnya menembus jendela angkot dan mengusap-usap pipi kasarku. Hangatnya sehangat jemari ibuku yang selalu membelai pipiku seraya mendongeng tentang pelangi, “Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang bernama kahyangan.”

*******
Untuk seorang kawan, R. Taufan Rahardian

[cerpen ini dimuat di situs cybersastra.net, 9 Mei 2003, kemudian di harian Sinar Harapan, 7 Juni 2003]

*****

Komentar From: Asvega To:Sent:Saturday, May 24, 2003 7:27 PM

Cerpen Tempat Damai diatas Pelangi karya Agustinus wahyonno. Bahasanya lumayan bagus , " Memilin jarum-jarum cair yang tak mengenal musim".

Penyelesaian cerita agak nggak berguna, kalo menurutku. Mengenai angkot dan orang duduk sambil mengucapkan, "Kembali kasih". Nggak usah pake itu mungkin lebih bermakna.

Pas flashback juga, agak panjang. Tapi cukup dalam dan bahasa juga bagus, tolong "lukalalulukalama" dipisah. Orang nggak mau baca tulisan aneh gitu.

[Asvega adalah puteri Medy Lukito]

*******

Cerpen telah matang untuk antologi cerpen "Penerbangan Dini"

TEMPAT DAMAI DI ATAS PELANGI

Usai kunjungan khusus ke sebuah pabrik kaos oblong di Tangerang waktu lalu, kusempatkan diri singgah ke Bogor. Nyaris lima tahun aku tidak mengunjungi Kota Hujan ini, semenjak aku tidak lagi terlibat cinta dengan “seseorang”. Ya, hampir lima tahun, terhitung sejak kami memutuskan tali cinta yang, bagiku, percuma. Akhirnya kami sepakat berpisah dan bebas menentukan sendiri pilihan atas jalan-jalan kami.

“Mantan gadismu itu sudah menikah, Noy,” tutur kawanku beberapa waktu lalu.

“Lho, kapan?”

“Beberapa bulan setelah kalian putus. Mungkin gara-gara dia kecewa pada dirimu yang hanya suka pacaran tanpa pernah sudi menikahinya.”

“Ah, kau terlalu berprasangka.”

Mungkin benar, tampaknya aku lebih berani berpacaran saja ketimbang menikah. Tanteku sendiri pernah mencibir, “Kamu itu nggak berani kawin aja.” Aku malu sekali dibilang begitu. Tapi, jujur, aku memang takut. Sebab aku masih takut, ragu dan bimbang untuk memulai sebuah kehidupan baru yang disebut rumah tangga, keluarga baru. Aku takut kehilangan kebebasanku. Hal itu berlanjut hingga usiaku melewati 30 tahun – tapi sebagian orang bilang 30 tahun belum terlalu tua. Ketika kini aku berani, justru belum kusiapkan gadis lainnya.

Betapa kini aku kembali ke kota yang telah sedikit-banyak memberiku kenangan. Masih seperti dulu, saban aku sampai, gerimis selalu menyambut kehadiranku. Itulah keramahannya hingga kini tetap terasa. Aku suka sekali. Aku selalu ingin segera bertemu dengannya. Menyentuhnya. Memilin jarum-jarum cair yang tak pernah mengenal musim. Dia akan merengkuhku dengan dekapan basahnya. Kebasahan yang menghangatkan pertemuan yang membuatku senantiasa rindu pada Bogor.

Tapi itu hanya kerinduan pada hujannya, pada sesuatu yang tak akan pernah menantangku “nikahi aku kalo emang kamu berani”.

Hari ini, seingatku, aku belum membuat janji untuk bertemu “seseorang” alias gadis yang pernah selama bertahun-tahun bersemayam dalam hatiku itu. Kebetulan aku pun tak tahu berapa nomor HP-nya dan alamat emailnya. Berarti, aku bisa memberi kejutan padanya. Ya, itu keinginanku. Paling tidak, aku bisa menengoknya. Tidak lebih, dan memang aku tidak punya maksud-maksud mengusut benang cinta yang telah lama kusut, terputus, hanyut. Yah, meskipun aku masih sangat mencintainya sampai detik ini. Mencintainya, karena dialah cinta pertama saya yang paling menggebu-gebu.

Benarkah aku tak merindukannya lagi?

Kendaraan-kendaraan di sekitarku tetap melaju, menembus guyuran gerimis. Mereka terbiasa begitu. Sementara sembari berlindung di halte, kurapatkan jaketku demi menolak sergapan dingin nan basah. Sebab, aku hanya suka dingin tanpa dicampuri basah. Dan, kubiarkan pertanyaan seputar “seseorang” itu merambati jiwaku.

Ehm, mungkin anak-anaknya sudah dua atau bahkan lebih. Mungkin rumahnya sebesar istana mungil yang asri dan penuh kehangatan. Mungkin suaminya tampan, berwibawa dan kaya raya. Mungkin seorang direktur sebuah perusahaan termasyhur.

Ya, dia memang seorang gadis yang beruntung, dan suaminya justru lebih beruntung lagi. Di dunia ini, pria itulah yang paling berbahagia, karena memperoleh istri yang sebaik dia. Dulu aku ingin seberuntung suaminya kini. Dulu aku ingin bisa memegang erat-erat gadis itu selamanya. Tapi dasar memang bukan keberuntunganku.

“Ah!” desahku pendek. Ada setumpuk sesal menindih batinku.

Cukup lama kunantikan gerimis reda. Pun kendati reda, sesaat saja akan kembali mencurahkan kebasahannya. Kupikir, tak mengapa. Inilah sebabnya kenapa disebut Kota Hujan. Apalagi sewaktu kutengok langit lapang terbentang dengan bongkahan-bongkahan mendung melintas. Aku berjalan kaki diiringi aroma tanah basah kota ini. Sejuk.

Sekitar separo jalan menuju ke rumah “seseorang” itu mendadak kulihat pelangi menukik. Pita sutera berwarna-warni itu melengkung, cembung membentuk busur dan kedua ujungnya menjejak di kaki langit dengan jarak renggang yang sukar kuhitung.

Waow, indah nian, guman takjubku.

Seketika aku teringat masa kecilku, saat saya pertama kali melihatnya, saat pertama kali ibuku berkisah tentang pelangi. Waktu itu saya bersama ibu sedang duduk di teras depan. Barangkali hanya pikiranku yang saat itu tiba-tiba terhanyut menuju masa lampau melalui pelangi.

***

“Pelangi itu adalah selendang para bidadari, yang digunakan sebagai jembatan untuk turun ke bumi,” cerita ibuku dulu.

“Bidadari itu siapa, Bu?”

“Mereka adalah putri-putri kahyangan yang cantik jelita tiada tara.”

“Cantik seperti Ibu?”

Ibuku hanya tersenyum. Aku pun tersenyum. Tapi senyum ibuku manis sekali.

“Kenapa selendang itu nggak basah, padahal ‘kan habis kena air hujan? Terus, kenapa cuma munculnya sehabis hujan, Bu? Kok nggak hari selain hujan?”

Ibuku tidak menjawab. Entah kenapa. Atau, barangkali saja ibu kebingungan mencari kata untuk membuka pintu pengertianku. Untuk menerangkan dengan dalil-dalil ilmu alam, mana mungkin di seusiaku yang belum genap lima tahun itu aku sanggup memahaminya.

“Jumlah selendang itu,” lanjut ibuku tanpa hirau pada pertanyaanku tadi dan aku pun tidak peduli pada pertanyaanku sendiri, “ada tujuh dengan warna berbeda. Selendang itu tersusun menjadi jembatan angkasa. Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang dipenuhi jalan permata, tanah-tanah selembut sutera, rumah-rumah mirip istana, sungai susu, telaga madu, tanpa matahari yang menggigit kulit dan tanpa bulan yang menyeramkan, langit berwana-warni, dan para penghuninya tidak suka marah-marah atau berkelahi. Indah dan penuh kedamaian. Tempat itu disebut kahyangan.”

“Kahyangan itu planet apa, Bu?” tanyaku seolah terbawa keindahan warna pelangi yang menjelma sebagai selendang serta kehebatannya menjadi jembatan menuju tempat bernama kahyangan yang, kata ibuku tadi, indah dan penuh kedamaian.

Lagi-lagi ibuku tersenyum. Ibuku tahu bahwa aku cuma tahu kisah-kisah tentang planet-planet yang sering muncul dalam film-film kesukaanku.

“Kahyangan itu surga,” jawab beliau seraya mencengkram pipiku dengan gemasnya. Aku mengaduh, karena memang sakit. Sakit-sakit menyenangkan, karena cengkraman itu adalah bahasa kasih tersendiri. Aku hafal sentuhan kasih ibuku.

Waktu itu kupikir, salah satu planet yang sering muncul dalam film-film adalah kahyangan. Pantas saja orang-orang bumi berlomba-lomba mengungsi ke planet itu, berperang demi planet, dan bahagia di planet itu. Pasti planet itulah kahyangan, seperti yang disebutkan ibuku. Tak salah lagi, pasti planet seperti dalam film-film itu.

Hari-hari berikutnya, setiap habis hujan, aku selalu mencari ibuku. Bertanya lagi tentang selendang dan kahyangan. Dan ibuku selalu memberi waktu untuk berkisah. Entah dari mana ibuku memperoleh bahan-bahannya. Bagiku, ibuku adalah guru sejatiku, yang mengajarkan apa saja untuk memuaskan kehausan pengetahuan kecilku.

Aku suka sekali dengan dunia atas langit, dunia kahyangan ciptaan ibuku itu, atau planet kahyangan seperti kisah-kisah dalam film-film kesukaanku. Aku membayangkan sebuah istana, taman dan segala kemeriahannya. Aku membayangkan para penghuninya, robot-robotnya. Aku membayangkan permainan-permainan yang biasa kumainkan bersama kawan-kawan kecilku. Anak-anak di sana pasti baik hati dan tidak jahil. Aku membayangkan makanan yang serba enak, buah-buahan yang bertaburan. Aku membayangkan udara sejuk dan mentari tak jahat menyengat.

“Banyak nggak sih orang di planet kahyangan itu, Bu?”

“Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana.”

“Aku ingin ke sana, Bu.”

“Ya, Ibu selalu berdoa untukmu, supaya kelak kamu bisa ke sana.”

“Doa itu semacam piring terbang yang bisa membawaku ke planet surga, ya?”

“Bukan.”

