<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433</id><updated>2011-04-21T21:56:05.139-07:00</updated><title type='text'>BEDAH CERITA PENDEK AGUSTINUS WAHYONO BUAT BELAJAR</title><subtitle type='html'>Kelas ini sengaja dibuka oleh Agustinus Wahyono bagi siapa saja yang berniat belajar menulis cerpen, belajar mengamati cerpen atau belajar mengomentari/mengritik cerpen. (abang_onoy_bangka@yahoo.com)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106193230723658242</id><published>2003-08-26T14:11:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T14:11:47.293-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;SEEKOR ANJING MENELAN BOM &lt;/strong&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor anjing setinggi sekitar 75 cm berdiri tegap di tengah pintu utama restoran mewah itu. Ia menatap satu per satu orang-orang di dalam restoran mewah. Hidungnya kembang-kempis. Jalan nafasnya patah-patah. Lidahnya menjulur-julur. Air liurnya menetes-netes, memantulkan sinar pelangi elektrik dari mana-mana. Bulu-bulunya basah dan ditempeli lumpur. Tidak jelas lagi apakah anjing itu berbulu warna hitam, coklat atau jingga merata. Kuping, mata dan kakinya kudisan seperti kena kutuk kusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di dalam restoran itu memandang ke arahnya. Mereka melongo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjing siapa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing itu mengibaskan titik-titik air yang terjebak di sela-sela bulunya. Selesai. Lalu ia menjulur-julurkan lidahnya lagi. Air liurnya menetes-netes terus. Nafasnya terengah-engah. Sesekali lidahnya keluar menyapu moncongnya yang sedikit berbusa di sela-sela. Lalu menjulur lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia mencari seseorang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin dia mengenal seseorang di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik tadi kau tidak ikut ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan bau anjing itu merangsek ke dalam ruangan, menggapai hidung orang-orang. Serta-merta mereka menutup hidung masing-masing. Bau menjijikkan. Beberapa perempuan malah muntah. Seorang pelayan segera menutup pintu restoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya, aku ingat! Anjing tadi… anjing itulah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Aku ingat ciri-ciri moncongnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh telah tertinggal di lantai kamar mandi. Surya timur belum juga bangun dari dekapan selimut kaki langit timur, hanya tangannya masih mengulet manja. Jalan-jalan telah digerayangi kendaraan dengan kecepatan paling kencang yang bisa dilakukan mereka. Di trotoar orang-orang berpakaian rapi, juga ada yang berdasi, remaja berseragam putih-biru tampak berjalan tergesa-gesa. Alunan nafas mereka menderu. Sebentar-sebentar menengok jam. Mendesah. Dada berdetak lebih cepat. Sebagian dahi terbit kerut. Mereka seolah memburu matahari. Mereka seolah dikejar-kejar matahari. Mereka seolah tidak peduli matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor anjing berjalan perlahan di antara kaki-kaki mereka. Matanya sayu. Dilihatnya orang-orang. Diendusnya aroma tubuh mereka. Ia seolah mencari seseorang. Mungkin sedang mencari perlindungan. Atau, mungkin… Ia tidak menemukan siapa yang dibutuhkannya. Kemudian melangkah lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhenti di kaki tiang trafficlight, memiringkan bagian belakang badannya, terus mengangkat sebelah kaki belakangnya. Cuuuuuuur. Ia kencing di situ. Sementara ada sepasang mata mengamati anjing itu. Seekor anjing dengan ciri yang pernah didengarnya dari orang lain. Sepasang mata ini yakin bahwa itulah anjing tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas, ada anjing berbahaya!” teriaknya spontan sembari menunjuk anjing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula orang-orang tidak menggubrisnya. Tetapi sewaktu anjing itu menatap garang ke arah mereka dan dengan taring yang menyeruak di celah moncongnya, baru kemudian mereka sadar. Anjing bertubuh cukup besar itu siap mengejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaaaaaaa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waaaaaaa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Toloooong! Aduh aduh… ada anjing gila! Mati aku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Toloooong! Anakku, anakku… Tolong anakku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjing lu! Kagak punya mata ya? Liat-liat dong kalo lari!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak suasana berubah. Para pejalan kaki kalangkabut. Para pengendara sepeda motor langsung ngebut. Mereka lari tunggang-langgang, meninggalkan apa saja. Anak-anak kecil menangis ribut. Ada yang terjerembab. Ada yang bertabrakan. Pedagang kaki lima meninggalkan gerobak mereka. Beberapa orang malah menjarah makanan yang tak bertuan di gerobak dorong kaki lima. Pertokoan di sekitarnya segera tutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debu-debu beterbangan. Suara klakson, cacimaki dan teriakan bercampuraduk. Orang-orang di dalam mobil dan angkutan kota segera menoleh ke arah pergerakan massa yang panik. Kendaraan roda dua dan roda empat terjebak. Perempatan jalan berubah kacaubalau. Empat polisi lalulintas terkejut, tidak siap dengan keributan mendadak itu. Tapi anjing itu sudah berlalu dari tempat itu. Lenyap seperti angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Bung! Jangan main-main! Kau lihat sendiri kan akibatnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh, Om, ada anjing berbahaya. Itu, di sana! Barusan mengencingi kaki tiang trafficlight!” sahutnya sambil terus berlari kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu dari mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mereka yang pernah makan di restoran itu. Ciri-cirinya ya begitu itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waaaaaaa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan tadi menyebabkan pergerakan pejalan kaki dan kendaraan roda dua makin kencang. Panik, takut, khawatir, jijik dan lain-lain menulari sekitarnya. Jumlah polisi lalulintas yang minim terpaksa meninggalkan pos penjagaan, lalu turun ke jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ini politik bisnis yang kotor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, Om, anjing itu kotor sekali, kata mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan itu. Ini sebuah permainan bikinan pesaing restoran itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permainan? Silakan saja kalau Om mau bermain-main dengan anjing itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Busyet lu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halte bis dan stasiun kereta penuh orang-orang orang-orang berpakaian rapi, ada yang berdasi, remaja berseragam putih-biru menanti-nanti. Sebentar-sebentar menengok jam. Mendesah. Dada berdetak lebih cepat. Sebagian dahi terbit kerut. Mereka seolah menunggu matahari melintas. Mereka seolah tidak menginginkan matahari muncul sebelum mereka meninggalkan halte dan stasiun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulalit! Ning! Tulalit! Nong! Suara handphone. Seseorang meraihnya dari kalungnya. Ngobrol sebentar, kemudian dahinya berkerut. Matanya segera menyapu sekitar. Nafasnya mengalir cepat. Detak jantungnya pun terimbas. Tak ayal suara seseorang itu terpatah-patah. Kemudian dia berhenti berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tadi lihat di sekitar sini ada anjing, nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjing? Anjing penguasa atau anjing konglomerat maksudmu? Preman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hush! Bukan. Anjing ya anjing!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak lihat tuh. Emangnya kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjing itu… Kata kawanku, seekor anjing gawat telah berkeliaran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haaaaah!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halte bis dan juga stasiun kereta api tiba-tiba gempar. Para calon penumpang kocar-kacir, dan segera menghentikan apa saja; entah bis apa saja, metromini apa saja maupun kereta apa saja. Pedagang kaki lima tidak peduli dengan dagangan mereka; mau dijarah, ditendang atau pun dibiarkan, asalkan segera menyelamatkan diri. Semua orang tidak mau mengalami masalah terburuk sepanjang hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hoi, Mas, Mbak! Awas, ada anjing berbahaya! Menyingkirlah segeraaaaaa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu segera menoleh ke sumber suara. Lalu kembali menghadap istrinya yang sama-sama berdiri di ujung stasiun. Kemudian laki-laki itu menarik tangan istrinya beserta beberapa tas besar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo lekas minggat! Ada anjing berbahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” tanya istrinya sambil mencopot earphone radio 2 band-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada anjing berbahaya! Kita harus segera pergi dari sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjing gila, maksud Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Aku cuma dengar ‘awas, ada anjing berbahaya’. Itu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha iya. Mungkin anjing gila.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Aku cuma dengar ‘awas, ada anjing berbahaya’. Itu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, sudah! Aku bisa gila betul kalau bicara begini dengan Mas! Eh, tapi kita mau pergi ke mana lagi, lha wong kita baru pertama kali ini datang ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walahiyung! Modar aku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan menyapa ketakutan mendadak kota itu sejak kemunculan anjing itu. Tidak ada para pejalan kaki, kaki lima, pengemudi kendaraan roda dua dan roda tiga. Hanya mobil yang berani melintas. Itu pun dengan kecepatan tidak seperti biasa. Mereka tidak mau mengambil resiko terburuk dalam hidup, karena anjing itu munculnya mendadak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sejak kemunculan anjing yang serba mendadak dan sukar ditemukan jejak tegasnya itu setiap rumah memasang pagar besi setinggi-tingginya, dan selalu tertutup rapat. Untuk rumah-rumah tanpa halaman, tentu saja pemasangan pagar adalah pengecualian. Tak pelak usaha perakitan pagar besi dirundung untung berlipat-lipat, sehingga mulai merebak usaha sejenis di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa pula pemerintah setempat mengerahkan pasukan pemburu anjing dan petugas penjinak anjing. Pasukan khusus itu disebar ke segala penjuru kota bersama anjing-anjing pelacak. Di samping itu wajah kota mulai disemarakkan oleh gambar tempel dan pamflet tertulis “Awas, Ada Anjing Berbahaya!”, lengkap dengan profil anjing itu. Beberapa media massa pun turut mempublikasikan peringatan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengerahan pasukan penjinak anjing itu pun berdampak serius bagi ketentraman hidup anjing-anjing di kota itu. Terjadilah pembantaian terhadap anjing-anjing yang tak berdosa. Setiap anjing yang kedapatan liar di jalanan; entah memang anjing liar maupun anjing milik siapa, langsung ditembak tanpa ampun. Tidak ada interogasi macam-macam. Akibatnya, setiap hari selalu terpampang mayat anjing bergelimpangan di jalan, halaman rumah, emperan pertokoan, taman kota, halte, terminal, stasiun, pasar ikan atau area-area publik lainnya. Tak ayal para pemilik anjing atau penyayang anjing segera mengurung anjing mereka di dalam rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara anjing yang paling dicari-cari itu terkadang bermalas-malasan di bawah tumpukan kardus mi instan. Kepalanya digeletakkan begitu saja di potongan sampul majalah bergambar perempuan nyaris bugil. Mukanya murung. Dipandanginya trotoar yang lengang tersiram lampu mercuri. Ia hanya bisa mendengar lolongan histeris anjing-anjing di dalam rumah-rumah orang. Terkadang ia mengungsi entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah laboratorium, mata para peneliti yang tengah mengamati contoh air liur, kencing dan tinja anjing itu mendadak terbelalak. Dari ketiga contoh hasil ekresi anjing itu mereka menemukan suatu zat aditif yang sama, yakni mengandung bahan radioaktif yang biasa dipakai untuk bahan peledak. Seketika itu juga mereka melaporkan penemuan darurat itu ke bagian pertahanan dan keamanan kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa dan bagaimana bisa, berita tersebut langsung bocor di media massa. Maka tersiarlah kabar di mana-mana, baik lewat media tersebut maupun sudah dalam format pamflet atau spanduk lebar mengangkangi jalan-jalan. Mal, swalayan, shopping center, pertokoan, perkantoran, sarana-sarana pendidikan, rumah ibadah, halte, terminal, stasiun, kafe, discotique, nite club, karaoke, panti pijat, lokalisasi dan tempat-tempat apa saja otomatis sepi. Suasana kota betul-betul mencekam. Betapa tidak. Seekor anjing telah menelan bom yang masih sangat aktif dan setiap detik bisa meledak. Kekuatan ledakannya diperkirakan mencapai radius 1 km dengan meninggalkan sebuah lubang berdiameter seratus meter dan kedalaman beberapa belas meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjing milik siapa sih sebenarnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin milik teroris untuk meninggalkan jejak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teroris memakai anjing?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa, kan. Yang penting kan misi tercapai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, jangan-jangan anjing itu milik aparat. Entah sengaja atau tidak anjing itu menelan bom. Tapi entahlah, karena anjing itu belum tertangkap, belum diinterogasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan-jangan, anjing itu milik seorang elit politik yang sedang bermasalah. Barangkali ada motif kepentingan tertentu. Apalagi sudah ada isu kampanye.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, aku nggak tahu ah. Mending mikir, kapan kita bisa kerja lagi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan kalimat tersebut, anjing yang telah diidentifikasi ‘menelan bom’ itu tenang melintas di ujung gang dekat mereka nongkrong. Sontak mereka melotot, memastikan apakah itu anjing yang meresahkan kota. Setelah yakin, mereka langsung bergerak. Seorang lainnya segera melaporkan berita tersebut ke aparat terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu dia! Itu dia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kejar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing itu mendengar teriakan mereka. Ia langsung lari sekencang-kencangnya, berbelok ke lorong-lorong, lalu menghilang dalam gorong-gorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kejar? Apa kita mau mati konyol?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya ya, kalau tiba-tiba bom di perutnya meledak, tamatlah riwayat kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih doyan hidup. Mending kabur dari kota sialan ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta Senja Ekonomi meninggalkan stasiun kota. Kali ini gerbong betul-betul sarat muatan. Orang-orang berjubel seperti hendak mudik lebaran atau masa berlibur sekolah menjelang tahun ajaran baru, bahkan tidak sedikit yang nekat duduk di atap gerbong, walau sudah ditambah beberapa gerbong. Mereka ingin pulang dulu sebelum anjing yang menelan bom itu tertangkap. Sebab, selama anjing itu masih berkeliaran, muncul tiba-tiba dan sukar dideteksi, nyawa mereka jelas terancam setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keparat betul anjing itu. Masak belum apa-apa kita sudah pulang lagi. Masak orang kalah ama anjing. Apa kelak kata tetangga kita. Dasar anjing siluman!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” tanya istrinya sambil mencopot earphone radio 2 band-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, barang utangan itu terus saja kamu dengarkan! Ini soal anjing bangsat itu!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Mas, barang utangan ini gimana ngelunasinnya. Belum utang lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjing betul anjing itu! Nggak bisa lihat orang mau sukses!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya tidak menanggapi. Ia agak risih dengan umpatan-umpatan yang selalu begitu ringan melayang dari mulut suaminya. Untuk mengalihkan gerutuan suaminya, ia  menekuk tubuhnya ke kolong tempat duduk mereka, pura-pura mencari sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaaaaaaas…. Asssss……..!” Mukanya pucat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;babarsariyogya, maret 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) terilham dari sajak Narasi Anjing yang Menelan Bom karya Nanang Suryadi, 2002   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini masuk 5 besar Lomba Menulis Cerpen Hadiah Tepak Dewan Kesenian Kabupaten Bengkalis Riau, 18 Agustus 2003]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Sang Guru Sastra Denmas Marto via email 19 Maret 2003:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengomentari cerpen "Seekor Anjing Menelan Bom"-mu, aku akan mulai dengan mengutip pendapat pengamat film JB Kristanto di lembaran budaya "Bentara", Kompas, 7 September 2001. Ia menguraikan panjang lebar perihal koherensi pada karya film (yang juga sering disebut "logika-dalam") dalam tulisan berjudul Film Indonesia dan Akal Sehat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Logika-dalam ini datang saat sang pencipta mengawali ciptaannya dalam bentuk apa pun. Ia bisa berimajinasi berupa karakter satu tokohnya, bisa juga plot sebuah cerita, sebuah masalah tertentu, sebuah citra tertentu atau sebuah gambar tertentu. Begitu sudah menetapkan awalan tadi, maka tercipta pulalah sebuah logika tertentu, yang secara teori tetap berpatokan pada ilmu logika umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, sang pencipta tidak lagi bebas. Ia harus mematuhi konsekuensi logis dari yang sudah ditetapkan sebelumnya. Ia tidak lagi bisa semena-mena memperlakukan tokoh ciptaannya, atau jalan cerita yang sudah disusun awalannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan hukum umum dan dasar penciptaan karya seni dari jenis apa pun. Hal ini pula yang menyebabkan perlunya ada penelitian khusus dan mendalam mengenai apa yang diperlukan, sampai ke soal-soal yang sangat sepele sekali seperti jenis tata rambut, pakaian, tingkah laku, dan lain-lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika-dalam inilah yang menyebabkan adegan berlari di atap-atap rumah atau perkelahian di pucuk bambu dalam film Crouching Tiger Hidden Dragon karya sutradara Taiwan, Ang Lee, menjadi enak ditonton dan bukan hal yang tak masuk akal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ia membicarakan cerita film, namun pendapatnya itu berlaku pula untuk setiap bentuk cerita kreatif lainnya, termasuk, dalam hal ini, cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebelum mengomentari "logika dalam" cerpenmu, akan kutengarai perubahan mencolok dalam "Seekor Anjing Menelan Bom" dibandingkan dengan cerpen-cerpenmu terdahulu (Kemajuan, nih ye?). Cerpen "Anjing" sangat deskriptif. Inilah cerpen Onoy yang showing, dan bukan telling – walaupun kadang-kadang masih tergelincir juga menggunakan deskripsi yang kurang imajinatif, seperti "Suasana kota betul-betul mencekam." (Nggak usah bilang "mencekam"; gambarkanlah "kemencekaman" itu, Mas!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun, Onoy berhasil menahan dirinya untuk tidak menjejalkan komentar pribadinya (bukan komentar tokoh ceritanya) ke tengah-tengah narasi. Kalaupun mau berkomentar, Onoy "meminjam" tokoh anonim untuk melontarkannya dalam dialog. Kerja bagus, Noy, dan perlu terus dikembangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang soal logika dalam. Cerpenmu tidak memberikan jawaban memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bagaimana mungkin SELURUH kota bisa begitu gempar dengan ulah SEEKOR anjing liar? Tidak adakah orang yang cukup punya nyali untuk menggertak anjing itu, memukulnya, melemparinya dengan batu, atau sekalian menembaknya? (Ingat, kabar bahwa anjing itu menelan bom baru bocor sekian hari kemudian. Jadi, kalau pada pemunculan pertama langsung saja ditembak, memangnya kenapa?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bagaimana mungkin "anjing yang paling dicari-cari itu" terus lolos dari sergapan, bahkan setelah pasukan penjinak anjing dikerahkan? Bagaimana ia bisa muncul begitu liar dan menggemparkan (sekali lagi) SELURUH kota, namun juga "terkadang bermalas-malasan di bawah tumpukan kardus mi instan"? Kurasa, anjing yang bisa menakut-nakuti satu kota tentunya sosoknya dahsyat juga, sehingga tidak mungkin baginya menyelinap diam-diam tanpa ketahuan. Atau ini anjing siluman? Kalau anjing siluman, seharusnya anjing ini sudah cukup menakutkan tanpa perlu diembel-embeli "menelan bom".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, di tengah kepanikan seheboh itu, di mana untuk keluar rumah saja takut, kok masih sempat sih orang membangun pagar? Pakai bodyguard ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, bom berkekuatan sedahsyat itu sebesar apa sih? Bagaimana si anjing bisa menyimpan bom sebesar dan seberat itu di dalam perutnya dan tetap berlenggang kangkung begitu rupa ke seluruh penjuru kota? Bom itu ditelan oleh si anjing sendiri, atau ditanamkan oleh entah siapa ke dalam perutnya? Kalau si anjing yang melakukannya, apa ya bom itu tidak telanjur lebih dulu meledak saat si anjing berusaha mengremusnya (atau dia bisa menelan bom itu bulat-bulat)? Kalau bahan radioaktif ditemukan dalam hasil ekresi anjing itu (jadi, kubayangkan bom itu sudah terurai), bagaimana bom itu "masih sangat aktif dan sewaktu-waktu bisa meledak"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak terjawabnya pertanyaan-pertanyaan itu, klimaks cerpenmu yang hiruk-pikuk itu jadi nonsens. Bagaimana, Mas Onoy?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kecil dari Harry Potter dan Kamar Rahasia. Di situ Harry antara lain "memaksa" Lucius Malfoy melemparkan kaus kaki kotor kepada peri rumahnya. Akibatnya, peri rumah itu jadi "merdeka". Nah, adegan ini akan nonsens kalau Rowling tidak lebih dulu membentuk logika dalam bahwa di dunia Harry Potter, peri rumah akan merdeka bila tuannya memberinya pakaian (termasuk kaus kaki ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106193230723658242?