“Kata Ibu tadi, hanya orang baik yang akan bisa ke sana. Kalau doa pun bisa mengantarkan aku ke sana, lantas kebaikan itu untuk apa, Bu?”

“Kelak kamu akan mengerti, untuk apa doa dan untuk apa pula kebaikan.”

“Sekarang aja, Bu, jangan kelak,” rengekku.

Waktu itu kupikir, apa sih susahnya memberiku pengertian. Aku sudah jenuh dengan janji-janji orang dewasa. Dulu ketika kakak-kakakku pergi berenang, aku tidak diajak. Kemudian ayah membujukku dengan seutas janji yang tak pernah terwujud. Aku dikibulin. Kenapa orang dewasa justru mengajariku berjanji palsu?

“Kahyangan itu alangkah indahnya, Nak.”

“Tapi kok di planet kahyangan itu ada perang-perang, Bu?” serobotku lagi. “Apa memang orang baik itu harus berperang dulu demi mempertahankan planet kahyangan itu, Bu?”

Ibuku tidak menyahut. Soalnya ibuku tidak suka menonton film-film kesukaanku. Ibuku lebih suka menonton acara Mana Suka Siaran Niaga yang isinya barang-barang belanjaan melulu.

***

Aku tersadar dari kisah usang ibuku tatkala aku teringat kembali pada arah ayunan kakiku. Entah mengapa, ketika kini aku diperkenankan untuk melihat pelangi lagi, lagi dan entah hingga kapan lagi, betapa aku mengkhayalkan berada di planet kahyangan, tempat yang penuh kedamaian itu seperti kisah ibuku dulu. Aku ingin ke sana dalam keabadian, bukan kefanaan bumi yang menyesakkan dadaku ini.

“Jalan menuju tempat yang penuh keindahan dan kedamaian hati yang abadi?” aku bertanya sendiri. “Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Begitukah?”

Pertanyaan itu mendadak buyar sewaktu kudengar suara sebuah mobil bakal melintas. Aku memperhatikan jalan sekitarku, apakah ada daerah genangan air. Aku harus menghindari batas genangan air, agar tidak kecipratan. Kemudian kulirik mobil itu. Tampak pengendara dan penumpangnya adalah keluarga. Ada bapak-ibu, nenek-kakek dan anak-anak. Sementara suara unggas bersahutan di antara pepohonan sekelilingku.

“Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Suci. Sebab, kahyangan adalah suci. Begitukah?”

Tiba-tiba keraguan mengepung diriku. Aku mulai ragu, apakah aku sanggup meneruskan perjalananku menuju rumah mantan gadisku itu. Dari relung hatiku perlahan-lahan muncul semacam rambu-rambu. “Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana,” kata-kata ibuku yang mendadak terngiang-ngiang kembali.

Realitas masa lalu bukan berarti bisa kupakai untuk menyingkirkan realitas masa kini. Dulu dia adalah pacarku, tetapi cincin kawin dilingkarkan di batang jemari manisnya oleh pria lain. Aku tak berkutik. Kami tak punya ikatan apa-apa. Kami tak punya komitmen apa-apa. Aku harus terus-menerus menyadari itu. Aku tidak boleh meresahkan keharmonisan keluarga mereka, sebagaimana ibuku tak pernah ribut kecil dengan mendiang ayah menyangkut masa lalu. Tapi aku masih sangat mencintainya.

Daun-daun renta berguguran diterpa angin basah. Aku berhenti sejenak. Keraguan telah menghentikan langkahku. Aku memandang sekitarku bagaikan tersadar dari mimpi buruk. Ya, mimpi buruk. Kerinduanku yang telah terkubur, tiba-tiba bangkit, dan hendak menghasut perasaan dan akal sehatku. Masa lalu rupa-rupanya hendak menyeretku dan akan menyesahkanku ke dalam kehidupan yang bukan lagi milikku.

Walah, kenapa kesepian dan kerinduan semu ini telah menyesatkanku ke masa lalu? Waduh, celaka sekali kalau aku tak segera mengendalikan emosi dan pikiranku ini!

Sungguh aku kuatir jika pertemuan itu nantinya justru hanya sandiwara lucu sebabak tapi sanggup menyayat luka lama bahkan kembali melukai aku dan dia. Betapa kurasa konyol sekali. Sia-sia tapi malah bisa menjadi musibah berikutnya. Aku tidak ingin diriku terjebak romantisme usang yang sia-sia. Aku tidak mau kesia-siaan itu menciptakan pelangi semu yang sudah bukan milikku. Apa hebatnya lagi jika lantas dituduh sebagai perusak suasana surga dunia yang telah terbina dalam istana cinta orang.

Tidak. Aku tidak mau merampok surga itu. Aku tidak mau menjajah kahyangan itu. Perempuan itu harus menikmati hidup fananya sendiri dengan kebahagiaan surgawi yang sanggup dinikmatinya bersama keluarga barunya. Mungkin pelangi selalu ada di rumah mereka, menjadi kahyangan itu. Itu milik mereka.

Aku membelok ketika sampai di sebuah pertigaan. Seketika sore itu juga aku mengurungkan keinginanku menengoknya. Aku belum siap berjumpa dengan dia sekeluarga. Orang-orang di sekitarku tak peduli padaku; orang asing.

Ah, biarlah semua yang terjadi tetap seperti adanya di masa lalu, pikirku.

Sudah cukuplah di masa lalu aku berada pada waktu dan tempat yang keliru. Setelah semua terjadi dulu, aku tidak ingin melintasi jalan menuju tempat itu lagi. Sekarang bukan waktunya untuk mengutak-atik soal kesalahan. Aku tahu pasti bahwa tidak akan ada kedamaian di sana bila luka masa lampau kubawa serta ke masa kini.

“Hanya orang-orang yang hidupnya baik yang akan bisa ke sana,” kata ibuku yang sangat kuingat. Orang yang hidupnya baik, bukan penuh lukalaralukalama masa lampau. Aku tidak tengah berada di masa lampau. Aku sedang menuju masa-masa di depanku.

Plak! Kutendang kencang-kencang sepotong ranting patah di tepi jalan yang tengah kulalui, seolah ingin kutendang jauh-jauh ‘luka’ itu. Sementara kesejukan mendaki tangga-tangga kedinginan, menembus pakaianku dan mulai menjamah pori-poriku. Aku kian memeluk diriku sendiri supaya kehangatanku dapat merata dan mengusir jari-jari dingin yang berusaha mengusap pori-pori tubuhku melalui sela-sela jaketku.

Sekarang aku tahu, ke mana aku harus melangkah di antara sisa-sisa titik-titik gerimis yang mengantarkan langkahku kembali menuju sebuah halte. Seorang pria sedang duduk santai sambil membaca koran.

“Permisi, Mas,” sapaku pelan, “saya mau nanya.”

Pria tersebut meresponku dengan menurunkan korannya, kemudian menatapku seraya tersenyum.

“Kalau ke terminal, naik angkot yang mana, ya, Mas?”

“Naik yang ini aja, Mas,” jawabnya dengan langsung melihat ke samping, ke arah jalan. Kebetulan sebuah angkot terlihat hendak menuju halte.

“Terima kasih, Mas,” kataku sembari turun dari halte dan melambai sebagai isyarat kepada sopir angkot bahwa aku mau menumpang angkotnya.

“Ya.”

Aku segera naik angkot itu, tapi orang tadi tidak.

Di dalam angkot ini aku terus teringat pada ibuku di Bekasi dan beberapa saudaraku yang masih tinggal dengan beliau. Tiga bulan aku belum mudik, semenjak aku pindah bekerja di Madiun. Aku ingin mengunjungi ibuku selagi mungkin ada pula pelangi singgah di sana. Paling tidak, di sana sudah menunggu keponakan-keponakanku yang lucu dan, bagiku, cukup mewarnai kegamanganku.

Mentari perlahan muncul di antara gumpalan-gumpalan awan. Cahaya tipisnya menembus jendela angkot dan mengusap-usap pipi kasarku. Hangatnya sehangat jemari ibuku yang selalu membelai pipiku seraya mendongeng tentang pelangi, “Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang bernama kahyangan.”

*******
Untuk seorang kawan, R. Taufan Rahardian




[ agustinus 2:05 PM [+] ]
KOTA TERHILANG

Bulan bisu tergantung bersama bintang-gemintang di langit kelam. Itulah induk malam yang sedang mengasuh anak-anaknya di padang lapang tak berujung. Sementara binatang malam ikut berpesta, menikmati malam hingga larut dalam kesunyian.

Aku masih berasyik-masyuk dengan perangkat peradaban, berselancar memasuki samudera maya. Sampai suatu pagi aku tiba di sebuah kota, disambut sayup-sayup irama petikan gambus. Mengalun merdu, mengantar aku ke sebuah penginapan kelas melati alias murah-meriah. Surya pagi agak meninggi setelah puas menghisap habis embun pagi di pucuk-pucuk rerumputan taman kota.

Sejak tiba di kota ajaib ini aku belum siap bekal-bekal harian seperti handuk, sikat gigi, odol dan lain-lain. Bekal sandangan seadanya tidak terasa menjadi beban. Tapi aku tidak tahu seluk-beluk kota ini. Petanya pun aku tak punya, karena memang tidak pernah terjual di mana-mana. Tak salah jika kemudian kunamai kota terhilang. Maka kusewa sepeda motor milik pengelola penginapan, agar deburan jiwaku dapat segera reda ditelan pesona kota. Kuajak remaja pria bernama Oji supaya bersedia memandu perjalananku.

Kota terhilang ini lumayan megah. Gedung-gedung gagah menjulang, seakan hendak menjamah rombongan awan di langit. Aku sempat terkagum-kagum. Dengan tegasnya simbol-simbol kota tersebut, kubayangkan kemakmuran dan kemajuan masyarakatnya. Pantas saja kota ini sejak dulu diorientasikan sebagai kota pariwisata. Betapa sayang jika kota ini tidak terpampang besar-besar pada peta nasional.

“Mas, itu bukan gedung biasa,” ujar Oji.

“Maksudmu?”

“Itu hotel-hotel khusus burung walet,”

Hotel burung walet! Unggas penghasil liur berharga jutaan rupiah itu, melebihi harga para wisatawan yang datang pada musim-musim tertentu. Tentu saja bisnis air liur lebih menggiurkan, menjanjikan laba berlipat-lipat.

Kami menuju satu-satunya toko swalayan di kota ini. Toko swalayan yang acapkali disamakan sebagai simbol atau citra kemajuan kota modern ini ternyata benar-benar dimanfaatkan oleh penduduk kota serta sekitarnya, berbeda dengan toko swalayan di kota-kota yang pernah kukunjungi. Ah, inikah ungkapan budaya kagetan itu?

Mungkin justru aku yang tidak peka pada budaya masyarakat kota ini. Setahuku, toko swalayan merupakan sarana perbelanjaan modern, simbol dan citra modernitas daerah. Tapi pengunjung toko swalayan kota ini tak ubahnya pengunjung toko tradisional. Beberapa pengunjung dengan santai berpakaian serba lusuh. Mungkin mereka baru
pulang dari perburuan ikan di laut atau dari berkebun.

Oji mengajakku menyisiri beberapa sudut kota ini. Kulihat beberapa anak seusia sekolah dasar sudah biasa menghisap rokok. Preman kecil berserakan, berani malak orang. Aparat diam, berkarat menikmati gaji serta uang kolusi. Judi buntut, togel atau toto gelap pun bertaburan di sembarang tempat. Memang, impian kaya mendadak selalu mencumbui khayalan siapapun.

“Disamping tingkat kemalasan dan khayalan pemuda kota ini setinggi langit,” jelas Oji, “togel bisa tumbuh subur karena jaminan keamanan dari aparat yang dibayar sekitar dua hingga tiga ratus juta per bulan.”

“Angka kejahatan pencurian sepeda motor pun tinggi akibat ketidakpedulian aparat. Aparat lebih menomorsatukan pengamanan bisnis nomor buntut,” tambahnya.

Inikah gelar barunya sebagai kota pendidikan? Ah, aneh, gumanku.

Selanjutnya, tidak jauh dari kawasan perniagaan kota itu dan di sekitar rumah penduduk, aku melihat kegiatan masyarakat kota mencari nafkah yang akhir-akhir ini marak diberitakan. Apa lagi kalau bukan kegiatan mendulang harta tambang di halaman rumah sendiri yang dilintasi aliran parit kecil.

Orang tua beserta anak-anak yang masih berseragam sekolah terlihat asyik mendulang harta alam. Memang mereka bisa mendulang bahan tambang kelas 1-2 yang harganya tidak semahal kelas utama, 1-4. Namun mereka bisa mengeruk beberapa puluh ribu rupiah sehari. Setelah itu mereka akan menjualnya kepada penadah gelap, yang berani membeli dengan harga lebih tinggi daripada penadah resmi. Kalau kelas 1-4 dihargai 16 ribu rupiah per kilo oleh penadah resmi, sedangkan penadah gelap berani membeli dengan harga sekitar 19 ribu rupiah. Pantas saja penyelundupan barang seperti itu selalu menjadi berita langganan harian di koran lokal.

Perjalanan menelusuri kota terhenti menjelang seperempat sore ini ketika telepon genggam Oji berbunyi. Dari pesan yang tercetak di layar teleponnya, Oji diminta segera pulang. Ada keperluan keluarga. Maka kami memutuskan kembali ke penginapan saja. Dan sejenak kami melewati persimpangan sewaktu lampu merah menyala.

“Berhenti, Ji!” seruku karena gelagat Oji akan menerabas lampu merah.

“Tidak usah repot-repot, Mas,” tanggap Oji, “nggak ada polisi kok.”

Benar kata Oji. Orang-orang pun tidak peduli dengan warna-warna lampu yang menyala. Aku menoleh ke belakang, melihat ke pos jaga polisi lalu lintas di simpang itu. Memang tidak ada polisi, kecuali anak-anak sekolah nongkrong sambil mencorat-coret dinding pos tersebut. Entah ke mana lenyapnya atau entah punya proyek apa lagi para polisi lalu lintas yang seharusnya berjaga di sana.

Seingatku, sepanjang perjalanan itu, aku hanya menemukan dua lampu rambu-rambu lalu lintas di kota yang sering menjamu wisatawan dalam negeri dan luar negeri ini. Pertama, tadi, simpang kantor pos kota. Itu pun mati entah sejak kapan. Dan yang kedua, yang barusan kami langgar, simpang terusan jalur telkom. Biarpun hidup normal, fungsinya hanya sebatas simbol kota. Tidak berfungsi semestinya.

Di atas lajunya kendaraan, Oji berkisah sedikit tentang kecelakaan di simpang empat itu. Korban adalah temannya sendiri. Lebih celakanya, kata Oji, sampai di rumah sakit dokternya tidak ada, padahal kawannya betul-betul gawat berat. Sebentar aku bisa membayangkan, bagaimana jadinya bila kesemrawutan lalu lintas dan kepunahan aparat lalu lintas dibarengi oleh kelangkaan dokter.

Beruntung aku menjelajahi kota ini dengan Oji, kata batinku. Oji, penduduk asli kota terhilang ini, memang bukan jenis anak muda rumahan, sehingga dia kenal baik setiap jengkal kota. Selama lebih seperempat hari Oji memanduku, aku dapat menilainya.

Malam harinya giliran Oji mengajakku melanjutkan penjelajahan kota. Dia menawarkan beberapa paket jalan-jalan malam, yaitu ke pusat jajanan malam rakyat yang terletak di dekat terminal kota, lalu ke diskotik atau arena bilyar di hotel pinggir pantai, atau berburu kemesuman di pinggiran kota.

Penjelajahan malam kami mulai dari pusat jajanan malam rakyat. Di sana tenda-tenda terbentang mirip bunga-bunga jalanan yang pernah aku renungi. Aku menikmati sajian khas menu lokal, meski beberapa lainnya mirip dengan sajian makanan umum semisal pisang goreng dan tahu-tempe goreng. Di sela-sela menikmati makanan malam itu, kami melihat jual-beli pil ektasi dilakukan secara terbuka, blak-blakan. Beberapa aparat yang masih muda pun sedang mabuk pil laknat lainnya di sudut tenda.

“Ji, apa bener sih kota ini bergelar kota pendidikan?” bisikku pada Oji.

“Nggak tahu, Mas, apakah kota ini pantas menyandang gelar kota pendidikan, kota pariwisata, ataukah kota industri,” sahut Oji malas-malasan, “menurutku, kota ini lebih pantas menyandang predikat kota brengsek sebrengsek-brengseknya kota, Mas.”

“Kota brengsek?” aku terkejut.

“Ya, kota brengsek!” sebut Oji bernada makian. “Peraturan yang brengsek, hukum-hukum yang brengsek, aparat yang brengsek, penduduk yang brengsek, norma yang brengsek, tokoh masyarakat yang brengsek, dan agama yang tak lebih hanya KTP alias kata tanpa perbuatan. Judi, mabuk-mabukan, obat-obat bius, pil laknat, pencurian, penyelundupan, premanisme dan kriminalitas yang mengerikan, begitu marak di sini. Namun tokoh penting masyarakat dan aparaturnya seolah dimabukkan oleh anggur kebusukan bersama!”

Tak berapa lama kami melanjutkan perbincangan ke taman kota. Oji kian menumpahkan segala kemuakannya pada kota terhilang ini. Aku kewalahan mendengar segala gemuruh gerutuan Oji. Kekecewaannya mengendap selama sekian puluh tahun tinggal di kota terhilang ini. Barangkali seluruh kebobrokan kota telah menyumpali dan melimbahi isi kepalanya, entah dari pengalamannya sendiri maupun dari sumbangan kisah-kisah resah kawan-kawannya yang tidak berani melapor karena ancaman preman, aparat yang mata duitan, warga yang sibuk menyelamatkan diri sendiri.

“Selama para aparat karatan yang keparat itu masih bercokol,” tukas Oji jengkel, “mustahil bangetlah mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, kesentosaan dan kenyamanan kota ini.”

“Betul, Ji,” tambahku, “perekonomian, perdagangan, pendidikan, kenyamanan dan keadilan jelas akan mandul bila tidak dibarengi jaminan keamanan.”
“Para juru bicara cuma lihai berteriak-teriak tentang masa depan kemakmuran dan peradaban. Kenyataannya, bisnis kejahatan semakin terorganisir semenjak pejabat dan aparat bersetubuh dengan penjahat. Payah nian orang-orang brengsek itu!” tandas Oji.

“Kenapa kamu sanggup bertahan menetap di kota seperti ini?”

“Cinta yang membuatku bertahan. Baik atau buruk kehidupan kota ini, aku terpanggil untuk tetap mencintainya. Aku terlahir di sini, dibesarkan di sini.”

“Tidak berkeinginan untuk merantau, pindah ke luar pulau dan membunuh semua kenangan pada tanah kelahiran, sebelum kebrengsekan membinasakanmu?” pancingku.

“Mas, cinta sejati bukanlah sekadar bunga-bunga kata yang kemudian kelopaknya gugur akibat kejahatan-kejahatan alam serta kebiadaban orang-orang. Cinta sejati butuh kesetiaan, agar dapat melewati ujian-ujian yang tidak main-main,”

“Tapi dengan situasi yang sangat mengerikan begini, apakah kesetiaanmu tidak lantas menjadi kesia-siaan belaka?” protesku.

“Memang kesetiaanku ini akan selalu diperhadapkan pada kesia-siaan, kebosanan bahkan kemuakan,” akunya. “Makanya, aku senantiasa memperbarui komitmen cintaku.”

“Dengan cara apa?” selidikku penasaran. Barangkali Oji mau menularkan kiatnya.

“Dengan cara merenungi dan mengingat kembali visi hidupku untuk hidup di kota ini. Juga aku bekerjasama dengan kawan-kawan yang mempunyai kesamaan cinta dan visi bagi perubahan kota ini, termasuk kawan-kawan yang bersekolah di perantauan,”

“Kan waktunya tidak secepat kilat, Ji? Apalagi kamu kelak akan berkeluarga,”

“Benar, Mas. Butuh bertahun-tahun. Butuh kesabaran dan kesetiaan yang sejati,”

“Berarti kesatuan cinta dan visi itulah pondasi hidupmu sehingga kamu betah bertahan sampai kelak mulut tanah ini melumat bulat-bulat raga fanamu?”

“Begitulah,” suara Oji pelan tapi tegas. Dia tetap berharap pada perubahan besar atas kota ini, sebagaimana arti cita-cita reformasi yang dikoar-koarkan banyak orang, termasuk oleh orang-orang brengsek, oleh pejabat brengsek serta oleh aparat brengsek.

Saat bulan melebarkan senyum gaibnya, kami memutuskan pulang ke penginapan. Mataku sudah berat untuk diajak melanjutkan kelayapan malam. Seharian penuh aku dan Oji menjelajahi kota terhilang ini. Letih sekali. Kupikir istirahat justru lebih baik.