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106193230723658242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106193230723658242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106193230723658242' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106193195442335317</id><published>2003-08-26T14:05:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T14:08:23.200-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;TEMPAT DAMAI DI ATAS PELANGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kunjungan khusus ke perusahaan t-shirt C 59 Bandung waktu lalu, kusempatkan diri singgah ke Bogor. Nyaris lima tahun aku tidak mengunjungi Kota Hujan ini, semenjak aku tidak lagi terlibat cinta dengan “seseorang”. Ya, hampir lima tahun, terhitung sejak kami memutuskan tali cinta yang, bagiku, percuma. Akhirnya kami sepakat berpisah dan bebas menentukan sendiri pilihan atas jalan-jalan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mantan gadismu itu sudah menikah, Noy,” tutur kawanku beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa bulan setelah kalian putus. Mungkin gara-gara dia kecewa pada dirimu yang hanya suka pacaran tanpa pernah sudi menikahinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kau terlalu berprasangka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar, tampaknya aku lebih berani berpacaran saja ketimbang menikah. Tanteku sendiri pernah mencibir, “Kamu itu nggak berani kawin aja.” Aku malu sekali dibilang begitu. Tapi, jujur, aku memang takut. Sebab aku masih takut, ragu dan bimbang untuk memulai sebuah kehidupan baru yang disebut rumah tangga, keluarga baru. Aku takut kehilangan kebebasanku. Hal itu berlanjut hingga usiaku melewati 30 tahun – tapi sebagian orang bilang 30 tahun belum terlalu tua. Ketika kini aku berani, justru belum kusiapkan gadis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kini aku kembali ke kota yang telah sedikit-banyak memberiku kenangan. Masih seperti dulu, saban aku sampai, gerimis selalu menyambut kehadiranku. Itulah keramahannya hingga kini tetap terasa. Aku suka sekali. Aku selalu ingin segera bertemu dengannya. Menyentuhnya. Memilin jarum-jarum cair yang tak pernah mengenal musim. Dia akan merengkuhku dengan dekapan basahnya. Kebasahan yang menghangatkan pertemuan yang membuatku senantiasa rindu pada Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu hanya kerinduan pada hujannya, pada sesuatu yang tak akan pernah menantangku “nikahi aku kalo emang kamu berani”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, seingatku, aku belum membuat janji untuk bertemu “seseorang” alias gadis yang pernah selama bertahun-tahun bersemayam dalam hatiku itu. Kebetulan aku pun tak tahu berapa nomor HP-nya dan alamat emailnya. Berarti, aku bisa memberi kejutan padanya. Ya, itu keinginanku. Paling tidak, aku bisa menengoknya. Tidak lebih, dan memang aku tidak punya maksud-maksud mengusut benang cinta yang telah lama kusut, terputus, hanyut. Yah, meskipun aku masih sangat mencintainya sampai detik ini. Mencintainya, karena dialah cinta pertama saya yang paling menggebu-gebu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah aku tak merindukannya lagi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan-kendaraan di sekitarku tetap melaju, menembus guyuran gerimis. Mereka terbiasa begitu. Sementara sembari berlindung di halte, kurapatkan jaketku demi menolak sergapan dingin nan basah. Sebab, aku hanya suka dingin tanpa dicampuri basah. Dan, kubiarkan pertanyaan seputar “seseorang” itu merambati jiwaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm, mungkin anak-anaknya sudah dua atau bahkan lebih. Mungkin rumahnya sebesar istana mungil yang asri dan penuh kehangatan. Mungkin suaminya tampan, berwibawa dan kaya raya. Mungkin seorang direktur sebuah perusahaan termasyhur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dia memang seorang gadis yang beruntung, dan suaminya justru lebih beruntung lagi. Di dunia ini, pria itulah yang paling berbahagia, karena memperoleh istri yang sebaik dia. Dulu aku ingin seberuntung suaminya kini. Dulu aku ingin bisa memegang erat-erat gadis itu selamanya. Tapi dasar memang bukan keberuntunganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah!” desahku pendek. Ada setumpuk sesal menindih batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama kunantikan gerimis reda. Pun kendati reda, sesaat saja akan kembali mencurahkan kebasahannya. Kupikir, tak mengapa. Inilah sebabnya kenapa disebut Kota Hujan. Apalagi sewaktu kutengok langit lapang terbentang dengan bongkahan-bongkahan mendung melintas. Aku berjalan kaki diiringi aroma tanah basah kota ini. Sejuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar separo jalan menuju ke rumah “seseorang” itu mendadak kulihat pelangi menukik. Pita sutera berwarna-warni itu melengkung, cembung membentuk busur dan kedua ujungnya menjejak di kaki langit dengan jarak renggang yang sukar kuhitung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waow, indah nian, guman takjubku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika aku teringat masa kecilku, saat saya pertama kali melihatnya, saat pertama kali ibuku berkisah tentang pelangi. Waktu itu saya bersama ibu sedang duduk di teras depan. Barangkali hanya pikiranku yang saat itu tiba-tiba terhanyut menuju masa lampau melalui pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelangi itu adalah selendang para bidadari, yang digunakan sebagai jembatan untuk turun ke bumi,” cerita ibuku dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bidadari itu siapa, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka adalah putri-putri kahyangan yang cantik jelita tiada tara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cantik seperti Ibu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku hanya tersenyum. Aku pun tersenyum. Tapi senyum ibuku manis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa selendang itu nggak basah, padahal ‘kan habis kena air hujan? Terus, kenapa cuma munculnya sehabis hujan, Bu? Kok nggak hari selain hujan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku tidak menjawab. Entah kenapa. Atau, barangkali saja ibu kebingungan mencari kata untuk membuka pintu pengertianku. Untuk menerangkan dengan dalil-dalil ilmu alam, mana mungkin di seusiaku yang belum genap lima tahun itu aku sanggup memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jumlah selendang itu,” lanjut ibuku tanpa hirau pada pertanyaanku tadi dan aku pun tidak peduli pada pertanyaanku sendiri, “ada tujuh dengan warna berbeda. Selendang itu tersusun menjadi jembatan angkasa. Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang dipenuhi jalan permata, tanah-tanah selembut sutera, rumah-rumah mirip istana, sungai susu, telaga madu, tanpa matahari yang menggigit kulit dan tanpa bulan yang menyeramkan, langit berwana-warni, dan para penghuninya tidak suka marah-marah atau berkelahi. Indah dan penuh kedamaian. Tempat itu disebut kahyangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kahyangan itu planet apa, Bu?” tanyaku seolah terbawa keindahan warna pelangi yang menjelma sebagai selendang serta kehebatannya menjadi jembatan menuju tempat bernama kahyangan yang, kata ibuku tadi, indah dan penuh kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi ibuku tersenyum. Ibuku tahu bahwa aku cuma tahu kisah-kisah tentang planet-planet yang sering muncul dalam film-film kesukaanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kahyangan itu surga,” jawab beliau seraya mencengkram pipiku dengan gemasnya. Aku mengaduh, karena memang sakit. Sakit-sakit menyenangkan, karena cengkraman itu adalah bahasa kasih tersendiri. Aku hafal sentuhan kasih ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu kupikir, salah satu planet yang sering muncul dalam film-film adalah kahyangan. Pantas saja orang-orang bumi berlomba-lomba mengungsi ke planet itu, berperang demi planet, dan bahagia di planet itu. Pasti planet itulah kahyangan, seperti yang disebutkan ibuku. Tak salah lagi, pasti planet seperti dalam film-film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya, setiap habis hujan, aku selalu mencari ibuku. Bertanya lagi tentang selendang dan kahyangan. Dan ibuku selalu memberi waktu untuk berkisah. Entah dari mana ibuku memperoleh bahan-bahannya. Bagiku, ibuku adalah guru sejatiku, yang mengajarkan apa saja untuk memuaskan kehausan pengetahuan kecilku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka sekali dengan dunia atas langit, dunia kahyangan ciptaan ibuku itu, atau planet kahyangan seperti kisah-kisah dalam film-film kesukaanku. Aku membayangkan sebuah istana, taman dan segala kemeriahannya. Aku membayangkan para penghuninya, robot-robotnya. Aku membayangkan permainan-permainan yang biasa kumainkan bersama kawan-kawan kecilku. Anak-anak di sana pasti baik hati dan tidak jahil. Aku membayangkan makanan yang serba enak, buah-buahan yang bertaburan. Aku membayangkan udara sejuk dan mentari tak jahat menyengat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak nggak sih orang di planet kahyangan itu, Bu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin ke sana, Bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Ibu selalu berdoa untukmu, supaya kelak kamu bisa ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doa itu semacam piring terbang yang bisa membawaku ke planet surga, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata Ibu tadi, hanya orang baik yang akan bisa ke sana. Kalau doa pun bisa mengantarkan aku ke sana, lantas kebaikan itu untuk apa, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelak kamu akan mengerti, untuk apa doa dan untuk apa pula kebaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang aja, Bu, jangan kelak,” rengekku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu kupikir, apa sih susahnya memberiku pengertian. Aku sudah jenuh dengan janji-janji orang dewasa. Dulu ketika kakak-kakakku pergi berenang, aku tidak diajak. Kemudian ayah membujukku dengan seutas janji yang tak pernah terwujud. Aku dikibulin. Kenapa orang dewasa justru mengajariku berjanji palsu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kahyangan itu alangkah indahnya, Nak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kok di planet kahyangan itu ada perang-perang, Bu?” serobotku lagi. “Apa memang orang baik itu harus berperang dulu demi mempertahankan planet kahyangan itu, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku tidak menyahut. Soalnya ibuku tidak suka menonton film-film kesukaanku. Ibuku lebih suka menonton acara Mana Suka Siaran Niaga- yang isinya barang-barang belanjaan melulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersadar dari kisah usang ibuku tatkala aku teringat kembali pada arah ayunan kakiku. Entah mengapa, ketika kini aku diperkenankan untuk melihat pelangi lagi, lagi dan entah hingga kapan lagi, betapa aku mengkhayalkan berada di planet kahyangan, tempat yang penuh kedamaian itu seperti kisah ibuku dulu. Aku ingin ke sana dalam keabadian, bukan kefanaan bumi yang menyesakkan dadaku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan menuju tempat yang penuh keindahan dan kedamaian hati yang abadi?” aku bertanya sendiri. “Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Begitukah?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu mendadak buyar sewaktu kudengar suara sebuah mobil bakal melintas. Aku memperhatikan jalan sekitarku, apakah ada daerah genangan air. Aku harus menghindari batas genangan air, agar tidak kecipratan. Kemudian kulirik mobil itu. Tampak pengendara dan penumpangnya adalah keluarga. Ada bapak-ibu, nenek-kakek dan anak-anak. Sementara suara unggas bersahutan di antara pepohonan sekelilingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Suci. Sebab, kahyangan adalah suci. Begitukah?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba keraguan mengepung diriku. Aku mulai ragu, apakah aku sanggup meneruskan perjalananku menuju rumah mantan gadisku itu. Dari relung hatiku perlahan-lahan muncul semacam rambu-rambu. “Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana,” kata-kata ibuku yang mendadak terngiang-ngiang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas masa lalu bukan berarti bisa kupakai untuk menyingkirkan realitas masa kini. Dulu dia adalah pacarku, tetapi cincin kawin dilingkarkan di batang jemari manisnya oleh pria lain. Aku tak berkutik. Kami tak punya ikatan apa-apa. Kami tak punya komitmen apa-apa. Aku harus terus-menerus menyadari itu. Aku tidak boleh meresahkan keharmonisan keluarga mereka, sebagaimana ibuku tak pernah ribut kecil dengan mendiang ayah menyangkut masa lalu. Tapi aku masih sangat mencintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun-daun renta berguguran diterpa angin basah. Aku berhenti sejenak. Keraguan telah menghentikan langkahku. Aku memandang sekitarku bagaikan tersadar dari mimpi buruk. Ya, mimpi buruk. Kerinduanku yang telah terkubur, tiba-tiba bangkit, dan hendak menghasut perasaan dan akal sehatku. Masa lalu rupa-rupanya hendak menyeretku dan akan menyesahkanku ke dalam kehidupan yang bukan lagi milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah, kenapa kesepian dan kerinduan semu ini telah menyesatkanku ke masa lalu? Waduh, celaka sekali kalau aku tak segera mengendalikan emosi dan pikiranku ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku kuatir jika pertemuan itu nantinya justru hanya sandiwara lucu sebabak tapi sanggup menyayat luka lama bahkan kembali melukai aku dan dia. Betapa kurasa konyol sekali. Sia-sia tapi malah bisa menjadi musibah berikutnya. Aku tidak ingin diriku terjebak romantisme usang yang sia-sia. Aku tidak mau kesia-siaan itu menciptakan pelangi semu yang sudah bukan milikku. Apa hebatnya lagi jika lantas dituduh sebagai perusak suasana surga dunia yang telah terbina dalam istana cinta orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Aku tidak mau merampok surga itu. Aku tidak mau menjajah kahyangan itu. Perempuan itu harus menikmati hidup fananya sendiri dengan kebahagiaan surgawi yang sanggup dinikmatinya bersama keluarga barunya. Mungkin pelangi selalu ada di rumah mereka, menjadi kahyangan itu. Itu milik mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membelok ketika sampai di sebuah pertigaan. Seketika sore itu juga aku mengurungkan keinginanku menengoknya. Aku belum siap berjumpa dengan dia sekeluarga. Orang-orang di sekitarku tak peduli padaku; orang asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, biarlah semua yang terjadi tetap seperti adanya di masa lalu, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukuplah di masa lalu aku berada pada waktu dan tempat yang keliru. Setelah semua terjadi dulu, aku tidak ingin melintasi jalan menuju tempat itu lagi. Sekarang bukan waktunya untuk mengutak-atik soal kesalahan. Aku tahu pasti bahwa tidak akan ada kedamaian di sana bila luka masa lampau kubawa serta ke masa kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya orang-orang yang hidupnya baik yang akan bisa ke sana,” kata ibuku yang sangat kuingat. Orang yang hidupnya baik, bukan penuh lukalaralukalama masa lampau. Aku tidak tengah berada di masa lampau. Aku sedang menuju masa-masa di depanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plak! Kutendang kencang-kencang sepotong ranting patah di tepi jalan yang tengah kulalui, seolah ingin kutendang jauh-jauh ‘luka’ itu. Sementara kesejukan mendaki tangga-tangga kedinginan, menembus pakaianku dan mulai menjamah pori-poriku. Aku kian memeluk diriku sendiri supaya kehangatanku dapat merata dan mengusir jari-jari dingin yang berusaha mengusap pori-pori tubuhku melalui sela-sela jaketku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku tahu, ke mana aku harus melangkah di antara sisa-sisa titik-titik gerimis yang mengantarkan langkahku kembali menuju sebuah halte. Seorang pria sedang duduk santai sambil membaca koran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permisi, Mas,” sapaku pelan, “saya mau nanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria tersebut meresponku dengan menurunkan korannya, kemudian menatapku seraya tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ke terminal, naik angkot yang mana, ya, Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naik yang ini aja, Mas,” jawabnya dengan langsung melihat ke samping, ke arah jalan. Kebetulan sebuah angkot terlihat hendak menuju halte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Mas,” kataku sembari turun dari halte dan melambai sebagai isyarat kepada sopir angkot bahwa aku mau menumpang angkotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kembali kasih.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera naik angkot itu, tapi orang tadi tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam angkot ini aku terus teringat pada ibuku di Bekasi dan beberapa saudaraku yang masih tinggal dengan beliau. Tiga bulan aku belum mudik, semenjak aku pindah bekerja di Madiun. Aku ingin mengunjungi ibuku selagi mungkin ada pula pelangi singgah di sana. Paling tidak, di sana sudah menunggu keponakan-keponakanku yang lucu dan, bagiku, cukup mewarnai kegamanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari perlahan muncul di antara gumpalan-gumpalan awan. Cahaya tipisnya menembus jendela angkot dan mengusap-usap pipi kasarku. Hangatnya sehangat jemari ibuku yang selalu membelai pipiku seraya mendongeng tentang pelangi, “Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang bernama kahyangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;Untuk seorang kawan, R. Taufan Rahardian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat di situs cybersastra.net, 9 Mei 2003, kemudian di harian Sinar Harapan, 7 Juni 2003]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar From: Asvega To:&lt;medyloekito@s... &gt;Sent:Saturday, May 24, 2003 7:27 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Tempat Damai diatas Pelangi karya Agustinus wahyonno. Bahasanya lumayan bagus , " Memilin jarum-jarum cair yang tak mengenal musim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelesaian cerita agak nggak berguna, kalo menurutku. Mengenai angkot dan orang duduk sambil mengucapkan, "Kembali kasih". Nggak usah pake itu mungkin lebih bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas flashback juga, agak panjang. Tapi cukup dalam dan bahasa juga bagus, tolong "lukalalulukalama" dipisah. Orang nggak mau baca tulisan aneh gitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Asvega adalah puteri Medy Lukito]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen telah matang untuk antologi cerpen "Penerbangan Dini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TEMPAT DAMAI DI ATAS PELANGI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kunjungan khusus ke sebuah pabrik kaos oblong di Tangerang waktu lalu, kusempatkan diri singgah ke Bogor. Nyaris lima tahun aku tidak mengunjungi Kota Hujan ini, semenjak aku tidak lagi terlibat cinta dengan “seseorang”. Ya, hampir lima tahun, terhitung sejak kami memutuskan tali cinta yang, bagiku, percuma. Akhirnya kami sepakat berpisah dan bebas menentukan sendiri pilihan atas jalan-jalan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mantan gadismu itu sudah menikah, Noy,” tutur kawanku beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa bulan setelah kalian putus. Mungkin gara-gara dia kecewa pada dirimu yang hanya suka pacaran tanpa pernah sudi menikahinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kau terlalu berprasangka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar, tampaknya aku lebih berani berpacaran saja ketimbang menikah. Tanteku sendiri pernah mencibir, “Kamu itu nggak berani kawin aja.” Aku malu sekali dibilang begitu. Tapi, jujur, aku memang takut. Sebab aku masih takut, ragu dan bimbang untuk memulai sebuah kehidupan baru yang disebut rumah tangga, keluarga baru. Aku takut kehilangan kebebasanku. Hal itu berlanjut hingga usiaku melewati 30 tahun – tapi sebagian orang bilang 30 tahun belum terlalu tua. Ketika kini aku berani, justru belum kusiapkan gadis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kini aku kembali ke kota yang telah sedikit-banyak memberiku kenangan. Masih seperti dulu, saban aku sampai, gerimis selalu menyambut kehadiranku. Itulah keramahannya hingga kini tetap terasa. Aku suka sekali. Aku selalu ingin segera bertemu dengannya. Menyentuhnya. Memilin jarum-jarum cair yang tak pernah mengenal musim. Dia akan merengkuhku dengan dekapan basahnya. Kebasahan yang menghangatkan pertemuan yang membuatku senantiasa rindu pada Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu hanya kerinduan pada hujannya, pada sesuatu yang tak akan pernah menantangku “nikahi aku kalo emang kamu berani”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, seingatku, aku belum membuat janji untuk bertemu “seseorang” alias gadis yang pernah selama bertahun-tahun bersemayam dalam hatiku itu. Kebetulan aku pun tak tahu berapa nomor HP-nya dan alamat emailnya. Berarti, aku bisa memberi kejutan padanya. Ya, itu keinginanku. Paling tidak, aku bisa menengoknya. Tidak lebih, dan memang aku tidak punya maksud-maksud mengusut benang cinta yang telah lama kusut, terputus, hanyut. Yah, meskipun aku masih sangat mencintainya sampai detik ini. Mencintainya, karena dialah cinta pertama saya yang paling menggebu-gebu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah aku tak merindukannya lagi?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan-kendaraan di sekitarku tetap melaju, menembus guyuran gerimis. Mereka terbiasa begitu. Sementara sembari berlindung di halte, kurapatkan jaketku demi menolak sergapan dingin nan basah. Sebab, aku hanya suka dingin tanpa dicampuri basah. Dan, kubiarkan pertanyaan seputar “seseorang” itu merambati jiwaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm, mungkin anak-anaknya sudah dua atau bahkan lebih. Mungkin rumahnya sebesar istana mungil yang asri dan penuh kehangatan. Mungkin suaminya tampan, berwibawa dan kaya raya. Mungkin seorang direktur sebuah perusahaan termasyhur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dia memang seorang gadis yang beruntung, dan suaminya justru lebih beruntung lagi. Di dunia ini, pria itulah yang paling berbahagia, karena memperoleh istri yang sebaik dia. Dulu aku ingin seberuntung suaminya kini. Dulu aku ingin bisa memegang erat-erat gadis itu selamanya. Tapi dasar memang bukan keberuntunganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah!” desahku pendek. Ada setumpuk sesal menindih batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama kunantikan gerimis reda. Pun kendati reda, sesaat saja akan kembali mencurahkan kebasahannya. Kupikir, tak mengapa. Inilah sebabnya kenapa disebut Kota Hujan. Apalagi sewaktu kutengok langit lapang terbentang dengan bongkahan-bongkahan mendung melintas. Aku berjalan kaki diiringi aroma tanah basah kota ini. Sejuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar separo jalan menuju ke rumah “seseorang” itu mendadak kulihat pelangi menukik. Pita sutera berwarna-warni itu melengkung, cembung membentuk busur dan kedua ujungnya menjejak di kaki langit dengan jarak renggang yang sukar kuhitung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waow, indah nian, guman takjubku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika aku teringat masa kecilku, saat saya pertama kali melihatnya, saat pertama kali ibuku berkisah tentang pelangi. Waktu itu saya bersama ibu sedang duduk di teras depan. Barangkali hanya pikiranku yang saat itu tiba-tiba terhanyut menuju masa lampau melalui pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelangi itu adalah selendang para bidadari, yang digunakan sebagai jembatan untuk turun ke bumi,” cerita ibuku dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bidadari itu siapa, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka adalah putri-putri kahyangan yang cantik jelita tiada tara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cantik seperti Ibu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku hanya tersenyum. Aku pun tersenyum. Tapi senyum ibuku manis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa selendang itu nggak basah, padahal ‘kan habis kena air hujan? Terus, kenapa cuma munculnya sehabis hujan, Bu? Kok nggak hari selain hujan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku tidak menjawab. Entah kenapa. Atau, barangkali saja ibu kebingungan mencari kata untuk membuka pintu pengertianku. Untuk menerangkan dengan dalil-dalil ilmu alam, mana mungkin di seusiaku yang belum genap lima tahun itu aku sanggup memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jumlah selendang itu,” lanjut ibuku tanpa hirau pada pertanyaanku tadi dan aku pun tidak peduli pada pertanyaanku sendiri, “ada tujuh dengan warna berbeda. Selendang itu tersusun menjadi jembatan angkasa. Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang dipenuhi jalan permata, tanah-tanah selembut sutera, rumah-rumah mirip istana, sungai susu, telaga madu, tanpa matahari yang menggigit kulit dan tanpa bulan yang menyeramkan, langit berwana-warni, dan para penghuninya tidak suka marah-marah atau berkelahi. Indah dan penuh kedamaian. Tempat itu disebut kahyangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kahyangan itu planet apa, Bu?” tanyaku seolah terbawa keindahan warna pelangi yang menjelma sebagai selendang serta kehebatannya menjadi jembatan menuju tempat bernama kahyangan yang, kata ibuku tadi, indah dan penuh kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi ibuku tersenyum. Ibuku tahu bahwa aku cuma tahu kisah-kisah tentang planet-planet yang sering muncul dalam film-film kesukaanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kahyangan itu surga,” jawab beliau seraya mencengkram pipiku dengan gemasnya. Aku mengaduh, karena memang sakit. Sakit-sakit menyenangkan, karena cengkraman itu adalah bahasa kasih tersendiri. Aku hafal sentuhan kasih ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu kupikir, salah satu planet yang sering muncul dalam film-film adalah kahyangan. Pantas saja orang-orang bumi berlomba-lomba mengungsi ke planet itu, berperang demi planet, dan bahagia di planet itu. Pasti planet itulah kahyangan, seperti yang disebutkan ibuku. Tak salah lagi, pasti planet seperti dalam film-film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya, setiap habis hujan, aku selalu mencari ibuku. Bertanya lagi tentang selendang dan kahyangan. Dan ibuku selalu memberi waktu untuk berkisah. Entah dari mana ibuku memperoleh bahan-bahannya. Bagiku, ibuku adalah guru sejatiku, yang mengajarkan apa saja untuk memuaskan kehausan pengetahuan kecilku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka sekali dengan dunia atas langit, dunia kahyangan ciptaan ibuku itu, atau planet kahyangan seperti kisah-kisah dalam film-film kesukaanku. Aku membayangkan sebuah istana, taman dan segala kemeriahannya. Aku membayangkan para penghuninya, robot-robotnya. Aku membayangkan permainan-permainan yang biasa kumainkan bersama kawan-kawan kecilku. Anak-anak di sana pasti baik hati dan tidak jahil. Aku membayangkan makanan yang serba enak, buah-buahan yang bertaburan. Aku membayangkan udara sejuk dan mentari tak jahat menyengat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak nggak sih orang di planet kahyangan itu, Bu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin ke sana, Bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Ibu selalu berdoa untukmu, supaya kelak kamu bisa ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doa itu semacam piring terbang yang bisa membawaku ke planet surga, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata Ibu tadi, hanya orang baik yang akan bisa ke sana. Kalau doa pun bisa mengantarkan aku ke sana, lantas kebaikan itu untuk apa, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelak kamu akan mengerti, untuk apa doa dan untuk apa pula kebaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang aja, Bu, jangan kelak,” rengekku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu kupikir, apa sih susahnya memberiku pengertian. Aku sudah jenuh dengan janji-janji orang dewasa. Dulu ketika kakak-kakakku pergi berenang, aku tidak diajak. Kemudian ayah membujukku dengan seutas janji yang tak pernah terwujud. Aku dikibulin. Kenapa orang dewasa justru mengajariku berjanji palsu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kahyangan itu alangkah indahnya, Nak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kok di planet kahyangan itu ada perang-perang, Bu?” serobotku lagi. “Apa memang orang baik itu harus berperang dulu demi mempertahankan planet kahyangan itu, Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku tidak menyahut. Soalnya ibuku tidak suka menonton film-film kesukaanku. Ibuku lebih suka menonton acara Mana Suka Siaran Niaga yang isinya barang-barang belanjaan melulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersadar dari kisah usang ibuku tatkala aku teringat kembali pada arah ayunan kakiku. Entah mengapa, ketika kini aku diperkenankan untuk melihat pelangi lagi, lagi dan entah hingga kapan lagi, betapa aku mengkhayalkan berada di planet kahyangan, tempat yang penuh kedamaian itu seperti kisah ibuku dulu. Aku ingin ke sana dalam keabadian, bukan kefanaan bumi yang menyesakkan dadaku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan menuju tempat yang penuh keindahan dan kedamaian hati yang abadi?” aku bertanya sendiri. “Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Begitukah?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu mendadak buyar sewaktu kudengar suara sebuah mobil bakal melintas. Aku memperhatikan jalan sekitarku, apakah ada daerah genangan air. Aku harus menghindari batas genangan air, agar tidak kecipratan. Kemudian kulirik mobil itu. Tampak pengendara dan penumpangnya adalah keluarga. Ada bapak-ibu, nenek-kakek dan anak-anak. Sementara suara unggas bersahutan di antara pepohonan sekelilingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Suci. Sebab, kahyangan adalah suci. Begitukah?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba keraguan mengepung diriku. Aku mulai ragu, apakah aku sanggup meneruskan perjalananku menuju rumah mantan gadisku itu. Dari relung hatiku perlahan-lahan muncul semacam rambu-rambu. “Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana,” kata-kata ibuku yang mendadak terngiang-ngiang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas masa lalu bukan berarti bisa kupakai untuk menyingkirkan realitas masa kini. Dulu dia adalah pacarku, tetapi cincin kawin dilingkarkan di batang jemari manisnya oleh pria lain. Aku tak berkutik. Kami tak punya ikatan apa-apa. Kami tak punya komitmen apa-apa. Aku harus terus-menerus menyadari itu. Aku tidak boleh meresahkan keharmonisan keluarga mereka, sebagaimana ibuku tak pernah ribut kecil dengan mendiang ayah menyangkut masa lalu. Tapi aku masih sangat mencintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun-daun renta berguguran diterpa angin basah. Aku berhenti sejenak. Keraguan telah menghentikan langkahku. Aku memandang sekitarku bagaikan tersadar dari mimpi buruk. Ya, mimpi buruk. Kerinduanku yang telah terkubur, tiba-tiba bangkit, dan hendak menghasut perasaan dan akal sehatku. Masa lalu rupa-rupanya hendak menyeretku dan akan menyesahkanku ke dalam kehidupan yang bukan lagi milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah, kenapa kesepian dan kerinduan semu ini telah menyesatkanku ke masa lalu? Waduh, celaka sekali kalau aku tak segera mengendalikan emosi dan pikiranku ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku kuatir jika pertemuan itu nantinya justru hanya sandiwara lucu sebabak tapi sanggup menyayat luka lama bahkan kembali melukai aku dan dia. Betapa kurasa konyol sekali. Sia-sia tapi malah bisa menjadi musibah berikutnya. Aku tidak ingin diriku terjebak romantisme usang yang sia-sia. Aku tidak mau kesia-siaan itu menciptakan pelangi semu yang sudah bukan milikku. Apa hebatnya lagi jika lantas dituduh sebagai perusak suasana surga dunia yang telah terbina dalam istana cinta orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Aku tidak mau merampok surga itu. Aku tidak mau menjajah kahyangan itu. Perempuan itu harus menikmati hidup fananya sendiri dengan kebahagiaan surgawi yang sanggup dinikmatinya bersama keluarga barunya. Mungkin pelangi selalu ada di rumah mereka, menjadi kahyangan itu. Itu milik mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membelok ketika sampai di sebuah pertigaan. Seketika sore itu juga aku mengurungkan keinginanku menengoknya. Aku belum siap berjumpa dengan dia sekeluarga. Orang-orang di sekitarku tak peduli padaku; orang asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, biarlah semua yang terjadi tetap seperti adanya di masa lalu, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukuplah di masa lalu aku berada pada waktu dan tempat yang keliru. Setelah semua terjadi dulu, aku tidak ingin melintasi jalan menuju tempat itu lagi. Sekarang bukan waktunya untuk mengutak-atik soal kesalahan. Aku tahu pasti bahwa tidak akan ada kedamaian di sana bila luka masa lampau kubawa serta ke masa kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya orang-orang yang hidupnya baik yang akan bisa ke sana,” kata ibuku yang sangat kuingat. Orang yang hidupnya baik, bukan penuh lukalaralukalama masa lampau. Aku tidak tengah berada di masa lampau. Aku sedang menuju masa-masa di depanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plak! Kutendang kencang-kencang sepotong ranting patah di tepi jalan yang tengah kulalui, seolah ingin kutendang jauh-jauh ‘luka’ itu. Sementara kesejukan mendaki tangga-tangga kedinginan, menembus pakaianku dan mulai menjamah pori-poriku. Aku kian memeluk diriku sendiri supaya kehangatanku dapat merata dan mengusir jari-jari dingin yang berusaha mengusap pori-pori tubuhku melalui sela-sela jaketku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku tahu, ke mana aku harus melangkah di antara sisa-sisa titik-titik gerimis yang mengantarkan langkahku kembali menuju sebuah halte. Seorang pria sedang duduk santai sambil membaca koran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permisi, Mas,” sapaku pelan, “saya mau nanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria tersebut meresponku dengan menurunkan korannya, kemudian menatapku seraya tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ke terminal, naik angkot yang mana, ya, Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naik yang ini aja, Mas,” jawabnya dengan langsung melihat ke samping, ke arah jalan. Kebetulan sebuah angkot terlihat hendak menuju halte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Mas,” kataku sembari turun dari halte dan melambai sebagai isyarat kepada sopir angkot bahwa aku mau menumpang angkotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera naik angkot itu, tapi orang tadi tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam angkot ini aku terus teringat pada ibuku di Bekasi dan beberapa saudaraku yang masih tinggal dengan beliau. Tiga bulan aku belum mudik, semenjak aku pindah bekerja di Madiun. Aku ingin mengunjungi ibuku selagi mungkin ada pula pelangi singgah di sana. Paling tidak, di sana sudah menunggu keponakan-keponakanku yang lucu dan, bagiku, cukup mewarnai kegamanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari perlahan muncul di antara gumpalan-gumpalan awan. Cahaya tipisnya menembus jendela angkot dan mengusap-usap pipi kasarku. Hangatnya sehangat jemari ibuku yang selalu membelai pipiku seraya mendongeng tentang pelangi, “Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang bernama kahyangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;Untuk seorang kawan, R. Taufan Rahardian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106193195442335317?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106193195442335317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106193195442335317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106193195442335317' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106193011889469332</id><published>2003-08-26T13:35:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:35:18.896-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;KOTA TERHILANG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan bisu tergantung bersama bintang-gemintang di langit kelam. Itulah induk malam yang sedang mengasuh anak-anaknya di padang lapang tak berujung. Sementara binatang malam ikut berpesta, menikmati malam hingga larut dalam kesunyian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berasyik-masyuk dengan perangkat peradaban, berselancar memasuki samudera maya. Sampai suatu pagi aku tiba di sebuah kota, disambut sayup-sayup irama petikan gambus. Mengalun merdu, mengantar aku ke sebuah penginapan kelas melati alias murah-meriah. Surya pagi agak meninggi setelah puas menghisap habis embun pagi di pucuk-pucuk rerumputan taman kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tiba di kota ajaib ini aku belum siap bekal-bekal harian seperti handuk, sikat gigi, odol dan lain-lain. Bekal sandangan seadanya tidak terasa menjadi beban. Tapi aku tidak tahu seluk-beluk kota ini. Petanya pun aku tak punya, karena memang tidak pernah terjual di mana-mana. Tak salah jika kemudian kunamai kota terhilang. Maka kusewa sepeda motor milik pengelola penginapan, agar deburan jiwaku dapat segera reda ditelan pesona kota. Kuajak remaja pria bernama Oji supaya bersedia memandu perjalananku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota terhilang ini lumayan megah. Gedung-gedung gagah menjulang, seakan hendak menjamah rombongan awan di langit. Aku sempat terkagum-kagum. Dengan tegasnya simbol-simbol kota tersebut, kubayangkan kemakmuran dan kemajuan masyarakatnya. Pantas saja kota ini sejak dulu diorientasikan sebagai kota pariwisata. Betapa sayang jika kota ini tidak terpampang besar-besar pada peta nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, itu bukan gedung biasa,” ujar Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu hotel-hotel khusus burung walet,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel burung walet! Unggas penghasil liur berharga jutaan rupiah itu, melebihi harga para wisatawan yang datang pada musim-musim tertentu. Tentu saja bisnis air liur lebih menggiurkan, menjanjikan laba berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menuju satu-satunya toko swalayan di kota ini. Toko swalayan yang acapkali disamakan sebagai simbol atau citra kemajuan kota modern ini ternyata benar-benar dimanfaatkan oleh penduduk kota serta sekitarnya, berbeda dengan toko swalayan di kota-kota yang pernah kukunjungi. Ah, inikah ungkapan budaya kagetan itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin justru aku yang tidak peka pada budaya masyarakat kota ini. Setahuku, toko swalayan merupakan sarana perbelanjaan modern, simbol dan citra modernitas daerah. Tapi pengunjung toko swalayan kota ini tak ubahnya pengunjung toko tradisional. Beberapa pengunjung dengan santai berpakaian serba lusuh. Mungkin mereka baru &lt;br /&gt;pulang dari perburuan ikan di laut atau dari berkebun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji mengajakku menyisiri beberapa sudut kota ini. Kulihat beberapa anak seusia sekolah dasar sudah biasa menghisap rokok. Preman kecil berserakan, berani malak orang. Aparat diam, berkarat menikmati gaji serta uang kolusi. Judi buntut, togel atau toto gelap pun bertaburan di sembarang tempat. Memang, impian kaya mendadak selalu mencumbui khayalan siapapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disamping tingkat kemalasan dan khayalan pemuda kota ini setinggi langit,” jelas Oji, “togel bisa tumbuh subur karena jaminan keamanan dari aparat yang dibayar sekitar dua hingga tiga ratus juta per bulan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angka kejahatan pencurian sepeda motor pun tinggi akibat ketidakpedulian aparat. Aparat lebih menomorsatukan pengamanan bisnis nomor buntut,” tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah gelar barunya sebagai kota pendidikan? Ah, aneh, gumanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tidak jauh dari kawasan perniagaan kota itu dan di sekitar rumah penduduk, aku melihat kegiatan masyarakat kota mencari nafkah yang akhir-akhir ini marak diberitakan. Apa lagi kalau bukan kegiatan mendulang harta tambang di halaman rumah sendiri yang dilintasi aliran parit kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua beserta anak-anak yang masih berseragam sekolah terlihat asyik mendulang harta alam. Memang mereka bisa mendulang bahan tambang kelas 1-2 yang harganya tidak semahal kelas utama, 1-4. Namun mereka bisa mengeruk beberapa puluh ribu rupiah sehari. Setelah itu mereka akan menjualnya kepada penadah gelap, yang berani membeli dengan harga lebih tinggi daripada penadah resmi. Kalau kelas 1-4 dihargai 16 ribu rupiah per kilo oleh penadah resmi, sedangkan penadah gelap berani membeli dengan harga sekitar 19 ribu rupiah. Pantas saja penyelundupan barang seperti itu selalu menjadi berita langganan harian di koran lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menelusuri kota terhenti menjelang seperempat sore ini ketika telepon genggam Oji berbunyi. Dari pesan yang tercetak di layar teleponnya, Oji diminta segera pulang. Ada keperluan keluarga. Maka kami memutuskan kembali ke penginapan saja. Dan sejenak kami melewati persimpangan sewaktu lampu merah menyala.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti, Ji!” seruku karena gelagat Oji akan menerabas lampu merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah repot-repot, Mas,” tanggap Oji, “nggak ada polisi kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata Oji. Orang-orang pun tidak peduli dengan warna-warna lampu yang menyala. Aku menoleh ke belakang, melihat ke pos jaga polisi lalu lintas di simpang itu. Memang tidak ada polisi, kecuali anak-anak sekolah nongkrong sambil mencorat-coret dinding pos tersebut. Entah ke mana lenyapnya atau entah punya proyek apa lagi para polisi lalu lintas yang seharusnya berjaga di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, sepanjang perjalanan itu, aku hanya menemukan dua lampu rambu-rambu lalu lintas di kota yang sering menjamu wisatawan dalam negeri dan luar negeri ini. Pertama, tadi, simpang kantor pos kota. Itu pun mati entah sejak kapan. Dan yang kedua, yang barusan kami langgar, simpang terusan jalur telkom. Biarpun hidup normal, fungsinya hanya sebatas simbol kota.  Tidak berfungsi semestinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas lajunya kendaraan, Oji berkisah sedikit tentang kecelakaan di simpang empat itu. Korban adalah temannya sendiri. Lebih celakanya, kata Oji, sampai di rumah sakit dokternya tidak ada, padahal kawannya betul-betul gawat berat. Sebentar aku bisa membayangkan, bagaimana jadinya bila kesemrawutan lalu lintas dan kepunahan aparat lalu lintas dibarengi oleh kelangkaan dokter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung aku menjelajahi kota ini dengan Oji, kata batinku. Oji, penduduk asli kota terhilang ini, memang bukan jenis anak muda rumahan, sehingga dia kenal baik setiap jengkal kota. Selama lebih seperempat hari Oji memanduku, aku dapat menilainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya giliran Oji mengajakku melanjutkan penjelajahan kota. Dia menawarkan beberapa paket jalan-jalan malam, yaitu ke pusat jajanan malam rakyat yang terletak di dekat terminal kota, lalu ke diskotik atau arena bilyar di hotel pinggir pantai, atau berburu kemesuman di pinggiran kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelajahan malam kami mulai dari pusat jajanan malam rakyat. Di sana tenda-tenda terbentang mirip bunga-bunga jalanan yang pernah aku renungi. Aku menikmati sajian khas menu lokal, meski beberapa lainnya mirip dengan sajian makanan umum semisal pisang goreng dan tahu-tempe goreng. Di sela-sela menikmati makanan malam itu, kami melihat jual-beli pil ektasi dilakukan secara terbuka, blak-blakan. Beberapa aparat yang masih muda pun sedang mabuk pil laknat lainnya di sudut tenda.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ji, apa bener sih kota ini bergelar kota pendidikan?” bisikku pada Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak tahu, Mas, apakah kota ini pantas menyandang gelar kota pendidikan, kota pariwisata, ataukah kota industri,” sahut Oji malas-malasan, “menurutku, kota ini lebih pantas menyandang predikat kota brengsek sebrengsek-brengseknya kota, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kota brengsek?” aku terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kota brengsek!” sebut Oji bernada makian. “Peraturan yang brengsek, hukum-hukum yang brengsek, aparat yang brengsek, penduduk yang brengsek, norma yang brengsek, tokoh masyarakat yang brengsek, dan agama yang tak lebih hanya KTP alias kata tanpa perbuatan. Judi, mabuk-mabukan, obat-obat bius, pil laknat, pencurian, penyelundupan, premanisme dan kriminalitas yang mengerikan, begitu marak di sini. Namun tokoh penting masyarakat dan aparaturnya seolah dimabukkan oleh anggur kebusukan bersama!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kami melanjutkan perbincangan ke taman kota. Oji kian menumpahkan segala kemuakannya pada kota terhilang ini. Aku kewalahan mendengar segala gemuruh gerutuan Oji. Kekecewaannya mengendap selama sekian puluh tahun tinggal di kota terhilang ini. Barangkali seluruh kebobrokan kota telah menyumpali dan melimbahi isi kepalanya, entah dari pengalamannya sendiri maupun dari sumbangan kisah-kisah resah kawan-kawannya yang tidak berani melapor karena ancaman preman, aparat yang mata duitan, warga yang sibuk menyelamatkan diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama para aparat karatan yang keparat itu masih bercokol,” tukas Oji jengkel, “mustahil bangetlah mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, kesentosaan dan kenyamanan kota ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, Ji,” tambahku, “perekonomian, perdagangan, pendidikan, kenyamanan dan keadilan jelas akan mandul bila tidak dibarengi jaminan keamanan.” &lt;br /&gt;“Para juru bicara cuma lihai berteriak-teriak tentang masa depan kemakmuran dan peradaban. Kenyataannya, bisnis kejahatan semakin terorganisir semenjak pejabat dan aparat bersetubuh dengan penjahat. Payah nian orang-orang brengsek itu!” tandas Oji.