Sesampainya di garasi penginapan, adiknya Oji menyambut kami dengan berita buruk. “Bang Oji, tadi motorku dirampok orang di jalan. Mereka memakai tali, dipasang melintang dan ditarik waktu aku melintas. Aku jatuh, langsung mereka mengeroyokku. Terus, mereka merampok motorku, STNK sekaligus dompetku. Ludes duitku. Untung aja aku tidak mati dibantai mereka,” adu adiknya Oji dengan muka babak-belur.

Di tempat itu memang sering terjadi perampokan sepeda motor. Sedangkan pihak aparat atau pemuda-pemuda sekitar situ tidak ada yang peduli. Barangkali kejahatan itu melibatkan pemuda setempat. Mungkin hanya persekongkolan dengan pemuda setempat, juga dengan aparat.

Ah, adiknya Oji ini masih saja bisa bilang “untung”, padahal sudah hancur-hancuran dan habis-habisan begitu. Atau memang selalu saja ada yang sanggup memetik keberuntungan selama tinggal di negara ini.

Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkanku. Sekejap kota terhilang lenyap, berganti kedatangan kawan-kawan di kosku. Mereka mau numpang nonton siaran langsung pertandingan sepakbola Liga Italia Seri A. Kuhentikan kegiatanku berselancar lewat perangkat peradaban bernama internet.

*******
(Kota Pelajar, 2001)

[sebelumnya, tanpa sepengetahuan penulis – dikarenakan oleh jauhnya jarak media massa dan tempat penulis berdomisili, cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 16 September 2001, lantas - karena penulis tidak tahu berita pemuatannya – diikutkan oleh penulis dalam Lomba Menulis Cerpen Sleman 2001 pada 10 September 2001 – lomba ditutup pada 30 September 2001, dan ternyata diperhitungkan sebagai “pemenang 5 besar” serta dimuat dalam antologi bersama “Bupati Pedro, Laki-laki Kota Rembulan”]

*******

Komentar-komentar

1. Sang Guru Sastra Denmas Marto, via email 14 September 2001

Pada KT, tidak ada karakter yang bulat. Sosok-sosok yang muncul sekadar lewat untuk menyuarakan komentarnya (atau komentarmu?) atas keadaan yang sekelilingnya. Tapi, siapa sebenarnya si Oji ini? Umur berapa? Kenapa ia bersikap demikian? Bagaimana sebenarnya kegundahan hatinya sendiri? Hidup toh bukan hanya terdiri atas komentar-komentar, ‘kan?

Berkaitan dengan komentar 2, cerpenmu jadi lebih mirip komentar sosial. Mirip kolomnya Pak Kayam di KR. Bedanya, Pak Kayam mendekatinya dengan humor; kamu cenderung elegi melankolis (waduh, istilah apa ini? Pokoknya, bernada sedih merataplah). Pak Kayam juga konsisten dengan tokoh-tokohnya. O, Pak Ageng itu gitu; Mister Rigen itu gini; dan si Tolo-tolo itu gicu! Komentar mereka pas dengan karakter mereka. Nah, sampeyan mau bikin apa? Kalau cerpen, yang jangan terlalu preachy (berkhotbah); show, don’t tell (perlihatkan, jangan cuma diomongin. Misalnya, daripada ngomongin soal judi, perlihatkan bagaimana suasana sebuah perjudian dan gambarkan bagaimana sosok si penjudinya).

Lalu KT, sebegitu pentingkah untuk menyembunyikan nama kota itu? Haruskah "terhilang" mesti berarti "terhilang" namanya? Paling tidak, sebutlah, misalnya, Kota J. Soalnya, cerpenmu ini ‘kan realis banget. Masa harta tambang itu pun tidak disebut namanya tambang apa? Pembukaan dan penutupannya (surfing internet) seperti bingkai yang nggak pas (lagi-lagi gejala misled: membaca judul dan pembukaannya [aline 3: "kota ajaib" – apa ajaibnya?], aku bersiap-siap untuk menghadapi cerpen surealis model "Natal di Kota Ningi"-nya Seno, e jebule...!).

Last but not least, sebuah nasihat umum: kalau mau buat sesuatu, lebih baik kita kuasai teori dasarnya dulu, baru kemudian seacara sadar melakukan penyimpangan-penyimpangan. Jangan asal-asalan tabrak sana-sini buat sesuatu yang aneh-aneh, lalu memproklamirkan, ini karya baru, advant grade! Kan nggak lucu kalau seorang pemotret dadakan secara nggak sengaja "menciptakan" sebuah foto abstrak gara-gara salah prosedur, lalu mengklaim karyanya sebagai masterpiece.

*) Denmas Marto hanyalah nama samaran. Dia jebolan IKIP Yogyakarta (kini UNY) jurusan Sastra Indonesia. Ketika masih sekolah dia memenangkan beberapa kali lomba puisi , dan beberapa puisi pernah masuk antologi puisi. Tulisannya pun sering dimuat di media massa, yakni di Harian SUARA PEMBARUAN dan Majalah BAHANA. Saat ini dia lebih sering menterjemahkan buku-buku rohani, yang beberapa telah diterbitkan oleh METANOIA Jakarta. Buku pertamanya, “Gagal Menjadi Garam”, diterbitkan oleh Yayasan Andi Offset, Yogyakarta, 2003. Dalam Lomba Menulis Cerpen Sleman 2001 itu pun dia mengirimkan satu saja karyanya, berjudul “Di Bawah Langit Kota” namun cerpen tersebut tidak masuk nominasi.

2. Yusuf Priyasudiarja *, via email 13 November 2001

Kekuatan cerpen Anda ada pada diksi yang kuat dan kedalaman pemaknaan cerita. Walau kisah itu barangkali diambil dari cerita di Bangka, namun nampaknya cukup relevan juga memotret atau mencerminkan carut marutnya kehidupan masyarakat di Yogya.

***
*) Yusup Priyasudiarja adalah salah seorang cerpenis yang karya Sketsa Wajah-nya masuk 10 nominator yang direkomendasikan ikut dalam antologi Bupati Pedro, Laki-Laki Kota Rembulan.

*******

Cerpen telah matang untuk antologi cerpen “Kota Terhilang”

KOTA TERHILANG

Bulan bisu tergantung bersama bintang-gemintang di langit kelam. Itulah induk malam yang sedang mengasuh anak-anaknya di padang lapang tak berujung. Sementara binatang malam ikut berpesta, menikmati malam hingga larut dalam kesunyian.

Aku masih berasyik-masyuk dengan perangkat peradaban, berselancar memasuki samudera maya. Sampai suatu pagi aku tiba di sebuah kota, disambut sayup-sayup irama petikan gambus. Mengalun merdu, mengantar aku ke sebuah penginapan kelas melati alias murah-meriah. Surya pagi agak meninggi setelah puas menghisap habis embun pagi di pucuk-pucuk rerumputan taman kota.

Sejak tiba di kota ajaib ini aku belum siap bekal-bekal harian seperti handuk, sikat gigi, odol dan lain-lain. Bekal sandangan seadanya tidak terasa menjadi beban. Tapi aku tidak tahu seluk-beluk kota ini. Petanya pun aku tak punya, karena memang tidak pernah terjual di mana-mana. Tak salah jika kemudian kunamai “kota terhilang”. Maka kusewa sepeda motor milik pengelola penginapan, agar deburan jiwaku dapat segera reda ditelan pesona kota. Kuajak remaja pria bernama Oji supaya bersedia memandu perjalananku.

Kota terhilang ini lumayan megah. Gedung-gedung gagah menjulang, seakan hendak menjamah rombongan awan di langit. Aku sempat terkagum-kagum. Dengan tegasnya simbol-simbol kota tersebut, kubayangkan kemakmuran dan kemajuan masyarakatnya. Pantas saja kota ini sejak dulu diorientasikan sebagai kota pariwisata. Betapa sayang jika kota ini tidak terpampang besar-besar pada peta nasional.

“Mas, itu bukan gedung biasa,” ujar Oji.

“Maksudmu?”

“Itu hotel-hotel khusus burung walet.”

Hotel burung walet! Unggas penghasil liur berharga jutaan rupiah itu, melebihi harga para wisatawan yang datang pada musim-musim tertentu. Tentu saja bisnis air liur lebih menggiurkan, menjanjikan laba berlipat-lipat.

Kami menuju satu-satunya toko swalayan di kota ini. Toko swalayan yang acapkali disamakan sebagai simbol atau citra kemajuan kota modern ini ternyata benar-benar dimanfaatkan oleh penduduk kota serta sekitarnya, berbeda dengan toko swalayan di kota-kota yang pernah kukunjungi. Ah, inikah ungkapan budaya kagetan itu?

Mungkin justru aku yang tidak peka pada budaya masyarakat kota ini. Setahuku, toko swalayan merupakan sarana perbelanjaan modern, simbol dan citra modernitas daerah. Tapi pengunjung toko swalayan kota ini tak ubahnya pengunjung toko tradisional. Beberapa pengunjung dengan santai berpakaian serba lusuh. Mungkin mereka baru pulang dari perburuan ikan di laut atau dari berkebun.

Oji mengajakku menyisiri beberapa sudut kota ini. Kulihat beberapa anak seusia sekolah dasar sudah biasa menghisap rokok. Preman kecil berserakan, berani malak orang. Aparat diam, berkarat menikmati gaji serta uang kolusi. Judi buntut, togel atau toto gelap pun bertaburan di sembarang tempat. Memang, impian kaya mendadak selalu mencumbui khayalan siapapun.

“Di samping tingkat kemalasan dan khayalan pemuda kota ini setinggi langit,” jelas Oji, “togel bisa tumbuh subur karena jaminan keamanan dari aparat yang dibayar sekitar dua hingga tiga ratus juta per bulan.”

“Angka kejahatan pencurian sepeda motor pun tinggi akibat ketidakpedulian aparat. Aparat lebih menomorsatukan pengamanan bisnis nomor buntut,” tambahnya.

Inikah gelar barunya sebagai kota pendidikan? Ah, aneh, gumanku.

Selanjutnya, tidak jauh dari kawasan perniagaan kota itu dan di sekitar rumah penduduk, aku melihat kegiatan masyarakat kota mencari nafkah yang akhir-akhir ini marak diberitakan. Apa lagi kalau bukan kegiatan mendulang harta tambang di halaman rumah sendiri yang dilintasi aliran parit kecil.

Orangtua beserta anak-anak yang masih berseragam sekolah terlihat asyik mendulang harta alam. Memang mereka bisa mendulang bahan tambang kelas 1-2 yang harganya tidak semahal kelas utama, 1-4. Namun mereka bisa mengeruk beberapa puluh ribu rupiah sehari. Setelah itu mereka akan menjualnya kepada penadah gelap, yang berani membeli dengan harga lebih tinggi daripada penadah resmi. Kalau kelas 1-4 dihargai 16 ribu rupiah per kilo oleh penadah resmi, sedangkan penadah gelap berani membeli dengan harga sekitar 19 ribu rupiah. Pantas saja penyelundupan barang seperti itu selalu menjadi berita langganan harian di koran lokal.

Perjalanan menelusuri kota terhenti menjelang seperempat sore ini ketika telepon genggam Oji berbunyi. Dari pesan yang tercetak di layar teleponnya, Oji diminta segera pulang. Ada keperluan keluarga. Maka kami memutuskan kembali ke penginapan saja. Dan sejenak kami melewati persimpangan sewaktu lampu merah menyala.

“Berhenti, Ji!” seruku karena gelagat Oji akan menerabas lampu merah.

“Nggak usah repot-repot, Mas,” tanggap Oji, “nggak ada polisi kok.”

Benar kata Oji. Orang-orang pun tidak peduli dengan warna-warna lampu yang menyala. Aku menoleh ke belakang, melihat ke pos jaga polisi lalu lintas di simpang itu. Memang tidak ada polisi, kecuali anak-anak sekolah nongkrong sambil mencorat-coret dinding pos tersebut. Entah ke mana lenyapnya atau entah punya proyek apa lagi para polisi lalu lintas yang seharusnya berjaga di sana.

Seingatku, sepanjang perjalanan itu, aku hanya menemukan dua lampu rambu-rambu lalu lintas di kota yang sering menjamu wisatawan dalam negeri dan luar negeri ini. Pertama, tadi, simpang kantor pos kota. Itu pun mati entah sejak kapan. Dan yang kedua, yang barusan kami langgar, simpang terusan jalur telkom. Biarpun hidup normal, fungsinya hanya sebatas simbol kota. Tidak berfungsi semestinya.

Di atas lajunya kendaraan, Oji berkisah sedikit tentang kecelakaan di simpang empat itu. Korban adalah temannya sendiri. Lebih celakanya, kata Oji, sampai di rumah sakit dokternya tidak ada, padahal kawannya betul-betul gawat berat. Sebentar aku bisa membayangkan, bagaimana jadinya bila kesemrawutan lalu lintas dan kepunahan aparat lalu lintas dibarengi oleh kelangkaan dokter.

Beruntung aku menjelajahi kota ini dengan Oji, kata batinku. Oji, penduduk asli kota terhilang ini, memang bukan jenis anak muda rumahan, sehingga dia kenal baik setiap jengkal kota. Selama lebih seperempat hari Oji memanduku, aku dapat menilainya.

Malam harinya giliran Oji mengajakku melanjutkan penjelajahan kota. Dia menawarkan beberapa paket jalan-jalan malam, yaitu ke pusat jajanan malam rakyat yang terletak di dekat terminal kota, lalu ke diskotik atau arena bilyar di hotel pinggir pantai, atau berburu kemesuman di pinggiran kota.

Penjelajahan malam kami mulai dari pusat jajanan malam rakyat. Di sana tenda-tenda terbentang mirip bunga-bunga jalanan yang pernah aku renungi. Aku menikmati sajian khas menu lokal, meski beberapa lainnya mirip dengan sajian makanan umum semisal pisang goreng dan tahu-tempe goreng. Di sela-sela menikmati makanan malam itu, kami melihat jual-beli pil ektasi dilakukan secara terbuka, blak-blakan. Beberapa aparat yang masih muda pun sedang mabuk pil laknat lainnya di sudut tenda.

“Ji, apa bener sih kota ini bergelar kota pendidikan?” bisikku pada Oji.

“Nggak tahu, Mas, apakah kota ini pantas menyandang gelar kota pendidikan, kota pariwisata, ataukah kota industri,” sahut Oji malas-malasan. “Menurutku, kota ini lebih pantas menyandang predikat kota brengsek sebrengsek-brengseknya kota, Mas.”

“Kota brengsek?” aku terkejut.

“Ya, kota brengsek! Peraturan brengsek, hukum-hukum brengsek, aparat brengsek, penduduk brengsek, norma brengsek, tokoh masyarakat brengsek, dan agama yang tak lebih hanya KTP alias kata tanpa perbuatan. Judi, mabuk-mabukan, obat-obat bius, pil laknat, pencurian, penyelundupan, premanisme dan kriminalitas yang mengerikan, begitu marak di sini. Namun tokoh penting masyarakat dan aparaturnya seolah dimabukkan oleh anggur kebusukan bersama!”

Tak berapa lama kami melanjutkan perbincangan ke taman kota. Oji kian menumpahkan segala kemuakannya pada kota terhilang ini. Aku kewalahan mendengar segala gemuruh gerutuan Oji. Kekecewaannya mengendap selama sekian puluh tahun tinggal di kota terhilang ini. Barangkali seluruh kebobrokan kota telah menyumpali dan melimbahi isi kepalanya, entah dari pengalamannya sendiri maupun dari sumbangan kisah-kisah resah kawan-kawannya yang tidak berani melapor karena ancaman preman, aparat yang mata duitan, warga yang sibuk menyelamatkan diri sendiri.

“Selama para aparat karatan yang keparat itu masih bercokol,” tukas Oji jengkel, “mustahil sekalilah mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, kesentosaan dan kenyamanan di kota brengsek ini.”

“Betul, Ji. Perekonomian, perdagangan, pendidikan, kenyamanan dan keadilan jelas akan mandul bila tidak dibarengi jaminan keamanan.”

“Para juru bicara cuma lihai berteriak-teriak tentang masa depan kemakmuran dan peradaban. Kenyataannya, bisnis kejahatan semakin terorganisir semenjak pejabat dan aparat bersetubuh dengan penjahat. Payah nian orang-orang brengsek itu!” tandas Oji.

“Tapi, kok kamu sanggup bertahan menetap di kota seperti ini?”

Oji tidak langsung menyahut. Tampaknya Oji berhati-hati sekali dengan apa yang akan dikatakannya. Aku malah penasaran pada idealisme pemuda satu ini. Betapa tidak. Jelas-jelas situasi sosial-ekonomi-politik di ‘kota terhilang’ ini benar-benar tidak kondusif bagi masa depannya.

“Kenapa, Ji?”

“Mas, cinta yang membuatku bertahan. Baik atau buruk kehidupan kota ini, aku terpanggil untuk tetap mencintainya. Aku terlahir di sini, dibesarkan di sini.”

“Tidak berkeinginan untuk merantau, pindah ke luar pulau dan membunuh semua kenangan pada tanah kelahiran, sebelum kebrengsekan membinasakanmu?” pancingku.

“Mas, cinta sejati bukanlah sekadar bunga-bunga kata yang kemudian kelopaknya gugur akibat kejahatan-kejahatan alam serta kebiadaban orang-orang. Cinta sejati butuh kesetiaan, agar dapat melewati ujian-ujian yang tidak main-main.”

“Tapi dengan situasi yang sangat mengerikan begini, apakah kesetiaanmu tidak lantas menjadi kesia-siaan belaka? Malahan kamu bisa mati konyol di sini!” protesku.

“Memang kesetiaanku ini akan selalu diperhadapkan pada kesia-siaan, kebosanan bahkan kemuakan,” akunya. “Makanya, aku senantiasa memperbarui komitmen cintaku.”

“Dengan cara apa?” selidikku penasaran. Barangkali Oji mau menularkan kiatnya.

“Dengan cara merenungi dan mengingat kembali visi hidupku untuk hidup di kota ini. Juga aku bekerjasama dengan kawan-kawan yang mempunyai kesamaan cinta dan visi bagi perubahan kota ini, termasuk kawan-kawan yang bersekolah di perantauan.”

“Kan waktunya tidak secepat kilat, Ji? Apalagi kamu kelak akan berkeluarga.”

“Benar, Mas. Butuh bertahun-tahun. Butuh kesabaran dan kesetiaan yang sejati.”

“Berarti kesatuan cinta dan visi itulah pondasi hidupmu sehingga kamu betah bertahan sampai kelak mulut tanah ini melumat bulat-bulat raga fanamu?”

“Begitulah,” suara Oji pelan tapi tegas. Dia tetap berharap pada perubahan besar atas kota ini, sebagaimana arti cita-cita reformasi yang dikoar-koarkan banyak orang, termasuk oleh orang-orang brengsek, oleh pejabat brengsek serta oleh aparat brengsek.

Saat bulan melebarkan senyum gaibnya, kami memutuskan pulang ke penginapan. Mataku sudah berat untuk diajak melanjutkan kelayapan malam. Seharian penuh aku dan Oji menjelajahi kota terhilang ini. Letih sekali. Kupikir istirahat justru lebih baik.

Sesampainya di garasi penginapan, adiknya Oji menyambut kami dengan berita buruk. “Bang Oji, tadi motorku dirampok orang di jalan. Mereka memakai tali, dipasang melintang dan ditarik waktu aku melintas. Aku jatuh, langsung mereka mengeroyokku. Terus, mereka merampok motorku, STNK sekaligus dompetku. Ludes duitku. Untung aja aku tidak mati dibantai mereka,” adu adiknya Oji dengan muka babak-belur.

Di tempat itu memang sering terjadi perampokan sepeda motor. Sedangkan pihak aparat atau pemuda-pemuda sekitar situ tidak ada yang peduli. Barangkali kejahatan itu melibatkan pemuda setempat. Mungkin hanya persekongkolan dengan pemuda setempat, juga dengan aparat.

Ah, adiknya Oji ini masih saja bisa bilang “untung”, padahal sudah hancur-hancuran dan habis-habisan begitu. Atau memang selalu saja ada yang sanggup memetik keberuntungan selama tinggal di negara ini.

Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkanku. Sekejap “kota terhilang” lenyap, berganti kedatangan kawan-kawan di kosku. Mereka mau numpang nonton siaran langsung pertandingan sepakbola Liga Italia Seri A. Kuhentikan kegiatanku berselancar lewat perangkat peradaban bernama internet.