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu sanggup bertahan menetap di kota seperti ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta yang membuatku bertahan. Baik atau buruk kehidupan kota ini, aku terpanggil untuk tetap mencintainya. Aku terlahir di sini, dibesarkan di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak berkeinginan untuk merantau, pindah ke luar pulau dan membunuh semua kenangan pada tanah kelahiran, sebelum kebrengsekan membinasakanmu?” pancingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, cinta sejati bukanlah sekadar bunga-bunga kata yang kemudian kelopaknya gugur akibat kejahatan-kejahatan alam serta kebiadaban orang-orang. Cinta sejati butuh kesetiaan, agar dapat melewati ujian-ujian yang tidak main-main,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dengan situasi yang sangat mengerikan begini, apakah kesetiaanmu tidak lantas menjadi kesia-siaan belaka?” protesku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang kesetiaanku ini akan selalu diperhadapkan pada kesia-siaan, kebosanan bahkan kemuakan,” akunya. “Makanya, aku senantiasa memperbarui komitmen cintaku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan cara apa?” selidikku penasaran. Barangkali Oji mau menularkan kiatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan cara merenungi dan mengingat kembali visi hidupku untuk hidup di kota ini. Juga aku bekerjasama dengan kawan-kawan yang mempunyai kesamaan cinta dan visi bagi perubahan kota ini, termasuk kawan-kawan yang bersekolah di perantauan,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan waktunya tidak secepat kilat, Ji? Apalagi kamu kelak akan berkeluarga,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Mas. Butuh bertahun-tahun. Butuh kesabaran dan kesetiaan yang sejati,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti kesatuan cinta dan visi itulah pondasi hidupmu sehingga kamu betah bertahan sampai kelak mulut tanah ini melumat bulat-bulat raga fanamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah,” suara Oji pelan tapi tegas. Dia tetap berharap pada perubahan besar atas kota ini, sebagaimana arti cita-cita reformasi yang dikoar-koarkan banyak orang, termasuk oleh orang-orang brengsek, oleh pejabat brengsek serta oleh aparat brengsek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bulan melebarkan senyum gaibnya, kami memutuskan pulang ke penginapan. Mataku sudah berat untuk diajak melanjutkan kelayapan malam. Seharian penuh aku dan Oji menjelajahi kota terhilang ini. Letih sekali. Kupikir istirahat justru lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di garasi penginapan, adiknya Oji menyambut kami dengan berita buruk. “Bang Oji, tadi motorku dirampok orang di jalan. Mereka memakai tali, dipasang melintang dan ditarik waktu aku melintas. Aku jatuh, langsung mereka mengeroyokku. Terus, mereka merampok motorku, STNK sekaligus dompetku. Ludes duitku. Untung aja aku tidak mati dibantai mereka,” adu adiknya Oji dengan muka babak-belur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat itu memang sering terjadi perampokan sepeda motor. Sedangkan pihak aparat atau pemuda-pemuda sekitar situ tidak ada yang peduli. Barangkali kejahatan itu melibatkan pemuda setempat. Mungkin hanya persekongkolan dengan pemuda setempat, juga dengan aparat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, adiknya Oji ini masih saja bisa bilang “untung”, padahal sudah hancur-hancuran dan habis-habisan begitu. Atau memang selalu saja ada yang sanggup memetik keberuntungan selama tinggal di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkanku. Sekejap kota terhilang lenyap, berganti kedatangan kawan-kawan di kosku. Mereka mau numpang nonton siaran langsung pertandingan sepakbola Liga Italia Seri A. Kuhentikan kegiatanku berselancar lewat perangkat peradaban bernama internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;(Kota Pelajar, 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sebelumnya, tanpa sepengetahuan penulis – dikarenakan oleh jauhnya jarak media massa dan tempat penulis berdomisili, cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 16 September 2001, lantas - karena penulis tidak tahu berita pemuatannya – diikutkan oleh penulis dalam Lomba Menulis Cerpen Sleman 2001 pada 10 September 2001 – lomba ditutup pada 30 September 2001, dan ternyata diperhitungkan sebagai “pemenang 5 besar” serta dimuat dalam antologi bersama “Bupati Pedro, Laki-laki Kota Rembulan”]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komentar-komentar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sang Guru Sastra Denmas Marto, via email 14 September 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada KT, tidak ada karakter yang bulat. Sosok-sosok yang muncul sekadar lewat untuk menyuarakan komentarnya (atau komentarmu?) atas keadaan yang sekelilingnya. Tapi, siapa sebenarnya si Oji ini? Umur berapa? Kenapa ia bersikap demikian? Bagaimana sebenarnya kegundahan hatinya sendiri? Hidup toh bukan hanya terdiri atas komentar-komentar, ‘kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan komentar 2, cerpenmu jadi lebih mirip komentar sosial. Mirip kolomnya Pak Kayam di KR. Bedanya, Pak Kayam mendekatinya dengan humor; kamu cenderung elegi melankolis (waduh, istilah apa ini? Pokoknya, bernada sedih merataplah). Pak Kayam juga konsisten dengan tokoh-tokohnya. O, Pak Ageng itu gitu; Mister Rigen itu gini; dan si Tolo-tolo itu gicu! Komentar mereka pas dengan karakter mereka. Nah, sampeyan mau bikin apa? Kalau cerpen, yang jangan terlalu preachy (berkhotbah); show, don’t tell (perlihatkan, jangan cuma diomongin. Misalnya, daripada ngomongin soal judi, perlihatkan bagaimana suasana sebuah perjudian dan gambarkan bagaimana sosok si penjudinya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu KT, sebegitu pentingkah untuk menyembunyikan nama kota itu? Haruskah "terhilang" mesti berarti "terhilang" namanya? Paling tidak, sebutlah, misalnya, Kota J. Soalnya, cerpenmu ini ‘kan realis banget. Masa harta tambang itu pun tidak disebut namanya tambang apa? Pembukaan dan penutupannya (surfing internet) seperti bingkai yang nggak pas (lagi-lagi gejala misled: membaca judul dan pembukaannya [aline 3: "kota ajaib" – apa ajaibnya?], aku bersiap-siap untuk menghadapi cerpen surealis model "Natal di Kota Ningi"-nya Seno, e jebule...!). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, sebuah nasihat umum: kalau mau buat sesuatu, lebih baik kita kuasai teori dasarnya dulu, baru kemudian seacara sadar melakukan penyimpangan-penyimpangan. Jangan asal-asalan tabrak sana-sini buat sesuatu yang aneh-aneh, lalu memproklamirkan, ini karya baru, advant grade! Kan nggak lucu kalau seorang pemotret dadakan secara nggak sengaja "menciptakan" sebuah foto abstrak gara-gara salah prosedur, lalu mengklaim karyanya sebagai masterpiece.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Denmas Marto hanyalah nama samaran. Dia jebolan IKIP Yogyakarta (kini UNY) jurusan Sastra Indonesia. Ketika masih sekolah dia memenangkan beberapa kali lomba puisi , dan beberapa puisi pernah masuk antologi puisi. Tulisannya pun sering dimuat di media massa, yakni di Harian SUARA PEMBARUAN dan Majalah BAHANA. Saat ini dia lebih sering menterjemahkan buku-buku rohani, yang beberapa telah diterbitkan oleh METANOIA Jakarta. Buku pertamanya, “Gagal Menjadi Garam”, diterbitkan oleh Yayasan Andi Offset, Yogyakarta, 2003. Dalam Lomba Menulis Cerpen Sleman 2001 itu pun dia mengirimkan satu saja karyanya, berjudul “Di Bawah Langit Kota” namun cerpen tersebut tidak masuk nominasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Yusuf Priyasudiarja *, via email 13 November 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan cerpen Anda ada pada diksi yang kuat dan kedalaman pemaknaan cerita. Walau kisah itu barangkali diambil dari cerita di Bangka, namun nampaknya cukup relevan juga memotret atau mencerminkan carut marutnya kehidupan masyarakat di Yogya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;*) Yusup Priyasudiarja adalah salah seorang cerpenis yang karya Sketsa Wajah-nya masuk 10 nominator yang direkomendasikan ikut dalam antologi Bupati Pedro, Laki-Laki Kota Rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen telah matang untuk antologi cerpen “Kota Terhilang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KOTA TERHILANG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan bisu tergantung bersama bintang-gemintang di langit kelam. Itulah induk malam yang sedang mengasuh anak-anaknya di padang lapang tak berujung. Sementara binatang malam ikut berpesta, menikmati malam hingga larut dalam kesunyian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berasyik-masyuk dengan perangkat peradaban, berselancar memasuki samudera maya. Sampai suatu pagi aku tiba di sebuah kota, disambut sayup-sayup irama petikan gambus. Mengalun merdu, mengantar aku ke sebuah penginapan kelas melati alias murah-meriah. Surya pagi agak meninggi setelah puas menghisap habis embun pagi di pucuk-pucuk rerumputan taman kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tiba di kota ajaib ini aku belum siap bekal-bekal harian seperti handuk, sikat gigi, odol dan lain-lain. Bekal sandangan seadanya tidak terasa menjadi beban. Tapi aku tidak tahu seluk-beluk kota ini. Petanya pun aku tak punya, karena memang tidak pernah terjual di mana-mana. Tak salah jika kemudian kunamai “kota terhilang”. Maka kusewa sepeda motor milik pengelola penginapan, agar deburan jiwaku dapat segera reda ditelan pesona kota. Kuajak remaja pria bernama Oji supaya bersedia memandu perjalananku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota terhilang ini lumayan megah. Gedung-gedung gagah menjulang, seakan hendak menjamah rombongan awan di langit. Aku sempat terkagum-kagum. Dengan tegasnya simbol-simbol kota tersebut, kubayangkan kemakmuran dan kemajuan masyarakatnya. Pantas saja kota ini sejak dulu diorientasikan sebagai kota pariwisata. Betapa sayang jika kota ini tidak terpampang besar-besar pada peta nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, itu bukan gedung biasa,” ujar Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu hotel-hotel khusus burung walet.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel burung walet! Unggas penghasil liur berharga jutaan rupiah itu, melebihi harga para wisatawan yang datang pada musim-musim tertentu. Tentu saja bisnis air liur lebih menggiurkan, menjanjikan laba berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menuju satu-satunya toko swalayan di kota ini. Toko swalayan yang acapkali disamakan sebagai simbol atau citra kemajuan kota modern ini ternyata benar-benar dimanfaatkan oleh penduduk kota serta sekitarnya, berbeda dengan toko swalayan di kota-kota yang pernah kukunjungi. Ah, inikah ungkapan budaya kagetan itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin justru aku yang tidak peka pada budaya masyarakat kota ini. Setahuku, toko swalayan merupakan sarana perbelanjaan modern, simbol dan citra modernitas daerah. Tapi pengunjung toko swalayan kota ini tak ubahnya pengunjung toko tradisional. Beberapa pengunjung dengan santai berpakaian serba lusuh. Mungkin mereka baru pulang dari perburuan ikan di laut atau dari berkebun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji mengajakku menyisiri beberapa sudut kota ini. Kulihat beberapa anak seusia sekolah dasar sudah biasa menghisap rokok. Preman kecil berserakan, berani malak orang. Aparat diam, berkarat menikmati gaji serta uang kolusi. Judi buntut, togel atau toto gelap pun bertaburan di sembarang tempat. Memang, impian kaya mendadak selalu mencumbui khayalan siapapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di samping tingkat kemalasan dan khayalan pemuda kota ini setinggi langit,” jelas Oji, “togel bisa tumbuh subur karena jaminan keamanan dari aparat yang dibayar sekitar dua hingga tiga ratus juta per bulan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angka kejahatan pencurian sepeda motor pun tinggi akibat ketidakpedulian aparat. Aparat lebih menomorsatukan pengamanan bisnis nomor buntut,” tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah gelar barunya sebagai kota pendidikan? Ah, aneh, gumanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tidak jauh dari kawasan perniagaan kota itu dan di sekitar rumah penduduk, aku melihat kegiatan masyarakat kota mencari nafkah yang akhir-akhir ini marak diberitakan. Apa lagi kalau bukan kegiatan mendulang harta tambang di halaman rumah sendiri yang dilintasi aliran parit kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua beserta anak-anak yang masih berseragam sekolah terlihat asyik mendulang harta alam. Memang mereka bisa mendulang bahan tambang kelas 1-2 yang harganya tidak semahal kelas utama, 1-4. Namun mereka bisa mengeruk beberapa puluh ribu rupiah sehari. Setelah itu mereka akan menjualnya kepada penadah gelap, yang berani membeli dengan harga lebih tinggi daripada penadah resmi. Kalau kelas 1-4 dihargai 16 ribu rupiah per kilo oleh penadah resmi, sedangkan penadah gelap berani membeli dengan harga sekitar 19 ribu rupiah. Pantas saja penyelundupan barang seperti itu selalu menjadi berita langganan harian di koran lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menelusuri kota terhenti menjelang seperempat sore ini ketika telepon genggam Oji berbunyi. Dari pesan yang tercetak di layar teleponnya, Oji diminta segera pulang. Ada keperluan keluarga. Maka kami memutuskan kembali ke penginapan saja. Dan sejenak kami melewati persimpangan sewaktu lampu merah menyala.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti, Ji!” seruku karena gelagat Oji akan menerabas lampu merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak usah repot-repot, Mas,” tanggap Oji, “nggak ada polisi kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata Oji. Orang-orang pun tidak peduli dengan warna-warna lampu yang menyala. Aku menoleh ke belakang, melihat ke pos jaga polisi lalu lintas di simpang itu. Memang tidak ada polisi, kecuali anak-anak sekolah nongkrong sambil mencorat-coret dinding pos tersebut. Entah ke mana lenyapnya atau entah punya proyek apa lagi para polisi lalu lintas yang seharusnya berjaga di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, sepanjang perjalanan itu, aku hanya menemukan dua lampu rambu-rambu lalu lintas di kota yang sering menjamu wisatawan dalam negeri dan luar negeri ini. Pertama, tadi, simpang kantor pos kota. Itu pun mati entah sejak kapan. Dan yang kedua, yang barusan kami langgar, simpang terusan jalur telkom. Biarpun hidup normal, fungsinya hanya sebatas simbol kota.  Tidak berfungsi semestinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas lajunya kendaraan, Oji berkisah sedikit tentang kecelakaan di simpang empat itu. Korban adalah temannya sendiri. Lebih celakanya, kata Oji, sampai di rumah sakit dokternya tidak ada, padahal kawannya betul-betul gawat berat. Sebentar aku bisa membayangkan, bagaimana jadinya bila kesemrawutan lalu lintas dan kepunahan aparat lalu lintas dibarengi oleh kelangkaan dokter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung aku menjelajahi kota ini dengan Oji, kata batinku. Oji, penduduk asli kota terhilang ini, memang bukan jenis anak muda rumahan, sehingga dia kenal baik setiap jengkal kota. Selama lebih seperempat hari Oji memanduku, aku dapat menilainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya giliran Oji mengajakku melanjutkan penjelajahan kota. Dia menawarkan beberapa paket jalan-jalan malam, yaitu ke pusat jajanan malam rakyat yang terletak di dekat terminal kota, lalu ke diskotik atau arena bilyar di hotel pinggir pantai, atau berburu kemesuman di pinggiran kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelajahan malam kami mulai dari pusat jajanan malam rakyat. Di sana tenda-tenda terbentang mirip bunga-bunga jalanan yang pernah aku renungi. Aku menikmati sajian khas menu lokal, meski beberapa lainnya mirip dengan sajian makanan umum semisal pisang goreng dan tahu-tempe goreng. Di sela-sela menikmati makanan malam itu, kami melihat jual-beli pil ektasi dilakukan secara terbuka, blak-blakan. Beberapa aparat yang masih muda pun sedang mabuk pil laknat lainnya di sudut tenda.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ji, apa bener sih kota ini bergelar kota pendidikan?” bisikku pada Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak tahu, Mas, apakah kota ini pantas menyandang gelar kota pendidikan, kota pariwisata, ataukah kota industri,” sahut Oji malas-malasan. “Menurutku, kota ini lebih pantas menyandang predikat kota brengsek sebrengsek-brengseknya kota, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kota brengsek?” aku terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kota brengsek! Peraturan brengsek, hukum-hukum brengsek, aparat brengsek, penduduk brengsek, norma brengsek, tokoh masyarakat brengsek, dan agama yang tak lebih hanya KTP alias kata tanpa perbuatan. Judi, mabuk-mabukan, obat-obat bius, pil laknat, pencurian, penyelundupan, premanisme dan kriminalitas yang mengerikan, begitu marak di sini. Namun tokoh penting masyarakat dan aparaturnya seolah dimabukkan oleh anggur kebusukan bersama!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kami melanjutkan perbincangan ke taman kota. Oji kian menumpahkan segala kemuakannya pada kota terhilang ini. Aku kewalahan mendengar segala gemuruh gerutuan Oji. Kekecewaannya mengendap selama sekian puluh tahun tinggal di kota terhilang ini. Barangkali seluruh kebobrokan kota telah menyumpali dan melimbahi isi kepalanya, entah dari pengalamannya sendiri maupun dari sumbangan kisah-kisah resah kawan-kawannya yang tidak berani melapor karena ancaman preman, aparat yang mata duitan, warga yang sibuk menyelamatkan diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama para aparat karatan yang keparat itu masih bercokol,” tukas Oji jengkel, “mustahil sekalilah mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, kesentosaan dan kenyamanan di kota brengsek ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, Ji. Perekonomian, perdagangan, pendidikan, kenyamanan dan keadilan jelas akan mandul bila tidak dibarengi jaminan keamanan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para juru bicara cuma lihai berteriak-teriak tentang masa depan kemakmuran dan peradaban. Kenyataannya, bisnis kejahatan semakin terorganisir semenjak pejabat dan aparat bersetubuh dengan penjahat. Payah nian orang-orang brengsek itu!” tandas Oji.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kok kamu sanggup bertahan menetap di kota seperti ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji tidak langsung menyahut. Tampaknya Oji berhati-hati sekali dengan apa yang akan dikatakannya. Aku malah penasaran pada idealisme pemuda satu ini. Betapa tidak. Jelas-jelas situasi sosial-ekonomi-politik di ‘kota terhilang’ ini benar-benar tidak kondusif bagi masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Ji?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, cinta yang membuatku bertahan. Baik atau buruk kehidupan kota ini, aku terpanggil untuk tetap mencintainya. Aku terlahir di sini, dibesarkan di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak berkeinginan untuk merantau, pindah ke luar pulau dan membunuh semua kenangan pada tanah kelahiran, sebelum kebrengsekan membinasakanmu?” pancingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, cinta sejati bukanlah sekadar bunga-bunga kata yang kemudian kelopaknya gugur akibat kejahatan-kejahatan alam serta kebiadaban orang-orang. Cinta sejati butuh kesetiaan, agar dapat melewati ujian-ujian yang tidak main-main.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dengan situasi yang sangat mengerikan begini, apakah kesetiaanmu tidak lantas menjadi kesia-siaan belaka? Malahan kamu bisa mati konyol di sini!” protesku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang kesetiaanku ini akan selalu diperhadapkan pada kesia-siaan, kebosanan bahkan kemuakan,” akunya. “Makanya, aku senantiasa memperbarui komitmen cintaku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan cara apa?” selidikku penasaran. Barangkali Oji mau menularkan kiatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan cara merenungi dan mengingat kembali visi hidupku untuk hidup di kota ini. Juga aku bekerjasama dengan kawan-kawan yang mempunyai kesamaan cinta dan visi bagi perubahan kota ini, termasuk kawan-kawan yang bersekolah di perantauan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan waktunya tidak secepat kilat, Ji? Apalagi kamu kelak akan berkeluarga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Mas. Butuh bertahun-tahun. Butuh kesabaran dan kesetiaan yang sejati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti kesatuan cinta dan visi itulah pondasi hidupmu sehingga kamu betah bertahan sampai kelak mulut tanah ini melumat bulat-bulat raga fanamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah,” suara Oji pelan tapi tegas. Dia tetap berharap pada perubahan besar atas kota ini, sebagaimana arti cita-cita reformasi yang dikoar-koarkan banyak orang, termasuk oleh orang-orang brengsek, oleh pejabat brengsek serta oleh aparat brengsek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bulan melebarkan senyum gaibnya, kami memutuskan pulang ke penginapan. Mataku sudah berat untuk diajak melanjutkan kelayapan malam. Seharian penuh aku dan Oji menjelajahi kota terhilang ini. Letih sekali. Kupikir istirahat justru lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di garasi penginapan, adiknya Oji menyambut kami dengan berita buruk. “Bang Oji, tadi motorku dirampok orang di jalan. Mereka memakai tali, dipasang melintang dan ditarik waktu aku melintas. Aku jatuh, langsung mereka mengeroyokku. Terus, mereka merampok motorku, STNK sekaligus dompetku. Ludes duitku. Untung aja aku tidak mati dibantai mereka,” adu adiknya Oji dengan muka babak-belur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat itu memang sering terjadi perampokan sepeda motor. Sedangkan pihak aparat atau pemuda-pemuda sekitar situ tidak ada yang peduli. Barangkali kejahatan itu melibatkan pemuda setempat. Mungkin hanya persekongkolan dengan pemuda setempat, juga dengan aparat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, adiknya Oji ini masih saja bisa bilang “untung”, padahal sudah hancur-hancuran dan habis-habisan begitu. Atau memang selalu saja ada yang sanggup memetik keberuntungan selama tinggal di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkanku. Sekejap “kota terhilang” lenyap, berganti kedatangan kawan-kawan di kosku. Mereka mau numpang nonton siaran langsung pertandingan sepakbola Liga Italia Seri A. Kuhentikan kegiatanku berselancar lewat perangkat peradaban bernama internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;babarsarikotapelajar, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106193011889469332?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106193011889469332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106193011889469332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106193011889469332' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192997336898636</id><published>2003-08-26T13:32:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:32:53.343-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;PENERBANGAN DINI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua anak laki-laki memandang hujan lebat dari balik jendela kaca. Air muka keduanya keruh. Rupa-rupanya siang itu kakak-beradik ini tidak bisa bermain bola seperti biasa. Semula sang ibu sempat bingung, bagaimana membuat kedua anaknya tidak muram. Tapi, setelah dia menemukan setoples biscuit di dalam rak makanan, muncullah ide untuk menghibur anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan suara penyiar pertandingan sepakbola, sang ibu memainkan biscuit-biskuit itu, lantas memasukkannya ke dalam mulut kedua anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Goooolll!” teriak riang anak-anaknya setiap biskuit masuk ke mulut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai giliran biscuit terakhir, sang ibu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Kedua anaknya bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gol bunuh diri,” kilah sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Ibu bisa aja,” komentar si bungsu sembari tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba raut muka si bungsu dalam iklan biscuit tadi mengusik kenanganku pada seorang kawan kecilku. Namanya Yongky. Usianya sekitar satu-dua tahun di bawahku dan tidak nakal. Dia adalah anak bungsu dari pasangan dokter yang terkenal di kotaku. Papa dan mamanya adalah dokter umum. Orang-orang di kota kami mengenal beliau dengan nama Pak Dokter Ramsey. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa mengenal Yongky karena aku dulu seperti pelanggan tetap di RS UPTB Sungailiat, tempat Pak Dokter dan Ibu Dokter Ramsey bekerja dan Ibundaku adalah juru rawat di rumah sakit tersebut. Sebelumnya, Ibundaku dipercayakan olek Pak Dokter Ramsey dalam menjaga dan merawat Yongky kecil yang sering sakit sesak nafas karena lahir belum genap tujuh bulan alias prematur. Setelah tiga tahun Yongky berangsur normal serta bisa berjalan, barulah Ibunda kembali bertugas di RS UPTB Sungailiat. Selanjutnya Ibunda menjadi staf perawat dalam ruang kerja Pak atau Bu Dokter Ramsey. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, entah apa kini kabarmu, Yong, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak aku ingin sekali berjumpa dengannya. Entah kenapa ingatanku berputar mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grrrrrrr….gemuruh mesin pesawat jenis jet yang sedang lepas landas dari bandara Adi Sucipto. Letak bandara itu memang beberapa kilometer saja dari kontrakanku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua Yongky sungguh-sungguh sibuk. Kadang Pak Dokter dan Bu Dokter Ramsey saling bergantian tugas. Kalau Pak Dokter Ramsey bertugas di Sungailiat, Bu Dokter Ramsey ke kota lainnya di Bangka. Belum lagi jika selama beberapa hari bahkan minggu mereka  bertolak ke rumah mereka yang ada di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku juga anak bungsu walaupun tidak sekalem Yongky, tak jarang aku dibawa Ibundaku ke rumah Yongky di kawasan perumahan elit Taman Sari Sungailiat. Di sana aku bermain dengan Yongky atau bermain sendiri manakala Yongky digendong Ibunda, karena Ibunda memang dipercaya mengasuh Yongky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain dengan Yongky, tentu saja berbeda sekali kalau aku bermain bersama kawan-kawan kampungku. Bermain bersama anak-anak kampung, biasanya aku membawa pulang banyak kedekilan. Pakaian kotor dan badan kotor. Karena aku dan anak-anak kampung sering bermain di tanah, membuat alat-alat permainan dari tumbuh-tumbuhan atau semak, atau berkejaran kesana-kemari. Tak pelak Ibunda memarahiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama anak-anak kampung aku bisa nakal dan bandel. Tidak demikian apabila aku bermain bersama Yongky, yang lebih suka bermain di dalam rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, cepat mandi sana,” perintah Ibunda. “Nanti siang kita mau pergi ke Pangkalpinang bersama Yongky. Dia akan pulang ke Jakarta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera menyambut perintah itu dengan senang hati. Setiap keluarga Yongky hendak bertolak ke Jakarta, aku selalu diajak mereka mengantar. Dan aku paling suka diajak mengantarkan Yongky ke bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Aku suka melihat kapal terbang lepas landas atau turun sambil membayangkan nyamannya berada dalam kendaraan udara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, besar nanti aku mau jadi pilot,” kata Yongky mengutarakan cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, hebat sekali!” sahutku terkagum-kagum dengan cita-citanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku juga ingin jadi pilot seperti cita-cita Yongky. Tapi aku malu mengakui “mau jadi pilot”. Aku hanya anak kampung dan anak orang pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, beberapa kali Ibunda bilang, kalau Onoy mau jadi pilot, gigi haruslah sehat dan bagus. Makanya, aku selalu merawat dan memperhatikan gigiku. Ibunda pun selalu memeriksakan gigiku. Alhasil, sewaktu TK aku malah memenangkan kontes gigi indah se-kota Sungailiat. Tapi sayangnya, sejak SD gigiku mulai berantakan, sebab aku suka makan makanan berkuah asam cuka. Kuurungkan saja cita-citaku jadi pilot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini pesawat jet. Ini pilot dan ini co-pilotnya. Pesawatnya begini-begini. Ini ruang pilotnya,” terang Yongky sembari membuka buku panduan tentang kapal terbang sewaktu kami sekeluarga singgah ke rumah Yongky di Jakarta sebelum menengok nenek di Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkesima dan merasa makin ciut di hadapan Yongky. Apalagi sewaktu dia memperlihatkan koleksi kapal terbang mainannya. Nyamen bener tinggal di kota besak dan jadi anak orang kayo macam Yongky ini, batinku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengajakku naik ke lantai dua rumahnya. Dari teras lantai dua itu kami dapat menyaksikan pesawat terbang tinggal landas. Karena jarak rumahnya tidaklah jauh dengan bandara Halim Perdana Kusuma. Cuma satu kali itu aku bertandang ke rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yongky berada di Jakarta dan aku masih di Sungailiat, kerinduan acapkali menyapaku setiap pulang sekolah atau pulang dari gereja aku melintas di depan rumah dinas papanya. Aku selalu menoleh ke pintu samping rumahnya. Kupikir, mungkin Yongky sudah pulang lagi, lantas memanggilku. Tapi hanya tampak daun pintu tertutup, seolah mengejekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, Yongky sudah datang,” kata Ibunda. “Kelak kita ke rumahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asyik,” sambutku kegirangan. Aku tahu bahwa hari ini libur sekolah. Aku tidak usah kuatir soal sekolah. Aku bisa bermain sepuasnya dengan Yongky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa musim liburan sekolah Yongky kembali ke Sungailiat, karena papanya masih bertugas di Sungailiat. Kedatangan Yongky dan kesempatan berjumpa dengannya selalu membuatku girang tak terkira. Ibunda mengerti sekali. Lalu, siang harinya aku akan bermain sepuasnya dengan Yongky. Selalu saja kudapatkan suasana bermain yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut-berikutnya, Yongky jarang mudik ke Bangka. Tidak lagi setahun sekali dia datang. Pak Dokter Ramsey pun pindah ke Jakarta. Rumah dinas mereka di Jalan Taman Sari itu sudah ditempati orang lain. Tinggal rumah megah mereka yang berada di tengah perkebunan cengkeh seluas 4 hektar, yang jaraknya hanya beberapa kilometer saja dari rumah kami. Aku sering diajak Ibunda menengok keadaan rumah megah dan kebun mereka, yang juga dijaga oleh sebuah keluarga. Keluarga ini digaji oleh papanya Yongky. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penantianku terasa sia-sia. Dan, aku pun mulai melupakannya, kendati setiap melintas di depan rumah bekas tempat tinggal Yongky itu ada perasaan rindu menggelayutiku. Lama kelamaan kian terkikis oleh pergaulanku bersama banyak kawan. Beberapa kali Pak Dokter Ramsey datang, namun Yongky tidak ikut bersama beliau. Setiap ke Sungailiat beliau sempatkan diri singgah sebentar ke rumah sempit kami dengan membawa oleh-oleh ikan bandeng fresto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP dan bertambah bandel, Yongky datang bersama papanya dan seorang kakaknya. Waktu itu papanya belum lama pulang dari naik haji. Keluarga kami diberi oleh-oleh dari Arab Saudi. Kemudian papanya mengajakku menginap di rumah megah beliau di perkebunan cengkeh amat luas itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat minder. Apalah diriku yang hanya anak kampung dan berorang tua pas-pasan ini, dibanding anak bungsu dokter yang kaya-raya itu. Tapi, demi hormat pada beliau dan persahabatan dengan Yongky, aku penuhi ajakan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha ha ha…lucu sekali,” Yongky tertawa terpingkal-pingkal sewaktu dia melihat &lt;br /&gt;adegan konyol dalam kisah “Penculikan Calculus” di komik Petualangan Tintin. Ceritanya, gara-gara secuil plester dari luka hidung Kapten Hadock, telah menyebabkan pesawat melaju secara naik-turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut-ikutan terpingkal-pingkal. Disamping itu, bagiku, komik satu ini baru sekali. Aku belum pernah melihatnya. Selama ini aku hanya mengenal komik Donal &lt;br /&gt;Bebek, Superman, Batman, pendekar-pendekar dari rimba persilatan dan Deni Manusia Ikan. Ah, dasar kampungan sekali aku ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan hari itu hujan turun bertubi-tubi sejak pagi. Kemudian, bersama sopir mereka, kami pergi berenang di pemandian air panas Pemali. Dua hari aku menemaninya berlibur. Lalu pada sore harinya dia kembali ke Jakarta. Itulah pertemuan terakhir kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan masa SMP, aku sudah melupakan Yongky. Tidak ada lagi hal-hal istimewa. Aku sibuk bermain dengan kawan-kawan kampung dan sekolahku, bahkan aku menjadi semakin bandel. Sampai ketika aku melanjutkan sekolah ke Jogja dan beberapa kali mudik ke Bangka, tidak sekali pun aku menyempatkan diri singgah ke rumah Yongky di Jakarta. Aku betul-betul kehilangan komunikasi apapun dengannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, Yongky sudah sarjana komputer,” begitu informasi Ibunda belum lama ini. “Sudah 6 bulan ini dia membuka kursus komputer di Pangkalpinang. Katanya, dia mau membangun usaha komputer serta warung internet (warnet) di Sungailiat. Bahkan, dia sudah menyiapkan rancangan rumahnya, tempat kursus komputer dan warnetnya kelak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben,” responku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak orang kaya memang nggak susah membuka usaha, pikirku. Tapi, tumben, tiba-tiba ingin kembali ke Sungailiat. Apakah Jakarta sudah nggak mampu menyajikan kesenangan lagi? Dan, kok sarjana komputer, bukannya menjadi pilot atau pekerjaan yang berhubungan dengan kapal terbang. Apa dia sudah nggak tertarik lagi pada cita-cita masa kecilnya, terbang menembus awan dan menjelajahi angkasa dengan kendaraan udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia ingin pindah dan berkarier di Sungailiat saja. Dia bilang, ‘aku lahir di Sungailiat, aku mau meninggal di Sungailiat’. Dia ‘kan lahir di Sungailiat, Noy.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, wah, wah, luarbiasa sekali sahabat kecilku ini! Masa sekolah dasar hingga jadi sarjana yang dihabiskannya tanpa sisa di Ibukota, ternyata merasa terpanggil untuk kembali ke tanah kelahiran. Padahal Sungailiat hanyalah sebuah kota kecil jika dibanding Pangkalpinang. Dia sangat mengerti bagaimana mengelola kekayaan. Aku salut padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Sabtu suhu kamar kontrakanku gerah sekali. Beberapa kali aku terbangun dari tidurku. Kukira pagi-pagi kelak bakal hujan deras. Ternyata tidak. Lantas hari Sabtu, esoknya, suasana senja lebih cepat berkunjung akibat mendung. Kisah iklan biscuit yang kutonton beberapa hari lalu masih menari-nari, mengusik kegelisahan dan kerinduanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pukul 16.45 WIB Ibunda menghubungiku via interlokal dari Bangka. Aku tengah asyik merangkai kata demi kata dan memperbaiki kisah-kisah usang yang, menurutku, harus ditata ulang selagi ide-idenya bagus. Kusambut inlok dari Ibunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngapain sih inlok jam-jam segini, pikirku. Jam-jam segini ongkos inloknya mahal. ‘Ntar kalau tekor, ngomel-ngomel lagi ama orang-orang di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, makcik telah sampai Bangka tadi siang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah, macam manalah makcik ini, gumanku. Pulang ke Bangka nggak bilang-bilang. Tahu-tahu sudah sampai rumah. Mana adik-adik sepupuku nggak beri tahu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, motor sudah dibeli?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum. Mana ada motor baru seharga lima juta,” jawabku malas-malasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati lho, Noy, pegang duit itu. Ibu tidak punya duit segitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, hanya mau ngasih tahu soal kepulangan makcik dan soal pembelian motor baru, kenapa Ibunda sampai repot-repot inlok jam segini sih, pikirku. Ehm, mungkin semalam sudah inlok, tapi kebetulan aku sedang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy,” lanjut Ibunda, “jam setengah lima tadi Yongky meninggal dunia di RS Timah Pangkalpinang, karena sakit malaria, dan sesak nafasnya kambuh. Sore ini Yongky langsung  diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah?!” kata-kataku tidak sanggup tercurah. Aku tidak bisa nyebut apapun. Seketika pikiranku terbang entah ke mana. Kutatap suasana di luar kontrakanku. Tampak langit mencucurkan titik-titik kristal bening. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grrrrrrr… gemuruh mesin pesawat jenis jet yang sedang lepas landas dari bandara Adi Sucipto yang terletak beberapa kilometer saja dari kontrakanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;babarsarijogja, november 2001&lt;br /&gt;Selamat Mengudara, Kawan Karibku, Yongky bin Ramsey&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 25 Agustus 2002, dan situs cybersastra, 14 September 2002]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Kuswinarto Yakin Saja, “Catatan Untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono”, Galeri Esai Cybersastra.net, 5 Januari 2003 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesan tertinggal pada pembaca (=saya) setelah membaca cerpen itu. Cerpen itu berbicara tentang kerinduan, persahabatan, dan kehilangan. Ketika membaca cerpen ini pembaca bisa ikut larut dalam perasaan-perasaan itu. Di sini Agus berhasil memanfaatkan teknik pengaluran sorotbalik (flashback) secara efektif. Ending-nya juga menarik, membuat cerpen ini meninggalkan kesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, awalan/pembuka cerpen ini justru tidak menarik. Bukan karena pembuka itu “kutipan” iklan biscut yang si “aku” tonton di televisi sehingga awalan cerpen ini tidak menarik, melainkan pemindahan iklan ke dalam kata-kata itulah yang tidak mendukung kemenarikan cerpen itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara, banyak gaya, banyak kiat untuk membuat cerpen “memukau” pembaca. Salah satunya, yang dilakukan Agus dalam "Penerbangan Dini". Pemilihan alur flashback dan penggunaan point of view orang pertama juga terasa tepat sehingga memperkuat daya pukau cerpen ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus juga berusaha mengangkat "Bangka" dalam cerpennya. Tetapi itu masih sebatas kulitnya. Dan mungkin itu dilakukan Agus memang sekadar memberi warna lokal pada cerpennya, tidak seperti cerpen-cerpen Gus tf Sakai, misalnya, yang begitu kental “roh” kedaerahannya. Mungkin akan bagus jika Agus mencoba mengangkat “ruh” Bangka, daerah tempat cerpenis itu lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen yang telah matang untuk antologi cerpen “Penerbangan Dini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENERBANGAN DINI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja belum menjelma seutuhnya tatkala aku bingung menggarap sepetak waktu dengan cara menonton acara yang langsung disambar sebuah iklan. Dua anak laki-laki memandang hujan lebat dari balik jendela kaca. Air muka keduanya keruh. Rupa-rupanya siang itu kakak-beradik ini tidak bisa bermain bola seperti biasa. Semula sang ibu sempat bingung, bagaimana membuat kedua anaknya tidak muram. Tapi, setelah dia menemukan setoples biskuit di dalam rak makanan, muncullah ide untuk menghibur anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan suara penyiar pertandingan sepakbola, sang ibu memainkan biskuit-biskuit itu, lantas memasukkannya ke dalam mulut kedua anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Goooolll!” teriak riang anak-anaknya setiap biskuit masuk ke mulut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai giliran biscuit terakhir, sang ibu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Kedua anaknya bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gol bunuh diri,” kilah sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Ibu bisa aja,” komentar si bungsu sembari tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba raut muka si bungsu dalam iklan biskuit tadi mengusik kenanganku pada seorang kawan kecilku. Namanya Yongky. Usianya sekitar satu-dua tahun di bawahku. Dia lahir prematur – belum genap tujuh bulan, berat badannya 1,4 kilogram dan hanya sebesar botol – di Rumah Sakit Bakti Timah, Pangkalpinang. Dia adalah anak bungsu dari pasangan dokter yang terkenal di kotaku, Sungailiat. Papa dan mamanya adalah dokter umum. Orang-orang di kota kami mengenal beliau dengan nama Pak Dokter Ramsey. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa mengenal Yongky karena aku dulu seperti pelanggan tetap di RS UPTB Sungailiat, tempat Pak Dokter dan Ibu Dokter Ramsey bekerja dan Ibundaku adalah juru rawat di rumah sakit tersebut. Sebelumnya, Ibundaku dipercayakan olek Pak Dokter Ramsey dalam menjaga dan merawat Yongky sejak baru lahir. Setelah dua tahun Yongky berangsur normal, sesak nafasnya sembuh serta bisa berjalan, barulah Ibunda kembali bertugas di RS UPTB Sungailiat. Selanjutnya Ibunda menjadi staf perawat dalam ruang kerja Pak atau Bu Dokter Ramsey. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, entah apa kini kabarmu, Yong, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak aku ingin sekali berjumpa dengannya. Entah kenapa ingatanku berputar mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grrrrrrr….gemuruh mesin pesawat jenis jet yang sedang lepas landas dari bandara Adi Sucipto. Letak bandara itu memang beberapa kilometer saja dari kontrakanku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua Yongky sungguh-sungguh sibuk. Kadang Pak Dokter dan Bu Dokter Ramsey saling bergantian tugas. Kalau Pak Dokter Ramsey bertugas di Sungailiat, Bu Dokter Ramsey ke kota lainnya di Bangka. Belum lagi jika selama beberapa hari bahkan minggu mereka  bertolak ke rumah mereka yang ada di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku juga anak bungsu walaupun tidak sekalem Yongky, tak jarang aku dibawa Ibundaku ke rumah Yongky di kawasan perumahan elit Taman Sari Sungailiat. Di sana aku bermain dengan Yongky atau bermain sendiri manakala Yongky digendong Ibunda, karena Ibunda memang dipercaya mengasuh Yongky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain dengan Yongky, tentu saja berbeda sekali kalau aku bermain bersama kawan-kawan kampungku. Bermain bersama anak-anak kampung, biasanya aku membawa pulang banyak kedekilan. Pakaian kotor dan badan kotor. Karena aku dan anak-anak kampung sering bermain di tanah, membuat alat-alat permainan dari tumbuh-tumbuhan atau semak, atau berkejaran kesana-kemari. Tak pelak Ibunda memarahiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama anak-anak kampung aku bisa nakal dan bandel. Tidak demikian apabila aku bermain bersama Yongky, yang lebih suka bermain di dalam rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, cepat mandi sana,” perintah Ibunda. “Nanti siang kita mau pergi ke Pangkalpinang bersama Yongky. Dia akan pulang ke Jakarta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera menyambut perintah itu dengan senang hati. Setiap keluarga Yongky hendak bertolak ke Jakarta, aku selalu diajak mereka mengantar. Dan aku paling suka diajak mengantarkan Yongky ke bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Aku suka melihat kapal terbang lepas landas atau turun sambil membayangkan nyamannya berada dalam kendaraan udara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, besar nanti aku mau jadi pilot,” kata Yongky mengutarakan cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, hebat sekali!” sahutku terkagum-kagum dengan cita-citanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku juga ingin jadi pilot seperti cita-cita Yongky. Tapi aku malu mengakui “mau jadi pilot”. Aku hanya anak kampung dan anak orang pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, beberapa kali Ibunda bilang, kalau Onoy mau jadi pilot, gigi haruslah sehat dan bagus. Makanya, aku selalu merawat dan memperhatikan gigiku. Ibunda pun selalu memeriksakan gigiku. Alhasil, sewaktu TK aku malah memenangkan kontes gigi indah se-kota Sungailiat. Tapi sayangnya, sejak SD gigiku mulai berantakan, sebab aku suka makan makanan berkuah asam cuka. Kuurungkan saja cita-citaku jadi pilot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini pesawat jet. Ini pilot dan ini co-pilotnya. Pesawatnya begini-begini. Ini ruang pilotnya,” terang Yongky sembari membuka buku panduan tentang kapal terbang sewaktu kami sekeluarga singgah ke rumah Yongky di Jakarta sebelum menengok nenek di Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkesima dan merasa makin ciut di hadapan Yongky. Apalagi sewaktu dia memperlihatkan koleksi kapal terbang mainannya. Nyamen bener tinggal di kota besak dan jadi anak orang kayo macam Yongky ini, batinku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengajakku naik ke lantai dua rumahnya. Dari teras lantai dua itu kami dapat menyaksikan pesawat terbang tinggal landas. Karena jarak rumahnya tidaklah jauh dengan bandara Halim Perdana Kusuma. Cuma satu kali itu aku bertandang ke rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yongky berada di Jakarta dan aku masih di Sungailiat, kerinduan acapkali menyapaku setiap pulang sekolah atau pulang dari gereja aku melintas di depan rumah dinas papanya. Aku selalu menoleh ke pintu samping rumahnya. Kupikir, mungkin Yongky sudah pulang lagi, lantas memanggilku. Tapi hanya tampak daun pintu tertutup, seolah mengejekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, Yongky sudah datang,” kata Ibunda. “Kelak kita ke rumahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Asyik,” sambutku kegirangan. Aku tahu bahwa hari ini libur sekolah. Aku tidak usah kuatir soal sekolah. Aku bisa bermain sepuasnya dengan Yongky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa musim liburan sekolah Yongky kembali ke Sungailiat, karena papanya masih bertugas di Sungailiat. Kedatangan Yongky dan kesempatan berjumpa dengannya selalu membuatku girang tak terkira. Ibunda mengerti sekali. Lalu, siang harinya aku akan bermain sepuasnya dengan Yongky. Selalu saja kudapatkan suasana bermain yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut-berikutnya, Yongky jarang mudik ke Bangka. Tidak lagi setahun sekali dia datang. Pak Dokter Ramsey pun pindah ke Jakarta. Rumah dinas mereka di Jalan Taman Sari itu sudah ditempati orang lain. Tinggal rumah megah mereka yang berada di tengah perkebunan cengkeh seluas 4 hektar, yang jaraknya hanya beberapa kilometer saja dari rumah kami. Aku sering diajak Ibunda menengok keadaan rumah megah dan kebun mereka, yang juga dijaga oleh sebuah keluarga. Keluarga ini digaji oleh papanya Yongky. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penantianku terasa sia-sia. Dan, aku pun mulai melupakannya, kendati setiap melintas di depan rumah bekas tempat tinggal Yongky itu ada perasaan rindu menggelayutiku. Lama kelamaan kerinduan itu kian terkikis oleh pergaulanku bersama banyak kawan. Beberapa kali Pak Dokter Ramsey datang, namun Yongky tidak ikut bersama beliau. Setiap ke Sungailiat beliau sempatkan diri singgah sebentar ke rumah sempit kami dengan membawa oleh-oleh ikan bandeng fresto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP dan bertambah bandel, Yongky datang bersama papanya dan seorang kakaknya. Waktu itu papanya belum lama pulang dari naik haji. Keluarga kami diberi oleh-oleh dari Arab Saudi. Kemudian papanya mengajakku menginap di rumah megah beliau di perkebunan cengkeh amat luas itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat minder. Apalah diriku yang hanya anak kampung dan berorangtua pas-pasan ini, dibanding anak bungsu dokter yang kaya-raya itu. Tapi, demi hormat pada beliau dan persahabatan dengan Yongky, aku penuhi ajakan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha ha ha…lucu sekali,” Yongky tertawa terpingkal-pingkal sewaktu dia melihat adegan konyol dalam kisah “Penculikan Calculus” di komik Petualangan Tintin. Ceritanya, gara-gara secuil plester dari luka hidung Kapten Hadock, telah menyebabkan kapal terbang melaju secara naik-turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut-ikutan terpingkal-pingkal. Disamping itu, bagiku, komik satu ini baru sekali. Aku belum pernah melihatnya. Selama ini aku hanya mengenal komik Donal Bebek, Superman, Batman, pendekar-pendekar dari rimba persilatan dan Deni Manusia Ikan. Ah, dasar kampungan sekali aku ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan hari itu hujan turun bertubi-tubi sejak pagi. Kemudian, bersama sopir mereka, kami pergi berenang di pemandian air panas Pemali. Dua hari aku menemaninya berlibur. Lalu pada sore harinya dia kembali ke Jakarta. Itulah pertemuan terakhir kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan masa SMP, aku sudah melupakan Yongky. Tidak ada lagi hal-hal istimewa. Aku sibuk bermain dengan kawan-kawan kampung dan sekolahku, bahkan aku menjadi semakin bandel. Sampai ketika aku melanjutkan sekolah ke Jogja dan beberapa kali mudik ke Bangka, tidak sekali pun aku menyempatkan diri singgah ke rumah Yongky di Jalan Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat. Aku betul-betul kehilangan komunikasi apa pun dengannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, Yongky sudah sarjana komputer,” begitu informasi Ibunda belum lama ini. “Sudah 6 bulan ini dia membuka kursus komputer di Pangkalpinang. Katanya, dia mau membangun usaha komputer serta warung internet (warnet) di Sungailiat. Bahkan, dia sudah menyiapkan rancangan rumahnya, tempat kursus komputer dan warnetnya kelak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben,” responku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak orang kaya memang nggak susah membuka usaha, pikirku. Tapi, tumben, tiba-tiba ingin kembali ke Sungailiat. Apakah Jakarta sudah nggak mampu menyajikan kesenangan lagi? Dan, kok sarjana komputer, bukannya menjadi pilot atau pekerjaan yang berhubungan dengan kapal terbang. Apa dia sudah nggak tertarik lagi pada cita-cita masa kecilnya, terbang menembus awan dan menjelajahi angkasa dengan kendaraan udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia ingin pindah dan berkarier di Sungailiat saja. Dia bilang, ‘aku lahir di Bangka, aku mau meninggal di Bangka’. Dia ‘kan memang lahir di Bangka, Noy.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, wah, wah, luarbiasa sekali sahabat kecilku ini! Masa sekolah dasar hingga jadi sarjana yang dihabiskannya tanpa sisa di Ibukota, ternyata merasa terpanggil untuk kembali ke tanah kelahiran. Padahal Sungailiat hanyalah sebuah kota kecil jika dibanding Pangkalpinang. Dia sangat mengerti bagaimana mengelola kekayaan. Aku salut padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Sabtu suhu kamar kontrakanku gerah sekali. Beberapa kali aku terbangun dari tidurku. Kukira pagi-pagi kelak bakal hujan deras. Ternyata tidak. Lantas hari Sabtu, esoknya, suasana senja lebih cepat berkunjung akibat mendung. Kisah iklan biscuit yang kutonton beberapa hari lalu masih menari-nari, mengusik kegelisahan dan kerinduanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pukul 16.45 WIB Ibunda menghubungiku via interlokal dari Bangka. Aku tengah asyik merangkai kata demi kata dan memperbaiki kisah-kisah usang yang, menurutku, harus ditata ulang selagi ide-idenya bagus. Kusambut inlok dari Ibunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngapain sih inlok jam-jam segini, pikirku. Jam-jam segini ongkos inloknya mahal. ‘Ntar kalau tekor, ngomel-ngomel lagi ama orang-orang di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, makcik telah sampai Bangka tadi siang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah, macam manalah makcik ini, gumanku. Pulang ke Bangka nggak bilang-bilang. Tahu-tahu sudah sampai rumah. Mana adik-adik sepupuku nggak beri tahu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy, motor sudah dibeli?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum. Mana ada motor baru seharga lima juta,” jawabku malas-malasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati lho, Noy, pegang duit itu. Ibu tidak punya duit segitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, hanya mau ngasih tahu soal kepulangan makcik dan soal pembelian motor baru, kenapa Ibunda sampai repot-repot inlok jam segini sih, pikirku. Ehm, mungkin semalam sudah inlok, tapi kebetulan aku sedang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noy,” lanjut Ibunda, “jam setengah lima tadi Yongky meninggal dunia di RS Timah Pangkalpinang, karena sakit malaria, dan sesak nafasnya kambuh. Sore ini Yongky langsung diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah?!” kata-kataku tidak sanggup tercurah. Aku tidak bisa nyebut apa pun. Seketika pikiranku terbang entah ke mana. Kutatap suasana di luar kontrakanku. Tampak langit mencucurkan titik-titik kristal bening. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grrrrrrr… gemuruh mesin pesawat jenis jet yang sedang lepas landas dari bandara Adi Sucipto yang terletak beberapa kilometer saja dari kontrakanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;babarsarijogja, november 2001&lt;br /&gt;Selamat Mengangkasa, Kawan Karibku, Yongky bin Ramsey&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192997336898636?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192997336898636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192997336898636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192997336898636' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192984447659666</id><published>2003-08-26T13:30:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:30:44.463-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;SEORANG PRIA MENCARI TULANG RUSUK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi mencari tulang rusuk, kamu keluar dari pekerjaanmu? Bodoh sekali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku? Bodoh sekali? Apa alasanmu berani bilang gitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meninggalkan pekerjaan hanya untuk mencari tulang rusukmu, itu bodoh sekali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah itu bodoh, mencari tulang rusuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bukan itu maksudku, Ji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, susah sekali ngejelasin ke kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu artinya kau bodoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak aja. Daya tangkapmu itu lho, Ji, yang susah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mangkir. Kau sendiri tak berhasil menjelaskan. Argumentasimu payah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, sudahlah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah. Aku juga sedang nggak punya waktu meladenimu. Buang-buang waktu. Lain waktu saja kita diskusikan lagi. Oke?” tukas Oji sembari langsung ngeloyor pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari tulang rusuk. Itulah yang memang sedang digiatkan Oji beberapa waktu terakhir. Tak pelak menjadi berita heboh bagi orang-orang yang mengenalnya. Sebelum-sebelumnya, dari pagi jumpa pagi dan dari senja sua senja, Oji hanya memeras waktunya demi karier, status sosial dan duit. Ia seakan tak peduli pada proses hidup umum: lahir, belajar, kerja, kawin dan akhirnya mati. Tidak ada yang harus dihebohkan. Sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari tulang rusuk. Di sebuah gedung mewah, sebuah kantor sewa. Ke sana Oji mengarahkan kakinya. Ia memasuki lantai pertama dengan langkah tegap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang resepsionis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, barangkali bisa. Apakah Mbak tahu di mana tulang rusukku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulang rusuk Anda? Di tubuh Anda, nggak ada?” tanya sang resepsionis yang manis itu sambil menunjuk ke perut Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji melihat perutnya sekilas. Dirabanya sebentar. Lalu kembali menatap perempuan itu. Ia menggelengkan kepalanya. Perempuan muda yang aduhai itu pun tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga tidak tahu, Mas. Maaf. Sebaiknya Anda mencarinya di tempat lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan pertama gugur. Oji tidak tahu harus bagaimana. Namun semangat membara sedang membakar hasrat Oji. Ia melangkah menuju sebuah ruang lobby. Dia duduk di sofa yang khusus diperuntukkan bagi para tamu. Diletakkannya tas semi kopernya di sebelah sofa. Matanya mencari-cari. Mungkin tulang rusuknya berkeliaran di sini. Seorang perempuan melintas, dicegatnya dengan sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, saya sedang mencari tulang rusuk saya. Mbak tahu tulang rusuk saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, hilangnya di mana, Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya nggak tahu. Makanya saya nanya ke Mbak. Mbak tahu, nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya apalagi. Maaf lho, Mas, saya bener-bener nggak tahu. Atau, begini. Mas lapor ke polisi aja. Bilang bahwa Mas kehilangan tulang rusuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“’Ntar repot biaya nebusnya, kalau mereka berhasil menemukan tulang rusukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ya. Ehm. Eh iya, Mas telpon ke 108 aja deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah. Tapi mereka tidak tahu. Malah nanya, apakah telah saya asuransikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sudah, saya pun nggak tahu, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat. Ketidaktahuan toh tak harus dipaksakan demi sesuatu yang tidak diketahui. Toh semangat masih membara untuk mengembara dalam gedung tersebut. Toh gedung itu pun luas. Oji tak perlu patah arang. Sampai pada jam makan siang. Ia tahu bahwa pada jam-jam segitu para karyawati akan keluar sejenak untuk makan siang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Mbak tahu tulang rusuk saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah, jujurlah, Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, bener. Swear!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi mata Mbak yang indah itu mengatakan hal yang berbeda.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, yang bener? Mas terlalu memuji. Mata saya memang indah kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, iya, ‘kan. Mengakulah. Apakah Mbak adalah jelmaan tulang rusuk saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh, Mas, bukan saya. Saya pun tak tahulah di mana tulang rusuk Mas itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nihil. Begitu pula sewaktu ia kemudian masuk ke gedung-gedung sejenis, dan keesokan harinya hingga berminggu-minggu. Juga ketika ia menyisiri mal-mal, shopping center, swalayan, butik, kafe, showroom, fashion show, dan lain-lain. Hasilnya tetap nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada perempuan yang berani memberi jawaban berbeda melalui hubungan telepon. Itu pun gara-gara Oji menempelkan beberapa pamflet dengan tulisan besar-besar “SEORANG PRIA MENCARI TULANG RUSUK. Hubungi nomor telepon ini”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo… tulang rusuk yang itu,” tukas seorang perempuan dengan nada genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, jelas dong. Saya sudah dewasa lho, Mas,” nadanya semakin genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini dia! Nggak sia-sia deh saya sebarin pamflet. Kapan saya bisa melihatnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan… setelah lewat jam kerja saya aja, Mas. Tapi, Mas beraninya di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maunya, Mbak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Hotel Megalangit jalan Bebas Hambatan Cinta. ‘Gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji bingung. Masak sih melihat tulang rusuk harus di hotel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari tulang rusuk. Ke lembaga urusan pertemuan tulang rusuk. Ya, gagasan yang jitu. Hati Oji berbunga-bunga. Mukanya seketika terbinar-binar. Dia membeli beberapa koran dan majalah yang memberi diri sebagai jembatan penghubung antara lelaki dan jelmaan rusuknya. Dicarinya semua alamat redaksi media cetak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji merinci kondisi fisiknya. Tinggi badan, berat badan, golongan darah, lingkar pundak, lingkar pinggul, lingkar jidat, soal kecacatan fisik, kesukaan, dan lain-lain. Ukuran-ukuran tersebut harus dipasangnya, agar para perempuan dapat mereka-reka sendiri apakah ukuran mereka tepat untuk disandingkan dengan Oji. Tak lupa Oji memberikan foto terbaiknya, baik secara close up maupun seutuhnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tipe tulang rusuk yang bagaimanakah yang Anda dambakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang sesuai dengan saya dong. Coba lihat ukuran saya dalam formulir tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kami bandingkan secara matematis, angka yang mendekati ukuran Anda itu ada pada beberapa perempuan, termasuk janda setengah baya dan seorang nenek-nenek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, bagaimana bisa begitu banyak tulang rusuk saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya tulang rusuk Anda ada berapa? Coba hitung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji meraba tulang rusuknya. Benar juga ya, batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda merasa kehilangan sebelah mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelah mana ya, pikirnya. Oji menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan mereka-mereka ini? Anda merasa siapa yang tepat dipasangkan ke badan Anda,” kata orang itu seraya membeberkan beberapa foto perempuan yang juga mendaftarkan diri di lembaga tersebut. Ada yang alim. ada yang seronok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beri kesempatan saya mencocokkan diri. Boleh saya bawa semua?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak bisa begitu dong. Emangnya pakaian, bisa dicoba dan diganti lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari tulang rusuk. Sebuah surat meluncur ke meja kerja Oji di rumah. Surat dari sebuah biro konseling urusan penemuan tulang rusuk. Isinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulang rusuk Anda sebenarnya tidak hilang. Percayalah. Dia masih berada dalam diri Anda. Bukan di mana-mana atau ke mana-mana. Percayalah. Untuk memperolehnya, jangan dengan bertanya sana-sini atau coba sana-sini, sebab itu berbahaya. Percayalah. Bahayanya, pencarian yang membabi-buta bisa membuat Anda salah dapat. Bahaya. Jika Anda nyasar ke kebun binatang, niscaya Anda bakal repot. Repotnya? Ya mungkin sekali seandainya ada seekor monyet yang mengaku dirinya sebagai tulang rusuk Anda.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu muncul lagi surat sejenis dari biro konseling lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Anda bingung mencari? Kenapa Anda memilih bersusah-payah menabrak tembok hanya demi sebatang tulang rusuk? Begini. Kami punya saran. Sebaiknya Anda istirahat saja dulu, seperti Adam yang menemukan tulang rusuknya telah menjelma menjadi Hawa ketika Adam terbangun dari lelapnya. Anda harus dalam keadaan yang benar-benar siap menerima tulang rusuk Anda. Sebab kalau tidak siap, tulang rusuk yang Anda nantikan itu bisa berubah menjadi tulang rusak. Mengerikan, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat kali ini membuat kepala Oji dipenuhi tanda tanya. Ia tidak tahu apa maknanya. Maka ia langsung menelepon biro konseling tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang benar. Dia akan menjelma ketika Anda tidur, bukannya setelah bangun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu saatnya dan biarkan dia ada pada saat yang tepat. Percaya saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan tepatnya agar saya bisa percaya ucapan Anda?” tanya Oji penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O, kami tidak tahu. Anda sendiri yang harus tahu kapan saatnya Anda siap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya tahu, ngapain musti repot-repot nanya Anda. Kalau ternyata Anda tidak tahu, ngapain Anda berbusa-busa menggurui saya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik! Oji memenggal percakapan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong kosong, batin Oji. Entah sudah berapa banyak biro semacam itu yang hanya bisa mengumbar teori usang. Kebanyakan makan teori! Coba aku mendatangi seorang konselor yang terkenal dan sering dipuja-puji di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya Anda berdiam diri, berdoa dan minta kepada Tuhan,” saran seorang konselor ternama itu suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Adam dulu juga berdoa dan meminta-minta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, ya, pikir sang konselor. Tapi ‘kan nggak ada salahnya meminta. Tapi. Adam juga nggak meminta atau mengemis-ngemis. Tapi, ya semacam usaha begitulah. Tapi, pria ini sudah berusaha mencari-cari bahkan pakai pasang iklan diri di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara Oji sebaiknya memperluas pergaulan dan komunikasi. Barangkali saja di antara para gadis kenalan Saudara itu ada yang benar-benar jelmaan tulang rusuk Saudara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelecehan! Ini sama dengan hendak mengatakan bahwa aku ini kurang pergaulan. Dari dulu aku bergaul sana-sini. Kini, bergaul lagi. Keburu tua dalam bergaul nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari tulang rusuk. Sampai-sampai beberapa kali mimpi pun hanya dipenuhi tulang rusuk yang berganti-ganti wajah. Dari yang mirip para penjaja tampang di mal-mal hingga seperti yang saban hari menjual tampang dalam iklan-iklan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, setiap malam tulang rusukku berubah wajah. Ini sudah nggak beres!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji tak lagi menggubris pada mimpinya. Setiap bangun tidur, ia kembali pada pola yang pernah terprogram. Bangun pagi, mandi, sarapan hingga bangun esok paginya lagi. Itu cukup menyenangkan, ketimbang mengikuti selera orang-orang mengenai pencarian tulang rusuk. Pencarian yang melelahkan. Bangun tidur tidaklah untuk berlelah-lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melewati ruang tamu, ia menemukan sepucuk surat tergeletak menggoda di atas meja. Sepucuk surat untuknya. Langsung dibukanya.  Intinya, Oji diminta bekerja kembali, karena posisi dia belum tergantikan, dan beberapa rekan sekerjanya, yaitu para wanita, merasa kehilangan semenjak Oji pergi. Alangkah Oji terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu ia menghubungi tempat dia pernah bekerja. Ia menyanggupi bekerja kembali. Ia pun sudah bosan terlalu lama menganggur hanya mencari tulang rusuk yang tak jua menampakkan diri. Dengan bekerja, pencarian tulang rusuk dapat ditangguhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau bekerja lagi, Ji? Emangnya tulang rusukmu sudah ketemu?” tanya kawannya pada saat mereka berpapasan di pertigaan gang kampung sempit mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarlah pekerjaan ini yang sementara menjadi tulang rusukku, menyangga hari-hariku. Toh dia cukup handal dalam hal pemenuhan kebutuhan perutku. Semoga daya tangkapmu tidak payah lagi,” sahut Oji sembari buru-buru pergi ke kantornya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;babarsariyogya, juli  2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat di cybersastra.net, 14 Agustus 2002, dan harian Sijori Pos, 10 November 2002]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Komentar Kuswinarto, “Catatan Untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono”, Galeri Esai Cybersastra.net, 5 Januari 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen “Seorang Pria Mencari Tulang Rusuk” mengisahkan pemuda Oji yang nekad berhenti kerja demi mencari jodohnya. Datangi perkantoran, ikut biro jodoh, konsultasi ke biro-biro jodoh sampai ke konselor tersohor, hasilnya nihil. Akhirnya ia kembali ke kantornya semula karena kantor itu memintanya kembali bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa jadi sangat bego membaca cerpen ini. Entah kenapa. Mungkin karena ada tokoh yang sok-sokan nggak tahu kalau “mencari tulang rusuk” itu artinya ‘mencari jodoh’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192984447659666?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192984447659666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192984447659666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192984447659666' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192952958882886</id><published>2003-08-26T13:25:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:25:29.586-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;TALI YANG RAPUH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pelabuhan Mentok, mobil angkutan yang ditumpangi Agus singgah di Kelapa selama satu jam, sebelum melanjutkan perjalanan lagi menuju Pangkalpinang. Rute perjalanan rutin. Agus menikmati sekali. Ia baru kali ini bisa menjejakkan kakinya di Bangka. Ia melangkah, memasuki rumah makan “Cubekaterai”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Agus menyapu tiap sudut dan bidang ruang. Terakhir, matanya tersangkut pada sosok gadis yang sedang asyik bercanda lewat telepon genggamnya. Orangnya cantik, kulitnya kuning bersih, berpenampilan rapi dan lincah. Alangkah girangnya gadis itu bersama benda telekomunikasi tersebut. Kalau tidak mengirim SMS, ya bicara di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aok, tunggu bai luk. Sabarla, Bang.” 1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu mendengar suara entah dari mana. Mungkin ia sedang ngobrol dengan kakaknya atau malah pacarnya, tebak Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dak lame be. Denget agik kunyampai. Paling lambet due jam agik la. Soale sopir oto e tengah makan. Abang nek oleh-oleh kelapo sawit, dak? Ha ha ha ha....” 