*******

babarsarikotapelajar, 2001


[ agustinus 1:35 PM [+] ]
PENERBANGAN DINI

Dua anak laki-laki memandang hujan lebat dari balik jendela kaca. Air muka keduanya keruh. Rupa-rupanya siang itu kakak-beradik ini tidak bisa bermain bola seperti biasa. Semula sang ibu sempat bingung, bagaimana membuat kedua anaknya tidak muram. Tapi, setelah dia menemukan setoples biscuit di dalam rak makanan, muncullah ide untuk menghibur anak-anaknya.

Bagaikan suara penyiar pertandingan sepakbola, sang ibu memainkan biscuit-biskuit itu, lantas memasukkannya ke dalam mulut kedua anaknya.

“Goooolll!” teriak riang anak-anaknya setiap biskuit masuk ke mulut mereka.

Sampai giliran biscuit terakhir, sang ibu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Kedua anaknya bengong.

“Gol bunuh diri,” kilah sang ibu.

“Ah, Ibu bisa aja,” komentar si bungsu sembari tertawa.

Tiba-tiba raut muka si bungsu dalam iklan biscuit tadi mengusik kenanganku pada seorang kawan kecilku. Namanya Yongky. Usianya sekitar satu-dua tahun di bawahku dan tidak nakal. Dia adalah anak bungsu dari pasangan dokter yang terkenal di kotaku. Papa dan mamanya adalah dokter umum. Orang-orang di kota kami mengenal beliau dengan nama Pak Dokter Ramsey.

Aku bisa mengenal Yongky karena aku dulu seperti pelanggan tetap di RS UPTB Sungailiat, tempat Pak Dokter dan Ibu Dokter Ramsey bekerja dan Ibundaku adalah juru rawat di rumah sakit tersebut. Sebelumnya, Ibundaku dipercayakan olek Pak Dokter Ramsey dalam menjaga dan merawat Yongky kecil yang sering sakit sesak nafas karena lahir belum genap tujuh bulan alias prematur. Setelah tiga tahun Yongky berangsur normal serta bisa berjalan, barulah Ibunda kembali bertugas di RS UPTB Sungailiat. Selanjutnya Ibunda menjadi staf perawat dalam ruang kerja Pak atau Bu Dokter Ramsey.

Ah, entah apa kini kabarmu, Yong, batinku.

Mendadak aku ingin sekali berjumpa dengannya. Entah kenapa ingatanku berputar mundur.

Grrrrrrr….gemuruh mesin pesawat jenis jet yang sedang lepas landas dari bandara Adi Sucipto. Letak bandara itu memang beberapa kilometer saja dari kontrakanku.

***

Orangtua Yongky sungguh-sungguh sibuk. Kadang Pak Dokter dan Bu Dokter Ramsey saling bergantian tugas. Kalau Pak Dokter Ramsey bertugas di Sungailiat, Bu Dokter Ramsey ke kota lainnya di Bangka. Belum lagi jika selama beberapa hari bahkan minggu mereka bertolak ke rumah mereka yang ada di Jakarta.

Karena aku juga anak bungsu walaupun tidak sekalem Yongky, tak jarang aku dibawa Ibundaku ke rumah Yongky di kawasan perumahan elit Taman Sari Sungailiat. Di sana aku bermain dengan Yongky atau bermain sendiri manakala Yongky digendong Ibunda, karena Ibunda memang dipercaya mengasuh Yongky.

Bermain dengan Yongky, tentu saja berbeda sekali kalau aku bermain bersama kawan-kawan kampungku. Bermain bersama anak-anak kampung, biasanya aku membawa pulang banyak kedekilan. Pakaian kotor dan badan kotor. Karena aku dan anak-anak kampung sering bermain di tanah, membuat alat-alat permainan dari tumbuh-tumbuhan atau semak, atau berkejaran kesana-kemari. Tak pelak Ibunda memarahiku.

Bersama anak-anak kampung aku bisa nakal dan bandel. Tidak demikian apabila aku bermain bersama Yongky, yang lebih suka bermain di dalam rumah.

“Noy, cepat mandi sana,” perintah Ibunda. “Nanti siang kita mau pergi ke Pangkalpinang bersama Yongky. Dia akan pulang ke Jakarta.”

Aku segera menyambut perintah itu dengan senang hati. Setiap keluarga Yongky hendak bertolak ke Jakarta, aku selalu diajak mereka mengantar. Dan aku paling suka diajak mengantarkan Yongky ke bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Aku suka melihat kapal terbang lepas landas atau turun sambil membayangkan nyamannya berada dalam kendaraan udara itu.

“Noy, besar nanti aku mau jadi pilot,” kata Yongky mengutarakan cita-citanya.

“Wah, hebat sekali!” sahutku terkagum-kagum dengan cita-citanya.

Sebenarnya aku juga ingin jadi pilot seperti cita-cita Yongky. Tapi aku malu mengakui “mau jadi pilot”. Aku hanya anak kampung dan anak orang pas-pasan.

Aku ingat, beberapa kali Ibunda bilang, kalau Onoy mau jadi pilot, gigi haruslah sehat dan bagus. Makanya, aku selalu merawat dan memperhatikan gigiku. Ibunda pun selalu memeriksakan gigiku. Alhasil, sewaktu TK aku malah memenangkan kontes gigi indah se-kota Sungailiat. Tapi sayangnya, sejak SD gigiku mulai berantakan, sebab aku suka makan makanan berkuah asam cuka. Kuurungkan saja cita-citaku jadi pilot.

“Ini pesawat jet. Ini pilot dan ini co-pilotnya. Pesawatnya begini-begini. Ini ruang pilotnya,” terang Yongky sembari membuka buku panduan tentang kapal terbang sewaktu kami sekeluarga singgah ke rumah Yongky di Jakarta sebelum menengok nenek di Jawa.

Aku terkesima dan merasa makin ciut di hadapan Yongky. Apalagi sewaktu dia memperlihatkan koleksi kapal terbang mainannya. Nyamen bener tinggal di kota besak dan jadi anak orang kayo macam Yongky ini, batinku.

Lalu dia mengajakku naik ke lantai dua rumahnya. Dari teras lantai dua itu kami dapat menyaksikan pesawat terbang tinggal landas. Karena jarak rumahnya tidaklah jauh dengan bandara Halim Perdana Kusuma. Cuma satu kali itu aku bertandang ke rumahnya.

Ketika Yongky berada di Jakarta dan aku masih di Sungailiat, kerinduan acapkali menyapaku setiap pulang sekolah atau pulang dari gereja aku melintas di depan rumah dinas papanya. Aku selalu menoleh ke pintu samping rumahnya. Kupikir, mungkin Yongky sudah pulang lagi, lantas memanggilku. Tapi hanya tampak daun pintu tertutup, seolah mengejekku.

“Noy, Yongky sudah datang,” kata Ibunda. “Kelak kita ke rumahnya.”

“Asyik,” sambutku kegirangan. Aku tahu bahwa hari ini libur sekolah. Aku tidak usah kuatir soal sekolah. Aku bisa bermain sepuasnya dengan Yongky.

Beberapa musim liburan sekolah Yongky kembali ke Sungailiat, karena papanya masih bertugas di Sungailiat. Kedatangan Yongky dan kesempatan berjumpa dengannya selalu membuatku girang tak terkira. Ibunda mengerti sekali. Lalu, siang harinya aku akan bermain sepuasnya dengan Yongky. Selalu saja kudapatkan suasana bermain yang baru.

Berikut-berikutnya, Yongky jarang mudik ke Bangka. Tidak lagi setahun sekali dia datang. Pak Dokter Ramsey pun pindah ke Jakarta. Rumah dinas mereka di Jalan Taman Sari itu sudah ditempati orang lain. Tinggal rumah megah mereka yang berada di tengah perkebunan cengkeh seluas 4 hektar, yang jaraknya hanya beberapa kilometer saja dari rumah kami. Aku sering diajak Ibunda menengok keadaan rumah megah dan kebun mereka, yang juga dijaga oleh sebuah keluarga. Keluarga ini digaji oleh papanya Yongky.

Penantianku terasa sia-sia. Dan, aku pun mulai melupakannya, kendati setiap melintas di depan rumah bekas tempat tinggal Yongky itu ada perasaan rindu menggelayutiku. Lama kelamaan kian terkikis oleh pergaulanku bersama banyak kawan. Beberapa kali Pak Dokter Ramsey datang, namun Yongky tidak ikut bersama beliau. Setiap ke Sungailiat beliau sempatkan diri singgah sebentar ke rumah sempit kami dengan membawa oleh-oleh ikan bandeng fresto.

Ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP dan bertambah bandel, Yongky datang bersama papanya dan seorang kakaknya. Waktu itu papanya belum lama pulang dari naik haji. Keluarga kami diberi oleh-oleh dari Arab Saudi. Kemudian papanya mengajakku menginap di rumah megah beliau di perkebunan cengkeh amat luas itu.

Aku sempat minder. Apalah diriku yang hanya anak kampung dan berorang tua pas-pasan ini, dibanding anak bungsu dokter yang kaya-raya itu. Tapi, demi hormat pada beliau dan persahabatan dengan Yongky, aku penuhi ajakan tersebut.

“Ha ha ha…lucu sekali,” Yongky tertawa terpingkal-pingkal sewaktu dia melihat
adegan konyol dalam kisah “Penculikan Calculus” di komik Petualangan Tintin. Ceritanya, gara-gara secuil plester dari luka hidung Kapten Hadock, telah menyebabkan pesawat melaju secara naik-turun.

Aku ikut-ikutan terpingkal-pingkal. Disamping itu, bagiku, komik satu ini baru sekali. Aku belum pernah melihatnya. Selama ini aku hanya mengenal komik Donal
Bebek, Superman, Batman, pendekar-pendekar dari rimba persilatan dan Deni Manusia Ikan. Ah, dasar kampungan sekali aku ini!

Kebetulan hari itu hujan turun bertubi-tubi sejak pagi. Kemudian, bersama sopir mereka, kami pergi berenang di pemandian air panas Pemali. Dua hari aku menemaninya berlibur. Lalu pada sore harinya dia kembali ke Jakarta. Itulah pertemuan terakhir kami.

Pertengahan masa SMP, aku sudah melupakan Yongky. Tidak ada lagi hal-hal istimewa. Aku sibuk bermain dengan kawan-kawan kampung dan sekolahku, bahkan aku menjadi semakin bandel. Sampai ketika aku melanjutkan sekolah ke Jogja dan beberapa kali mudik ke Bangka, tidak sekali pun aku menyempatkan diri singgah ke rumah Yongky di Jakarta. Aku betul-betul kehilangan komunikasi apapun dengannya.