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus memandangi gadis itu terus.Tawanya renyah, suaranya bening, matanya cerah, rambut panjangnya indah tergerai dan senyumnya manis sekali. Agus berjalan mantap membawa barang-barangnya. Dia memberanikan diri menuju meja gadis itu, dan duduk dengan santai. Beberapa mobil angkutan sudah siap berangkat ke Pangkalpinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus meletakkan barang-barangnya dengan hati-hati. Ia membuka jaketnya, menarik kursi, dan memasang jaketnya di sandaran kursi. Dengan santai duduk di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dadah, Bang. Sampai ketemu kelak, muuuuuach!” ucap gadis itu menyudahi bincang-bincang riang dengan ponselnya. Gadis itu beralih memandang Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak dari Jakarta?” tanya basa-basi Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya,” jawabnya dengan tersenyum manis. “Aslinya sih orang Belinyu. Cuma, saya bekerja di Pangkalpinang. Kemaren ke Jakarta cuma lima hari. Urusan dinas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo, kukira Mbak bekerja di Jakarta,” kata Agus sambil mengagumi kulit gadis Belinyu yang kuning terang itu. Gadis asli Bangka kulitnya kuning bersih, batin Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang dari mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku dari Jawa, Jawa Tengah, tepatnya Kutoarjo. Aku asli orang Jawa. Aku keluar dari pekerjaanku. Aku sudah ngelamar kerja di sini. Tinggal tunggu panggilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba muka gadis itu berubah kecut. Dia terburu-buru menuju toilet. Spontan Agus bingung. Lalu Agus mengeluarkan minyak anginnya. Beberapa menit kemudian gadis itu keluar, kembali ke meja mereka. Mukanya agak pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, saya tiba-tiba mual sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih mabuk laut ‘kali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin aja sih. Di kapal saya nggak doyan makan. Maklum, saya belum biasa keluar Bangka,” katanya dengan berusaha tersenyum ramah. “Tadi Mas mau nanya apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, tadi “abang”, sekarang “mas”. Agus tersenyum dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernah ke Kutoarjo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak. Namanya pun baru sekarang saya dengar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus jadi malu hati. Nama Kutoarjo ternyata tidak setenar yang dibayangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana rumah makan itu memang sedang ramai. Para pemudik tumpah ruah di kawasan peristirahatan sementara angkutan antar kota itu. Mereka memakai kesempatan jeda tersebut untuk makan, minum, buang air kecil, sholat, cuci muka, mandi, membeli oleh-oleh dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu di kapal, kok aku nggak melihat Mbak, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, Mas di kelas berapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku di kelas ekonomi lemah, lantai bawah. Mbak di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ada di kelas satu, Mas. Bukannya apa-apa sih, tapi fasilitas kantor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya Mbak bekerja sebagai apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi Sales Promotion Girl telepon seluler di Pangkalpinang,” jawabnya dengan mimik muka mempesona. “Saya maunya sih kuliah dulu, begitu. Tapi ortu nggak punya duit banyak untuk biaya kuliahku. Mending kerja aja. Nggak rugi juga bekerja. Lumayan bisa nabung dan belajar mandiri, sebelum berkeluarga.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus mengangguk-angguk. Pantesan bawaannya ponsel dan akrab banget dengan benda modern itu, batin Agus. Juga ramah, dan menyenangkan. Kalau dia kuliah, cocoknya dia ini mahasiswi jurusan Public Relation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya, kenalkan, nama saya Anna,” katanya sambil menyodorkan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh...,” sambut Agus gelagapan, “Agus. Agus aja. Singkat dan sederhana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm...Maaf, saya boleh nanya?” tanya gadis itu dengan roman yang tetap cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O, silakan, silakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut Mas Agus, saya ini genit, nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak. Bener, nggak,” ujar Agus. “Emangnya kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya, kan, seorang SPG yang terbiasa beramah-tamah dengan calon pembeli dan para langganan. Beberapa orang bilang, saya ini terlalu genit dan memancing selera pria.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu, kan, penilaian orang-orang yang kurang bahan omongan aja. Mungkin mereka iri. Kamu ramah dan selalu tersenyum sesuai tuntutan profesimu. Kalau kamu cemberut dan dahimu berkerut-kerut, ya calon pembeli bisa minggir, nggak sudi mampir dong. Terus, kamu nggak mencapai target penjualan. Terus, gajimu tidak naik-naik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus, terima kasih, Mas,” penggal gadis itu seraya tersenyum manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus pun membalas senyuman itu. Ia menikmati senyum itu. Betapa aduhainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Mas, sorry, ya, saya berangkat duluan. Mobilnya sudah siap jalan tuh,” pamit Anna tergesa-gesa seraya beranjak dari tempat itu. “Sampai ketemu lain kali. Bye!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke, silakan. Sampai ketemu juga,” balas Agus mengantarkan ketergesaan gadis itu. Ia membantu mengangkat barang-barang gadis itu. Kebetulan tidak terlalu berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sayang dia harus cepat berlalu, guman Agus. Padahal aku belum menanyakan alamatnya yang di Pangkalpinang itu. Ehm, barangkali gadis-gadis Bangka memang modelnya begini. Cantik, berkulit bersih, lincah, ramah, terbuka, tegas, mudah bergaul dan nggak gagap teknologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menunggu panggilan pekerjaan, Agus menumpang di rumah kawannya, Onoy. Agus cepat beradaptasi dengan keluarga Onoy. Juga dengan tetangga-tetangga sekitar rumah Onoy, termasuk gadis-gadis dari beberapa daerah lain karena ia suka bepergian serta keluar-masuk beberapa kantor besar-kecil untuk melamar pekerjaan. Rina, Atik, Weni, Sinta, Betty, Candy, Etha, Lena, Tiyar dan beberapa nama lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, gadis-gadis Bangka ini cantik-cantik dan kulitnya kuning langsat,” puji spontan Agus ketika ia dan Onoy duduk santai menikmati acara tipi di ruang keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm, tampaknya kawan satu ini telah menemukan bunga-bunga Bangka yang sedang mekar-menawan hati,” seloroh Onoy. “Kau telah kenal salah seorang atau malah sukses mengoleksi beberapa dayang 3), Gus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus tidak menyahut. Dia pura-pura mengisi TTS di halaman dalam koran lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah, berapa dayang yang telah membuat hati lajangmu berdendang riang gembira itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Onoy. Aku sekedar berkawan dan bersosialisasi kok. Lumrah, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi sembile 4) hari, kata biniku 5) , beberapa kali orang nelpon ke sini, mencarimu,” kata Onoy sembari mengingat-ingat sebuah nama. “Aduh, siapa, ya. Soalnya selain dia, masih ada pula yang mencarimu. Kalau nggak sore, setelah maghrib atau sekitar jam sembilan malam. Gadis semua! Wah, wah, wah, sudah mulai gandeng sana-sini rupanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ini, Noy, Noy, sudah main curiga nggak karuan begitu. Aku, kan, memang sering berkomunikasi dengan banyak orang. Dan aku penasaran untuk tidak mengenal mereka. Maklumlah, aku ini orang baru, sedang nyari pekerjaan. Mumpung belum repot terjebak rutinitas pekerjaanku. Jangan tergesa-gesa berprasangka, Kawan,” kilah Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuakui, gadis-gadis Bangka memang ... ehm,” lanjutnya. Bulan di luar berseri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya, Gus,” sekonyong-konyong istri Onoy nimbrung sambil membawa tiga cangkir kopi Bangka dan setoples kripik keladi, “tadi sore Suryani Tuhirman nelpon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, nah, nah!” potong Onoy dengan tangan yang sigap menggapai toples.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Trims, Njel,” jawab Agus sewaktu Enjel meletakkan kopi itu di depan Agus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia nggak nitip pesan khusus. Katanya sih, dia kelak mau nelpon lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Gus, jangan bikin malu aku. Dia itu bini orang, tahu!” celetuk Onoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu, Noy. Kamu nggak usah khawatir,” jawab Agus. “Justru kemarin kami berfoto bareng suami dan anak-anak mereka di pantai Tanjung Pesona. Waktu itu tustel mereka ketinggalan di rumah. Kebetulan aku sedang motret-motret panorama pantai Bangka untuk dokumen pribadi. Terus, suaminya minta tolong aku motret mereka, setelah kami berkenalan dan dia kenal banget denganmu, Noy. Katanya, Suryani itu dulu kawanmu waktu  SD-SMP, Noy?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kawan baik. Cantik, kan, orangnya?” goda Onoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kamu mulai lagi. Dia itu bini orang, tahu!” balas Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas siang sepulang dari kantor, Onoy mengajak Agus menikmati es gosok kesukaannya. Ia memperkenalkan menu lokal yang selama ini belum pernah menyentuh lidah jawa Agus. Selain itu, sebetulnya ada masalah pelik yang harus dibicarakannya dengan Agus. Ia sudah berusaha keras menutup rapat-rapat kasus yang dialaminya. Mungkin beberapa orang, rekan kantor, relasi bahkan istrinya sendiri sudah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengambil posisi di pojok warung, agar dapat lebih leluasa ngobrolnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Noy, ada apa?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus terang, tapi jangan bilang-bilang, ya,” ungkap Onoy. “Aku punya masalah yang nggak main-main. Aku bisa pura-pura berseri-seri di depan biniku, padahal hatiku gelisah minta ampun. Sungguh, Gus, ini perkara serius! Mau, nggak, kau menolongku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau sih, asalkan semampuku. Tapi, apa dulu yang bisa kutolong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, Gus. Aku sudah beristri dan beranak tiga. Orang melihat keluarga kami rukun. Kau sudah lihat sendiri, kan, betapa harmonisnya keluarga kami. Aku dilarang  berpoligami. Nah, aku punya kawan, seorang gadis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo, gadis intim lain atau disingkat ‘gila’, maksudmu?” tebak Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, begitulah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus, kamu cinta setengah mati padanya? Terus, kamu pengen kawin lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih dari cuma cinta setengah mati. Sekarang dia...,” kata Onoy seraya menggerakkan tangannya membentuk setengah lingkaran di perut. Lalu dua jemarinya diangkat. Bukan tanda “viva”, “victory” (kemenangan) atau tanda “peace” (damai). Bahasa isyarat yang artinya bunting dua bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, Noy!” seru Agus terbelalak. “Kamu ini ngawur nggak ukur-ukur! Sudah lulusan sekolah di Jawa, punya bini, anak tiga, malah kini... Bener-bener ngawur!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sstttt...tenang-tenang, jangan panik dulu. Kau mau nolongin aku, nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyari dukun atau ramuan penggugur kandungan? Nggak, Noy. Nggak boleh! Jangan edan, Noy. Umur seminggu, sebulan atau berapa bulan kek, embrio itu sudah hidup. Sejak terjadinya pembuahan, otomatis sudah terbentuk kehidupan baru. Dia sudah menjadi manusia, meski tinggal sementara dalam rahim ibunya. Apalagi sudah sampai dua bulan! Kamu jangan menabung dosa, Noy. Sudah berzinah, mau membunuh pula.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sstttt... Nggak usah sewot begitu. Maksudku, kau nikahin gadis itu. Bawa pulang ke Jawa, kan, aman. Orang daerahmu nggak akan tahu-menahu persoalan ini. Ongkos pulang ke Jawa, pernikahan kalian, pemenuhan gizi ibunya dan kelahirannya kelak biar aku saja yang membiayai dari sini. Kau tinggal ngasih nomor rekeningmu, tunggu telpon dariku. Bereslah setiap bulannya. Kita bikin perjanjian, Gus. Lagi pula, gadis itu betul-betul ... Pokoknya, sip! Nggak bakal ngecewain. Yakin deh! Mumpung ada gadis sebaik dia. Umurmu makin tua, jodoh belum dapet-dapet, jadi bujang lapuk lho.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gagasanmu tambah ngawur lagi!” sergah Agus terkejut. “Kamu yang berbuat, tanggung jawab dong! Pria macam apa sih kamu ini. Sudah tahu kalau nggak ada kompromi bagi poligami, masih saja nekad mengumbar berahi di mana-mana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran Onoy berputar sejenak. Suasana warung itu tidak terlalu ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, kalau kau bersedia, ini berarti kau sudah menolong keluargaku, masa depan anak-anakku, menolong masa depan ibu dan anak itu. Kasihan, kan,  kalau anak itu lahir tanpa ayah dan nggak punya akte kelahiran, atau ibunya dicap macam-macam. Orang di kampungmu mana mungkin tahu masa lalu gadis itu. Katanya, kau ini kawanku. Kita dulu akrab waktu di Jawa. Kau paling sedih melihat perempuan disia-sia,” bujuk Onoy pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong ‘kasihan, kasihan’. Waktu kamu merayu gadis itu, apa pernah kamu merasa iba sedikit pun jika kelak bakal menyengsarakannya? Pokoknya tidak! Kamu wajib menyelesaikan persoalanmu sendiri,” tandas Agus. “Kamu ini pun kawan model apa, ngasih bekas dan melimpahkan tanggung jawab ke kawan. Nggak, ya, sorry!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pasang mata melirik ke arah dua sahabat ini. Onoy terdiam. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghela lepas-lepas. Sekilas kekecewaan tercetak di wajahnya. Lantas, ia berusaha tenang. Masalah belum final. Dia masih mencari-cari kapan saatnya untuk membujuk Agus lagi. Diliriknya arloji di tangannya. Ia teringat sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah, Gus. Aku pergi dulu deh, mau menjemput dia. Dia sudah pulang kerja. Kasihan gadis itu rumahnya jauh dan kasihan kandungannya juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerja di mana, Noy?” bisik Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mal,” kata Onoy seraya ngeloyor. “Nanti aku ke sini lagi kok. Tunggu aja sebentar. Sedenget bai. Lagian, kan, aku belum bayar semua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mal? Jadi pramuniaga? Pramuniaga mal biasanya cantik-cantik, ramah dan bersih, batin Agus. Penampilan mereka selalu enak dipandang. Jelas aja si Onoy ini terpikat. Tak jarang tuntutan profesi pramuniaga menghendaki penampilan serba mewah, melebihi kemampuan upah bulanan. Kalau soal duit, Onoy memang lebih dari sekadar mampu. Saban bulan ia biasa memborong barang-barang kebutuhan keluarganya. Mungkin gadis itu tertarik pada Onoy lantaran Onoy terlalu royal, apalagi tampang dan tutur kata Onoy sangat memungkinkan disukai gadis-gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dasar keterlaluan bener si Onoy ini, celoteh hati Agus sambil menggeleng kepalanya. Istrinya cantik, baik, mudah bergaul dan berwawasan luas, kok ya masih kurang. Lantas ajaran agamanya dikemanain sih. Payah, payah kawan satu ini! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kalau memang pacar gelapnya itu cantik, seksi, terpelajar, wajarlah Onoy jadi kurang ajar, pikir Agus. Nah, kalau ternyata gadis itu cewek murahan, materialistis, wawasan serta pergaulannya berkisar pada seks melulu, wah, wah, wah, bener-bener tragedi seumur-umur! Aku curiga, jangan-jangan... Ya, gadis itu pasti main pelet! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sampai hati betul perempuan itu menyakiti hati sesama jenisnya, gerutu Agus. Lha wong para aktifis feminisme sudah berteriak-teriak lantang soal tindak kesewenang-wenangan kaum pria, perempuan satu itu justru merampas kebahagiaan kaumnya. Lantas, gadis begini diserahkan padaku? Maap-maap aja deh. Mending tetap jadi bujang lapuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar perempuan nggak beres, asal serobot suami orang aja, guman Agus.Tapi, aku ditampung keluarga Onoy. Di mana balas budiku? Waduh duh duh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus terus menikmati sisa-sisa es gosok dan otak-otaknya seraya pikirannya bingung memutuskan antara prinsip dan persahabatan. Sementara tak berapa lama suara mobil Onoy sudah kembali. Sebab, memang jarak antara warung itu dan mal tidak jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy dan pacar gelapnya menuju bangku Agus. Kebetulan arah duduk Agus membelakangi kedatangan mereka. Agus sengaja tidak berbalik. Ia kuatir terkena kemat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus,” panggil Onoy diiringi dengan menepuk pundak Agus. “Kenalkan ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus berbalik, mendongak. Anna rupanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jogja, desember 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;1) Aok, tunggu bai luk. Sabarla, Bang = Iya, tunggu saja dulu. Sabarlah, Bang&lt;br /&gt;2) Dak lame be. Denget agik kunyampai. Paling lambet due jam agik la. Soale sopir oto e tengah makan. Abang nek oleh-oleh kelapo sawit, dak? = Tidak lama dong. Bentar (sedenget = sebentar) lagi aku sampai. Paling lambat dua jam lagi deh. Soalnya sopir mobilnya tengah makan. Abang mau oleh-oleh kelapa sawit, tidak?  &lt;br /&gt;3) Dayang = gadis&lt;br /&gt;4) Sembile = kapan&lt;br /&gt;5) Biniku = istriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat oleh harian Bangka Pos, 2002, dan di situs cybersastra, 2002]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komentar-komentar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kuswinarto, “Catatan Untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono”, Galeri Esai situs Cybersastra.net, 5 Januari 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus seorang yang berusaha mendudukan sesuatu/soal secara proporsional. Misalnya dalam “Tali yang Rapuh”, dia bisa memahami kalau seorang sales promotion girl (SPG) itu ramah-ramah, tidak memandang negatif keramahtamahan itu, karena sikap SPG seperti itu memang tuntutan profesi. Ini proporsional meskipun itu ternyata disalahgunakan oleh si SPG sendiri. Ada semangat kuat pada Agus untuk “memperbaiki” ketidakbaikan, meluruskan yang bengkok, menata apa yang tidak lagi tertata. Agus punya gambaran bagaimana kehidupan yang ideal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus juga berusaha mengangkat "Bangka" dalam cerpennya. Ini tampak sekilas pada cerpen “Tali yang Rapuh”. Tetapi itu masih sebatas kulitnya. Dan mungkin itu dilakukan Agus memang sekadar memberi warna lokal pada cerpennya, tidak seperti cerpen-cerpen Gus tf Sakai, misalnya, yang begitu kental “roh” kedaerahannya. Mungkin akan bagus jika Agus mencoba mengangkat “ruh” Bangka, daerah tempat cerpenis itu lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Yusuf Priyasudiarja, via email 25 April 2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen "Tali Yang Rapuh" memang lebih banyak dipenuhi dengan dialog panjang yang secara lihai dituturkan oleh si penulis, si perancang "Kota terhilang". Kata-katanya mengalir dengan diksi yang natural. Agustinus berhasil menata dan merangkai baris-baris kata dengan lancar ibarat air bening yang terus mengalir, bergemericik menuju sebuah telaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita mulai menarik ketika memasuki masalah yang sebenarnya; bagaimana seorang lelaki dengan mudah "pindah ke lain hati" tanpa berpikir panjang, bagaimana lelaki dengan mudah menikmati percintaan liar di luar nikah dan mengkhianati sucinya kesetiaan keluarga lantas dengan gampang menawarkan aborsi, sebuah bentuk pembunuhan yang tak kalah kejinya dibandingkan perang yang mengaduk-aduk Ambon, Timor, dan wilayah lain di Indonesia; lantas bagaimana si lelaki dengan gampang menawarkan "barang bekas" itu pada lelaki lain untuk memyembunyikan aib dan dosanya sendiri sekaligus melemparkan "borok" itu ke orang lain, persis seperti para politisi kita pandai bermain-main dengan kata-kata. Di sini cerita itu mulai menarik untuk diikuti, menarik pula untuk mengikuti perkembangan karakter si tokoh (walau belum secara transparan terlihat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini diakhiri dengan sebuah ending yang bagus; bertemunya kembali si tokoh utama dengan perempuan yang pernah dia kagumi yang ternyata adalah korban egoisme sahabatnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini tidak menawarkan jawaban A atau B atau C terhadap persoalan yang di hadapi si tokoh. Pembaca dibiarkan mencari jawabannya sendiri. Pembaca seperti diajak untuk turut meneruskan cerita ini sesuai dengan pengembaran imajinasi si pembaca. Justru karena tiadanya akhir cerita yang jelas, cerpen ini menjadi menarik seperti novelnya Ayu Utami "Saman". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192952958882886?