“Noy, Yongky sudah sarjana komputer,” begitu informasi Ibunda belum lama ini. “Sudah 6 bulan ini dia membuka kursus komputer di Pangkalpinang. Katanya, dia mau membangun usaha komputer serta warung internet (warnet) di Sungailiat. Bahkan, dia sudah menyiapkan rancangan rumahnya, tempat kursus komputer dan warnetnya kelak.”

“Tumben,” responku.

Anak orang kaya memang nggak susah membuka usaha, pikirku. Tapi, tumben, tiba-tiba ingin kembali ke Sungailiat. Apakah Jakarta sudah nggak mampu menyajikan kesenangan lagi? Dan, kok sarjana komputer, bukannya menjadi pilot atau pekerjaan yang berhubungan dengan kapal terbang. Apa dia sudah nggak tertarik lagi pada cita-cita masa kecilnya, terbang menembus awan dan menjelajahi angkasa dengan kendaraan udara.

“Dia ingin pindah dan berkarier di Sungailiat saja. Dia bilang, ‘aku lahir di Sungailiat, aku mau meninggal di Sungailiat’. Dia ‘kan lahir di Sungailiat, Noy.”

Wah, wah, wah, luarbiasa sekali sahabat kecilku ini! Masa sekolah dasar hingga jadi sarjana yang dihabiskannya tanpa sisa di Ibukota, ternyata merasa terpanggil untuk kembali ke tanah kelahiran. Padahal Sungailiat hanyalah sebuah kota kecil jika dibanding Pangkalpinang. Dia sangat mengerti bagaimana mengelola kekayaan. Aku salut padanya.

***

Malam Sabtu suhu kamar kontrakanku gerah sekali. Beberapa kali aku terbangun dari tidurku. Kukira pagi-pagi kelak bakal hujan deras. Ternyata tidak. Lantas hari Sabtu, esoknya, suasana senja lebih cepat berkunjung akibat mendung. Kisah iklan biscuit yang kutonton beberapa hari lalu masih menari-nari, mengusik kegelisahan dan kerinduanku.

Sabtu pukul 16.45 WIB Ibunda menghubungiku via interlokal dari Bangka. Aku tengah asyik merangkai kata demi kata dan memperbaiki kisah-kisah usang yang, menurutku, harus ditata ulang selagi ide-idenya bagus. Kusambut inlok dari Ibunda.

Ngapain sih inlok jam-jam segini, pikirku. Jam-jam segini ongkos inloknya mahal. ‘Ntar kalau tekor, ngomel-ngomel lagi ama orang-orang di rumah.

“Noy, makcik telah sampai Bangka tadi siang.”

Walah, macam manalah makcik ini, gumanku. Pulang ke Bangka nggak bilang-bilang. Tahu-tahu sudah sampai rumah. Mana adik-adik sepupuku nggak beri tahu lagi.

“Noy, motor sudah dibeli?”

“Belum. Mana ada motor baru seharga lima juta,” jawabku malas-malasan.

“Hati-hati lho, Noy, pegang duit itu. Ibu tidak punya duit segitu.”

Waduh, hanya mau ngasih tahu soal kepulangan makcik dan soal pembelian motor baru, kenapa Ibunda sampai repot-repot inlok jam segini sih, pikirku. Ehm, mungkin semalam sudah inlok, tapi kebetulan aku sedang keluar.

“Noy,” lanjut Ibunda, “jam setengah lima tadi Yongky meninggal dunia di RS Timah Pangkalpinang, karena sakit malaria, dan sesak nafasnya kambuh. Sore ini Yongky langsung diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan di sana.”

“Hah?!” kata-kataku tidak sanggup tercurah. Aku tidak bisa nyebut apapun. Seketika pikiranku terbang entah ke mana. Kutatap suasana di luar kontrakanku. Tampak langit mencucurkan titik-titik kristal bening.

Grrrrrrr… gemuruh mesin pesawat jenis jet yang sedang lepas landas dari bandara Adi Sucipto yang terletak beberapa kilometer saja dari kontrakanku.

*******

babarsarijogja, november 2001
Selamat Mengudara, Kawan Karibku, Yongky bin Ramsey

[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 25 Agustus 2002, dan situs cybersastra, 14 September 2002]

***

Komentar Kuswinarto Yakin Saja, “Catatan Untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono”, Galeri Esai Cybersastra.net, 5 Januari 2003

Ada kesan tertinggal pada pembaca (=saya) setelah membaca cerpen itu. Cerpen itu berbicara tentang kerinduan, persahabatan, dan kehilangan. Ketika membaca cerpen ini pembaca bisa ikut larut dalam perasaan-perasaan itu. Di sini Agus berhasil memanfaatkan teknik pengaluran sorotbalik (flashback) secara efektif. Ending-nya juga menarik, membuat cerpen ini meninggalkan kesan.

Sayangnya, awalan/pembuka cerpen ini justru tidak menarik. Bukan karena pembuka itu “kutipan” iklan biscut yang si “aku” tonton di televisi sehingga awalan cerpen ini tidak menarik, melainkan pemindahan iklan ke dalam kata-kata itulah yang tidak mendukung kemenarikan cerpen itu.

Banyak cara, banyak gaya, banyak kiat untuk membuat cerpen “memukau” pembaca. Salah satunya, yang dilakukan Agus dalam "Penerbangan Dini". Pemilihan alur flashback dan penggunaan point of view orang pertama juga terasa tepat sehingga memperkuat daya pukau cerpen ini.

Agus juga berusaha mengangkat "Bangka" dalam cerpennya. Tetapi itu masih sebatas kulitnya. Dan mungkin itu dilakukan Agus memang sekadar memberi warna lokal pada cerpennya, tidak seperti cerpen-cerpen Gus tf Sakai, misalnya, yang begitu kental “roh” kedaerahannya. Mungkin akan bagus jika Agus mencoba mengangkat “ruh” Bangka, daerah tempat cerpenis itu lahir.

***

Cerpen yang telah matang untuk antologi cerpen “Penerbangan Dini”

PENERBANGAN DINI

Senja belum menjelma seutuhnya tatkala aku bingung menggarap sepetak waktu dengan cara menonton acara yang langsung disambar sebuah iklan. Dua anak laki-laki memandang hujan lebat dari balik jendela kaca. Air muka keduanya keruh. Rupa-rupanya siang itu kakak-beradik ini tidak bisa bermain bola seperti biasa. Semula sang ibu sempat bingung, bagaimana membuat kedua anaknya tidak muram. Tapi, setelah dia menemukan setoples biskuit di dalam rak makanan, muncullah ide untuk menghibur anak-anaknya.

Bagaikan suara penyiar pertandingan sepakbola, sang ibu memainkan biskuit-biskuit itu, lantas memasukkannya ke dalam mulut kedua anaknya.

“Goooolll!” teriak riang anak-anaknya setiap biskuit masuk ke mulut mereka.

Sampai giliran biscuit terakhir, sang ibu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Kedua anaknya bengong.

“Gol bunuh diri,” kilah sang ibu.

“Ah, Ibu bisa aja,” komentar si bungsu sembari tertawa.

Tiba-tiba raut muka si bungsu dalam iklan biskuit tadi mengusik kenanganku pada seorang kawan kecilku. Namanya Yongky. Usianya sekitar satu-dua tahun di bawahku. Dia lahir prematur – belum genap tujuh bulan, berat badannya 1,4 kilogram dan hanya sebesar botol – di Rumah Sakit Bakti Timah, Pangkalpinang. Dia adalah anak bungsu dari pasangan dokter yang terkenal di kotaku, Sungailiat. Papa dan mamanya adalah dokter umum. Orang-orang di kota kami mengenal beliau dengan nama Pak Dokter Ramsey.

Aku bisa mengenal Yongky karena aku dulu seperti pelanggan tetap di RS UPTB Sungailiat, tempat Pak Dokter dan Ibu Dokter Ramsey bekerja dan Ibundaku adalah juru rawat di rumah sakit tersebut. Sebelumnya, Ibundaku dipercayakan olek Pak Dokter Ramsey dalam menjaga dan merawat Yongky sejak baru lahir. Setelah dua tahun Yongky berangsur normal, sesak nafasnya sembuh serta bisa berjalan, barulah Ibunda kembali bertugas di RS UPTB Sungailiat. Selanjutnya Ibunda menjadi staf perawat dalam ruang kerja Pak atau Bu Dokter Ramsey.

Ah, entah apa kini kabarmu, Yong, batinku.

Mendadak aku ingin sekali berjumpa dengannya. Entah kenapa ingatanku berputar mundur.

Grrrrrrr….gemuruh mesin pesawat jenis jet yang sedang lepas landas dari bandara Adi Sucipto. Letak bandara itu memang beberapa kilometer saja dari kontrakanku.

***

Orangtua Yongky sungguh-sungguh sibuk. Kadang Pak Dokter dan Bu Dokter Ramsey saling bergantian tugas. Kalau Pak Dokter Ramsey bertugas di Sungailiat, Bu Dokter Ramsey ke kota lainnya di Bangka. Belum lagi jika selama beberapa hari bahkan minggu mereka bertolak ke rumah mereka yang ada di Jakarta.

Karena aku juga anak bungsu walaupun tidak sekalem Yongky, tak jarang aku dibawa Ibundaku ke rumah Yongky di kawasan perumahan elit Taman Sari Sungailiat. Di sana aku bermain dengan Yongky atau bermain sendiri manakala Yongky digendong Ibunda, karena Ibunda memang dipercaya mengasuh Yongky.

Bermain dengan Yongky, tentu saja berbeda sekali kalau aku bermain bersama kawan-kawan kampungku. Bermain bersama anak-anak kampung, biasanya aku membawa pulang banyak kedekilan. Pakaian kotor dan badan kotor. Karena aku dan anak-anak kampung sering bermain di tanah, membuat alat-alat permainan dari tumbuh-tumbuhan atau semak, atau berkejaran kesana-kemari. Tak pelak Ibunda memarahiku.

Bersama anak-anak kampung aku bisa nakal dan bandel. Tidak demikian apabila aku bermain bersama Yongky, yang lebih suka bermain di dalam rumah.

“Noy, cepat mandi sana,” perintah Ibunda. “Nanti siang kita mau pergi ke Pangkalpinang bersama Yongky. Dia akan pulang ke Jakarta.”

Aku segera menyambut perintah itu dengan senang hati. Setiap keluarga Yongky hendak bertolak ke Jakarta, aku selalu diajak mereka mengantar. Dan aku paling suka diajak mengantarkan Yongky ke bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Aku suka melihat kapal terbang lepas landas atau turun sambil membayangkan nyamannya berada dalam kendaraan udara itu.

“Noy, besar nanti aku mau jadi pilot,” kata Yongky mengutarakan cita-citanya.

“Wah, hebat sekali!” sahutku terkagum-kagum dengan cita-citanya.

Sebenarnya aku juga ingin jadi pilot seperti cita-cita Yongky. Tapi aku malu mengakui “mau jadi pilot”. Aku hanya anak kampung dan anak orang pas-pasan.

Aku ingat, beberapa kali Ibunda bilang, kalau Onoy mau jadi pilot, gigi haruslah sehat dan bagus. Makanya, aku selalu merawat dan memperhatikan gigiku. Ibunda pun selalu memeriksakan gigiku. Alhasil, sewaktu TK aku malah memenangkan kontes gigi indah se-kota Sungailiat. Tapi sayangnya, sejak SD gigiku mulai berantakan, sebab aku suka makan makanan berkuah asam cuka. Kuurungkan saja cita-citaku jadi pilot.

“Ini pesawat jet. Ini pilot dan ini co-pilotnya. Pesawatnya begini-begini. Ini ruang pilotnya,” terang Yongky sembari membuka buku panduan tentang kapal terbang sewaktu kami sekeluarga singgah ke rumah Yongky di Jakarta sebelum menengok nenek di Jawa.

Aku terkesima dan merasa makin ciut di hadapan Yongky. Apalagi sewaktu dia memperlihatkan koleksi kapal terbang mainannya. Nyamen bener tinggal di kota besak dan jadi anak orang kayo macam Yongky ini, batinku.

Lalu dia mengajakku naik ke lantai dua rumahnya. Dari teras lantai dua itu kami dapat menyaksikan pesawat terbang tinggal landas. Karena jarak rumahnya tidaklah jauh dengan bandara Halim Perdana Kusuma. Cuma satu kali itu aku bertandang ke rumahnya.

Ketika Yongky berada di Jakarta dan aku masih di Sungailiat, kerinduan acapkali menyapaku setiap pulang sekolah atau pulang dari gereja aku melintas di depan rumah dinas papanya. Aku selalu menoleh ke pintu samping rumahnya. Kupikir, mungkin Yongky sudah pulang lagi, lantas memanggilku. Tapi hanya tampak daun pintu tertutup, seolah mengejekku.

“Noy, Yongky sudah datang,” kata Ibunda. “Kelak kita ke rumahnya.”

“Asyik,” sambutku kegirangan. Aku tahu bahwa hari ini libur sekolah. Aku tidak usah kuatir soal sekolah. Aku bisa bermain sepuasnya dengan Yongky.

Beberapa musim liburan sekolah Yongky kembali ke Sungailiat, karena papanya masih bertugas di Sungailiat. Kedatangan Yongky dan kesempatan berjumpa dengannya selalu membuatku girang tak terkira. Ibunda mengerti sekali. Lalu, siang harinya aku akan bermain sepuasnya dengan Yongky. Selalu saja kudapatkan suasana bermain yang baru.

Berikut-berikutnya, Yongky jarang mudik ke Bangka. Tidak lagi setahun sekali dia datang. Pak Dokter Ramsey pun pindah ke Jakarta. Rumah dinas mereka di Jalan Taman Sari itu sudah ditempati orang lain. Tinggal rumah megah mereka yang berada di tengah perkebunan cengkeh seluas 4 hektar, yang jaraknya hanya beberapa kilometer saja dari rumah kami. Aku sering diajak Ibunda menengok keadaan rumah megah dan kebun mereka, yang juga dijaga oleh sebuah keluarga. Keluarga ini digaji oleh papanya Yongky.

Penantianku terasa sia-sia. Dan, aku pun mulai melupakannya, kendati setiap melintas di depan rumah bekas tempat tinggal Yongky itu ada perasaan rindu menggelayutiku. Lama kelamaan kerinduan itu kian terkikis oleh pergaulanku bersama banyak kawan. Beberapa kali Pak Dokter Ramsey datang, namun Yongky tidak ikut bersama beliau. Setiap ke Sungailiat beliau sempatkan diri singgah sebentar ke rumah sempit kami dengan membawa oleh-oleh ikan bandeng fresto.

Ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP dan bertambah bandel, Yongky datang bersama papanya dan seorang kakaknya. Waktu itu papanya belum lama pulang dari naik haji. Keluarga kami diberi oleh-oleh dari Arab Saudi. Kemudian papanya mengajakku menginap di rumah megah beliau di perkebunan cengkeh amat luas itu.

Aku sempat minder. Apalah diriku yang hanya anak kampung dan berorangtua pas-pasan ini, dibanding anak bungsu dokter yang kaya-raya itu. Tapi, demi hormat pada beliau dan persahabatan dengan Yongky, aku penuhi ajakan tersebut.

“Ha ha ha…lucu sekali,” Yongky tertawa terpingkal-pingkal sewaktu dia melihat adegan konyol dalam kisah “Penculikan Calculus” di komik Petualangan Tintin. Ceritanya, gara-gara secuil plester dari luka hidung Kapten Hadock, telah menyebabkan kapal terbang melaju secara naik-turun.

Aku ikut-ikutan terpingkal-pingkal. Disamping itu, bagiku, komik satu ini baru sekali. Aku belum pernah melihatnya. Selama ini aku hanya mengenal komik Donal Bebek, Superman, Batman, pendekar-pendekar dari rimba persilatan dan Deni Manusia Ikan. Ah, dasar kampungan sekali aku ini!

Kebetulan hari itu hujan turun bertubi-tubi sejak pagi. Kemudian, bersama sopir mereka, kami pergi berenang di pemandian air panas Pemali. Dua hari aku menemaninya berlibur. Lalu pada sore harinya dia kembali ke Jakarta. Itulah pertemuan terakhir kami.

Pertengahan masa SMP, aku sudah melupakan Yongky. Tidak ada lagi hal-hal istimewa. Aku sibuk bermain dengan kawan-kawan kampung dan sekolahku, bahkan aku menjadi semakin bandel. Sampai ketika aku melanjutkan sekolah ke Jogja dan beberapa kali mudik ke Bangka, tidak sekali pun aku menyempatkan diri singgah ke rumah Yongky di Jalan Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat. Aku betul-betul kehilangan komunikasi apa pun dengannya.

“Noy, Yongky sudah sarjana komputer,” begitu informasi Ibunda belum lama ini. “Sudah 6 bulan ini dia membuka kursus komputer di Pangkalpinang. Katanya, dia mau membangun usaha komputer serta warung internet (warnet) di Sungailiat. Bahkan, dia sudah menyiapkan rancangan rumahnya, tempat kursus komputer dan warnetnya kelak.”

“Tumben,” responku.

Anak orang kaya memang nggak susah membuka usaha, pikirku. Tapi, tumben, tiba-tiba ingin kembali ke Sungailiat. Apakah Jakarta sudah nggak mampu menyajikan kesenangan lagi? Dan, kok sarjana komputer, bukannya menjadi pilot atau pekerjaan yang berhubungan dengan kapal terbang. Apa dia sudah nggak tertarik lagi pada cita-cita masa kecilnya, terbang menembus awan dan menjelajahi angkasa dengan kendaraan udara.

“Dia ingin pindah dan berkarier di Sungailiat saja. Dia bilang, ‘aku lahir di Bangka, aku mau meninggal di Bangka’. Dia ‘kan memang lahir di Bangka, Noy.”

Wah, wah, wah, luarbiasa sekali sahabat kecilku ini! Masa sekolah dasar hingga jadi sarjana yang dihabiskannya tanpa sisa di Ibukota, ternyata merasa terpanggil untuk kembali ke tanah kelahiran. Padahal Sungailiat hanyalah sebuah kota kecil jika dibanding Pangkalpinang. Dia sangat mengerti bagaimana mengelola kekayaan. Aku salut padanya.

***

Malam Sabtu suhu kamar kontrakanku gerah sekali. Beberapa kali aku terbangun dari tidurku. Kukira pagi-pagi kelak bakal hujan deras. Ternyata tidak. Lantas hari Sabtu, esoknya, suasana senja lebih cepat berkunjung akibat mendung. Kisah iklan biscuit yang kutonton beberapa hari lalu masih menari-nari, mengusik kegelisahan dan kerinduanku.

Sabtu pukul 16.45 WIB Ibunda menghubungiku via interlokal dari Bangka. Aku tengah asyik merangkai kata demi kata dan memperbaiki kisah-kisah usang yang, menurutku, harus ditata ulang selagi ide-idenya bagus. Kusambut inlok dari Ibunda.

Ngapain sih inlok jam-jam segini, pikirku. Jam-jam segini ongkos inloknya mahal. ‘Ntar kalau tekor, ngomel-ngomel lagi ama orang-orang di rumah.

“Noy, makcik telah sampai Bangka tadi siang.”

Walah, macam manalah makcik ini, gumanku. Pulang ke Bangka nggak bilang-bilang. Tahu-tahu sudah sampai rumah. Mana adik-adik sepupuku nggak beri tahu lagi.

“Noy, motor sudah dibeli?”

“Belum. Mana ada motor baru seharga lima juta,” jawabku malas-malasan.

“Hati-hati lho, Noy, pegang duit itu. Ibu tidak punya duit segitu.”

Waduh, hanya mau ngasih tahu soal kepulangan makcik dan soal pembelian motor baru, kenapa Ibunda sampai repot-repot inlok jam segini sih, pikirku. Ehm, mungkin semalam sudah inlok, tapi kebetulan aku sedang keluar.

“Noy,” lanjut Ibunda, “jam setengah lima tadi Yongky meninggal dunia di RS Timah Pangkalpinang, karena sakit malaria, dan sesak nafasnya kambuh. Sore ini Yongky langsung diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan di sana.”

“Hah?!” kata-kataku tidak sanggup tercurah. Aku tidak bisa nyebut apa pun. Seketika pikiranku terbang entah ke mana. Kutatap suasana di luar kontrakanku. Tampak langit mencucurkan titik-titik kristal bening.

Grrrrrrr… gemuruh mesin pesawat jenis jet yang sedang lepas landas dari bandara Adi Sucipto yang terletak beberapa kilometer saja dari kontrakanku.

*******
babarsarijogja, november 2001
Selamat Mengangkasa, Kawan Karibku, Yongky bin Ramsey


[ agustinus 1:32 PM [+] ]

diutak-atik tahun 2003