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192952958882886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192952958882886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192952958882886' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192922877398627</id><published>2003-08-26T13:20:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:20:28.790-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;ORANG KAYA BARU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda udik bernama Oji adalah pemimpi yang mengkhayalkan hidup sebagai kenyataan yang menyenangkan. Namun dia berhasil menghidupkannya setelah dia dinyatakan memenangkan salah satu undian dalam pengumpulan bungkus-bungkus permen. Dia mendapat hadiah berupa jalan-jalan gratis selama tiga hari di pulau wisata. Tiket pesawat, penginapan dan uang saku sudah dikirimkan panitia. Lunas tanpa sisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha ha ha ha…ternyata menjadi orang kaya itu sangatlah menyenangkan. Pantas saja orang-orang berambisi merenggut kekayaan, mempertahankannya. Kecuali orang-orang munafik, yang menolak kekayaan namun meminta-minta sumbangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kegirangan Oji sewaktu tiba di gerbang Hotel Bunga Bakung pada hari menjelang siang. Ternyata menjadi miskin dan tersuruk di gubuk lapuk itu hanya melesakkan sesak di dada legamnya. Dia sangat bosan, setiap hari terpojok dalam ejekan-ejekan berita serta kata-kata tetangga tentang indahnya kekayaan dan kemewahan itu. Kemiskinan telah membuat dunia Oji semakin sempit, semakin terjepit rasa minder dan iri melihat kegemilangan sekitarnya. Kemiskinan yang telah memuakkan Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tinggal kemiskinan. Sekaranglah masa-masa awal menjadi orang kaya, meski ini baru tahap perkenalan suasana, batin Oji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taksi berhenti di depan pintu ruang masuk yang berkanopi. Segera seorang penerima tamu membantunya menurunkan barang bawaan Oji. Kemudian Oji masuk hotel melalui ruang lobby berlantai mengkilap tersebut. Penyambut tamu tadi menunjukkan arah menuju ruang informasi dan resepsionis. Tanya ini-itu, pesan kamar berdasarkan bukti dari panitia, dan dia mendapat sebuah kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian seorang roomboy menyambut Oji. Itu pun karena terpaksa, sekaligus berharap tamu udik satu ini masih memiliki jiwa boros. Sebab menurutnya, pemborosan lebih mudah merasuki orang-orang udik yang merasa sok kaya atau orang kaya baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong angkat yang ini ya,” pinta Oji dengan lagak orang kaya yang sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roomboy mengantarkan dan membantu mengangkut barang-barang Oji. Mereka menuju lift. Oji bingung, apalagi merasakan sebuah kotak bisa naik ke atas seperti film-film yang sering ditontonnya. Tapi dia pura-pura biasa, agar gengsinya tidak ambruk. Berhubung Oji belum sekali pun masuk-keluar hotel, panduan dari roomboy itu sangat berarti baginya. Dihapalkannya setiap jemari roomboy menekan tombol lift itu, agar dia tidak malu sendiri jika kebingungan di dalam hotel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, hebat betul hotel ini, puji Oji dalam hati. Hotelnya mewah, pegawainya ramah, pelayanannya bagus. Mudah-mudahan selalu dipenuhi penginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati Oji terkagum-kagum sewaktu mereka melewati ruang demi ruang, kamar demi kamar. Suasananya mewah dan nyaman, tidak seperti di kampung Oji. Udaranya dingin, baunya wangi, lampu-lampu ruangannya tidak menyilaukan, bersih, beberapa hiasan dinding dan hiasan pojok ruangnya sangat indah. Kecuali lukisan kacau-balau. Maklum, dia baru pertama kali sungguh-sungguh masuk sebuah hotel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini dia hanya melihat suasana hotel di televisi atau film-film. Selama ini dia hanya hidup di seputar kebun sahang, pasar ikan, sungai bekas galian penambangan darat, gubuk reyotnya dan kampung sunyinya. Mungkin di antara seluruh penduduk kampungnya bahkan diantara sejarah hidup seluruh keturunan kakek-neneknya, dia merasa baru dirinyalah yang pertama kali berhasil menerobos masuk hotel sampai mencicipi perjalanan awal menuju kemewahan seutuhnya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini, Pak, kamarnya,” kata si roomboy setelah sampai di kamar pesanan Oji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, iya, terima kasih,” Oji gugup sebentar. Segera Oji menenangkan diri, jangan sampai keudikannya tertangkap basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roomboy juga yang membuka pintu kamar itu, membantu memasukkan barang-barang. Lalu ketika roomboy itu keluar, Oji langsung menutup pintu kamarnya sambil mengucapkan terima kasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roomboy tadi tetap berdiri di dekat pintu kamar Oji sambil berpikir, “Mudah-mudahan tamu udik satu ini sedang membuka dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar lima puluhan ribu dan akan memberikannya padaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tip atau bonus dari penginap merupakan istilah yang biasa bertebaran di kalangan roomboy. Setiap ada tamu, para roomboy segera menanti tugas dengan segudang impian menerima tip besar. Kalau berharap kesejahteraan dari gaji murni, mustahil sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking terbiasanya istilah tip dan alasan gaji minim dalam pergunjingan sesama roomboy, dalam diri roomboy satu ini menjelma jadi pemburu tip. Pemburu tip, atau sebenarnya pengemis dalam bangunan mewah atau pelaku pungutan liar tingkat atas. Dia tahu tingkat keborosan penginap berdasarkan etnis atau asal negaranya. Tamu satu ini, si Oji, adalah salah satu bagian dari judinya, yaitu untung-rugi kalau melayani Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar-sebentar dilihatnya jam tangannya. Tetapi tidak ada tanda-tanda tamunya ini bakal keluar dan memberikan ‘bonus’. Roomboy masih berusaha sabar. Baginya kesabaran selalu berguna. Ada rejeki yang tak terduga. Dan benar, dugaannya sia-sia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar udik, pelit!” gerutunya setelah berkesimpulan bahwa Oji tidak memberi sepeser pun tip.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan si penghuni kamar itu sedang benar-benar tidak tahu-menahu tentang tradisi memberi tip apapun. Sekali mengurusi administrasi dan urusan biaya menginap yang sudah ditanggung panitia undian, cukuplah itu. Soal bayar ini-itu, dia tidak tahu. Apalagi soal tetek bengek tip atau upah antar-angkat tadi. Oji hanya tahu bahwa roomboy tadi sangat ramah, bertanggung jawab pada tugasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Oji menyapu suasana kamar itu. Nampak ada dua tempat tidur. Disentuhnya. Empuk. “Sayang kalau satu sisa kasur tidak terpakai. Kelak tidur bergantian tempat tidur ah,” ujar Oji pada kesunyian kamar itu. Wajahnya tampak begitu riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditaruhnya barang-barang bawaannya di sebelah tempat tidur. Terus, Oji membuka jaketnya, sepatu, dan pakaiannya. Tinggal singlet dan celana pendek saja yang dipakainya. Dia merasa sisa-sisa keringat yang membasahi punggungnya tidak nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji naik ke tempat tidur. Perasaannya senang. Sejenak dia berbaring, menikmati empuknya kedua kasur hotel. Kemudian dia melompat ke tempat tidur sebelahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah empuknya kasur hotel ini. Dua tempat tidur untukku sendiri. Alangkah nikmat, mewah hidup ini, pikir Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berbaring lagak orang-orang kaya, dia membuka televisi dengan remot. Televisi menayangkan beberapa acara, karena tersambung langsung dengan antena parabola. Soal teknologi televisi dan parabola, bagi Oji bukan barang baru. Meski udik, kampung Oji tidak asing lagi dengan barang-barang elektronik masa kini, terlebih waktu musim panen sahang besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menggenjot-genjot kasur empuk, Oji menuju kamar mandi. Mula-mula dia mengagumi tempat cuci tangan (wastafel) yang berkaca cermin besar. Oji kagum. Oji ingin memilikinya. Lalu pandangannya beralih ke pojok wastafel, tersedia sabun mandi, shampoo, odol, parfum, handuk, pembungkus rambut dan sandal kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada godaan untuk mandi. Lantas dia melirik ke ruang sebelahnya. Pelapis dinding kamar mandi itu mengingatkan dia pada beberapa rumah orang kaya di kampungnya. Dinding luar rumah-rumah itu dilapisi keramik seperti kamar mandi hotel ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hihihii..kamar mandi terbesar ada di kampung kami, guman Oji sambil tersenyum. Dasar orang udik, tidak bisa memilih bahan bangunan yang cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji melangkah masuk. Ada bak mandi berendam (bathtube) dan ruang mandi hujan (shower). Oji mencoba menghidupkannya. Lalu, serrrrr…air mengucur dari shower dan bathtube. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha! Mandi, mandi, mandi…, tawa riang Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tombol-tombol tertentu, berwarna merah dan biru. Oji penasaran. Dicobanya setiap tombol, dan…air pun berubah kondisinya. Bisa panas, bisa dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, asyiknya komplit nih, nggak perlu nunggu dijerang dulu, batin Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu pula selera mandinya bangkit. Maka mandilah dia sepuas-puasnya, dari mandi hujan hingga berendam. Nyaris satu jam dia menikmati kamar mandi hotel yang, baginya, begitu mewah. Berendam pun sambil membaca kayak film-film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok pagi aku akan mencoba berenang di kolam renang hotel ini. Tentu lebih aduhai daripada di sungai pemandian kampung kami, pikirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang disuguhkan di pojok wastafel tadi dipakai Oji. Selanjutnya dia keluar. Sambil masih berbelit handuk, Oji menuju jendela. Dibukanya lebar-lebar gordin jendela. Terpampanglah panorama kota yang sangat megah. Gedung-gedung menjulang, gagah. Kendaraan lalu lalang, kapal terbang pun naik-turun terus. Sungguh-sungguh kota hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboi, indah nian kota besar ini, teriak batin Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji teringat kawannya yang suka mencaci maki globalisasi kapitalisme, namun begitu pelit mengeluarkan duit hingga tidak bisa menikmati indahnya kapitalisme. Kawannya itu selalu mengejek kemewahan dan menuding kemewahan duniawi sebagai jerat yang berbahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih terang dan waktu masih panjang. Perutnya terasa sedang unjuk diri, minta diisi. Segera dia mengeluarkan pakaian barunya. Sepatu sandal barunya pun disiapkan. Usai berpakaian rapi, Oji keluar dari kamarnya, menuju ke ruang makan hotel. Tapi dia harus bertanya sana-sini dulu, karena dia tidak tahu arti kata “the dining room”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana Oji disambut oleh beberapa waitress cantik. Oji memilih duduk di pinggiran diantara kumpulan meja itu. Piring-piring telah siap. Ada lilin, batangan tusuk gigi, dan rempah-rempah tambahan seperti bubuk sahang, garam, saos. Di atas piring ada hiasan berbentuk topi melayu, menjulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini daftar menunya, Pak,” kata seorang . “Silakan Bapak pilih pesanan Bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji bingung. Makanannya serba asing, susah nyebutnya. Tidak ada lempah darat. Tidak ada sayur nanas. Tidak ada ikan ciew. Dia membalik daftar menu itu, terlihat menu Indonesia. Yang paling dikenalnya adalah gado-gado. Segera waitress muda nan cantik tadi menuliskan apa yang disebutkan oleh Oji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama pesanan Oji datang, dibawa oleh dua orang. Salah seorang membawa makanan tersebut, lainnya menaruh di meja Oji. Yang menaruh makanan tadi pun menyerahkan bon yang harus dibayar Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini pesanan Bapak, dan ini bonnya. Selamat menikmati sajian restoran ini, Pak,” katanya ramah dengan senyum manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih,” sahut Oji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamak, seru batin Oji. Hanya sepiring gado-gado dan segelas es soda, harganya mahal sekali. Kalau di kampungku, paling-paling harga sekitar seperempatnya saja. Waduh, ini restoran atau rumah lintah darat sih. Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji pura-pura tidak canggung. Disiapkannya piringnya, peralatan makan dan bumbu-bumbu tambahan tadi. Tak lupa Oji minum dulu, agar kecanggungan segera tertelan. Glek. Satu teguk, seperti orang kaya di film-film itu. Lantas, ‘hiasan’ di atas piring yang berbentuk topi melayu itu disingkirkannya ke samping piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang waitress mendekati mejanya, mengambil ‘hiasan’ meja berbentuk topi melayu tadi. Dibukanya setiap lipatan, lalu diletakkannya di pangkuan Oji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, ya, Pak,” kata perempuan muda itu seraya tersenyum manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata lembaran kain itu adalah pelindung baju terhadap tumpahan atau cipratan makanan. Betapa malunya Oji, hingga dia merasa ruang makan mewah itu tidak ubahnya sebuah akuarium raksasa atau panggung penelanjangan yang memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Oji berusaha tenang, dan mulai mencicipi gado-gado bikinan hotel. Dia terkejut, karena rasa gado-gado hotel berbeda dengan gado-gado yang sering dibelinya di kampungnya. Tidak sesuai standar lidahnya. Makanya dia tidak mau berlama-lama di ruang makan mewah tersebut. Disamping rasa gado-gado begitu aneh bagi lidah udiknya bahkan tiba-tiba perutnya terasa nek/penuh, juga karena Oji sudah mencicipi rasa malu tadi. Santapan belum habis, Oji langsung saja menuju kasir dan keluar ruang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dia keluar, rasanya semua mata orang di sana telah menempel di kuduknya. Untuk menenangkan diri, dia menuju ruang lobby. Dia ingat, masuk pertama tadi di ruang ini tersedia beberapa koran terbaru. Sembari matanya menyapu setiap bidang ruang, gerak-gerik jalannya dibuat gagah. Kesan acuh tak acuh sengaja diperankannya seperti film-film yang pernah ditontonnya. Beberapa penginap yang berpapasan dengannya pun tidak digubrisnya, demi status barunya dan agar tidak ketahuan udiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga menjelang malam, waktu-waktu dihabiskan Oji di dalam hotel Bunga Bakung itu. Dia sengaja merekam setiap sudut secara rinci, supaya kelak bisa dia kisahkan ulang dengan penuh kebanggaan tak terkira di hadapan kawan-kawannya di kampung. Setelah itu, kembali dia berlama-lama dalam kamar mandi, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikmati malam di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji membuka paket wisata pertama di kota ini. Wisata malam, yaitu menikmati pemandangan malam kota melalui menara tertinggi di kota itu, kemudian di diskotik pantai pinggir kota. Tiket menonton pertunjukan malam dan tanda bebas menikmati minuman pun tersedia dalam satu paket. Paket berikutnya, besok, mungkin ke museum, bangunan bersejarah, pantai, dan lain-lain. Namun dia belum tahu di mana letaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas dia membeli peta kota di kios kecil milik hotel. Ternyata tempat wisata itu memang tidak jauh dari tempatnya menginap. Segera dipersiapkannya barang bawaan seperti kamera, walkman, dan uang saku. Barang-barang itu tentu saja dibawanya, karena juga demi keamanan. Dia pernah menonton film tentang pencurian di dalam kamar hotel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam baru menjelang, Oji keluar keluar hotel untuk menikmati malam di kota itu. Oji memilih berjalan kaki saja, sebab di peta tertera jarak yang tidak jauh. Dia memang terbiasa jalan kaki, kali ini sekaligus menikmati suasana malam kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transportasi kota berseliweran. Daerah komersial menampilkan panorama warna-warninya. Orang-orang hilir-mudik di daerah tersebut. Pakaian mereka modis-modis, mirip para bintang film. Mobil-mobil mewah lalu lalang secara teratur mirip suasana kota metropolitan di luar negeri. Nampaknya malam belum juga sampai di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji menikmati sekali. Matanya terbinar-binar. Panorama dan nuansa yang tak akan pernah ada di kampungnya. Tak henti-hentinya Oji kagum, terkesima, terpesona. Seketika dia lupa kampung halamannya. Dia lupa bahwa dia berasal dari udik, lupa berada di kota besar ini hanya untuk tiga hari, lupa akan kembali ke udik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk ketika dia melintasi taman kota. Dalam lampu temaram, keindahan malam tercetak jelas. Orang-orang memanfaatkan taman kota tersebut seperti halnya sebuah tempat hiburan. Beberapa kumpulan terdiri atas laki-laki dan perempuan, nampaknya remaja, bercanda di sana. Juga beberapa kelompok lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang ujung taman itu, Oji berpapasan dengan beberapa pemuda. Dengan gaya laksana orang kaya, Oji melangkah gagah. Tanpa disadarinya, sontak beberapa pemuda tadi menghadangnya. Clurit dan belati berkilauan. Dua orang maju, segera mencekal tangan Oji. Dari arah belakang Oji, dua orang pemuda lainnya menodongkan senjata. Oji tak kuasa berteriak karena clurit sudah siap singgah di kulit lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji terkejut, antara sadar dan tidak. Pikirannya hilang seketika. Bandit-bandit tengik itu segera menelanjangi Oji habis-habisan. Seluruh tiket perjalanan atau masuk tempat wisata serta uang saku dari panitia amblas, dan juga uang titipan para tetangga yang minta dibelikan oleh-oleh. Karena Oji membawa semuanya itu dan menaruhnya di saku celana, tas pinggang dan jaket barunya. Seluruh benda-benda serta pakaiannya barunya disikat tanpa sisa, kecuali celana panjangnya yang sudah basah kuyub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal Oji terduduk lemas setelah para bandit itu pergi. Tatapannya kosong, tak habis mengerti dengan apa yang nyata dialaminya. Mimpikah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;jogja, september 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 23 Desember 2001 , dan situs cybersastra.net, 5 Oktober 2002]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Kuswinarto, “Catatan Untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono” Galeri Esai situs Cybersastra.net, 5 Januari 2003:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penggambaran perilaku tokoh, cerpen “Orang Kaya Baru” berhasil memotret orang udik yang mabuk kemewahan. Sayangnya, keberhasilan itu kurang mendukung daya pukau cerpen. Keberhasilan penggambaran tokoh Oji dalam “Orang Kaya Baru” hanya menciptakan kesan heboh. Dan kalau isinya demikian itu, terasa sekali judul “Orang Kaya Baru” itu kurang cocok untuk cerpen itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192922877398627?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192922877398627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192922877398627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192922877398627' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192903978485351</id><published>2003-08-26T13:17:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:19:36.563-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;MEMBAKAR BULAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulatan bulan perlahan memudar dalam sapuan awan pukul satu setengah malam. Jalanan lengang dengan satu atau dua orang saja yang melintas. Penduduk pinggiran kota ini sedang bersiap-siap berlayar menuju lautan mimpi. Tak ketinggalan paduan suara kodok dari sepanjang parit dan bentangan beberapa petak sawah diantara bangunan-bangunan baru untuk pondokan mahasiswa pendatang atau usaha perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam beranjak lewat bersama sepinya kegiatan kaki lima. Tinggal satu-dua pedagang kaki lima bersama anak buah mereka. Itu pun mereka sudah berkemas-kemas hendak pulang setelah mengisi malam bersama kebutuhan mulut orang. Gerobak panjang berisi perkakas makan dan perkakas masakan, terlihat menanti di pinggir jalan untuk siap diantar pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelak yang tanding, siapa, Jo?” tanya Ngadino sembari menggulung tali tenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AS Roma lawan Inter Milan,” jawab Paijo yang asik menikmati rokok filternya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, seru nih!” timpal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O, jelas! Kedua kesebelasan calon kuat scudetto tahun ini,” kata Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celotehan mereka tak sanggup menerjang sepi yang memang sudah seperti malam-malam lampau. Kaki lima-kaki lima lainnya sudah bubar sekitar jam sebelas malam tadi. Ada tenda yang tersisa, dibiarkan mengangkangi trotoar. Atau sekadar kerangka-kerangka kaki lima yang berdiri tegar di situ sampai tenda digelar kembali esok senja. Juga meja-meja kayu, cukup dirantai dan dikunci gembok kecil, berada di pinggir trotoar dekat selokan atau terselip di pagar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga tidak terlalu peduli soal limbah dari kegiatan bisnis mereka malam itu. Sampah-sampah berupa plastik, kulit jeruk, sayur busuk, tulang ikan-ayam, nasi bekas dimakan pembeli dan lain-lain, tampak berceceran di atas trotoar dan di parit kecil yang airnya selalu mengalir menuju sawah-sawah yang tersisa. Padahal besok, apabila mentari terik memanasi alam di situ, bau limbah itu segera merebak di sekitarnya. Belum lagi jika melihat kondisi parit yang kotor dan penuh lumut berbentuk aneh, menambah kesan jorok, kumuh. Padahal sepanjang jalan itu merupakan salah satu kawasan kampus, termasuk keberadaan beberapa kampus universitas swasta yang cukup terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, lekas, kita pulang,” kata Ngadino. “Jangan kelamaan kayak orang nunggu Krisdayanti turun dari langit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ya,” sambut yang lain sambil beramai-ramai mendorong gerobak panjang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum beberapa langkah, cahaya merah menerpa wajah mereka. Tampak lidah api membesar, membuyarkan kekelaman malam bisu itu. Mereka menyaksikan kayu-kayu dan meja-meja sebuah warung kaki lima terbakar. Apinya melanda ke mana-mana. Untung saja memang sudah sepi sekali. Kecuali, beberapa orang pemuda tampak sedang berdiri di sekitar tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para kaki lima berhenti sebentar. Mereka menonton peristiwa itu sambil berjaga-jaga atas gerobak mereka. Tapi setelah melihat siapa-siapa yang melakukan pembakaran tersebut, dengan santai mereka mendorong gerobak mereka lagi. Sementara dari arah selatan nampak sebuah sepeda motor melaju. Dua orang berboncengan. Keduanya tercengang sesaat, lantas perlahan menormalkan perasaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, paling-paling kompornya meledak,” ujar seorang yang lewat, kepada kawannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya lewat saja sambil menghidupkan prasangka liar. Lalu menuju ke sebuah warung bubur kacang hijau yang beroperasi 24 jam non-stop. Di warung itu keduanya menebarkan prasangka tadi. Tak pelak beberapa orang di dalam warung berhamburan keluar, hendak melihat api yang masih terus melambai-lambai di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api memang masih melambai-lambai, menjulang hingga tiga meter. Beberapa pemuda tadi terlihat santai. Tidak ada yang panik. Semua seperti pemandangan biasa. Tidak ada yang berusaha menolong memadamkan api. Atau, barangkali merupakan potret kehidupan individualis yang mulai merambah daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasain lu!” guman Didin. “Udah diperingatin, masih aja nekat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang udah diperingatin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, iyalah. Kira-kira dua bulan lalu warung kaki lima itu pernah dibakar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dibakar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kira-kira jam segini juga. Kukira tadinya cuma frustasi gara-gara jualannya nggak laku-laku. Ternyata dibakar orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo nggak salah, gara-gara jualan minuman keras dan makanan haram.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didin segera kembali ke warungnya. Ia tidak tertarik berlama-lama menyaksikan kebakaran yang memunculkan aneka penafsiran itu. Begitu juga yang lainnya, segera masuk kembali ke warung bubur kacang hijau. Menikmati sajian bubur kacang hijau hangat beserta obrolan-obrolan yang juga sedang hangat, rasanya lebih menyenangkan tatkala dingin malam menyengat syaraf-syaraf tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali Oji. Kebetulan mahasiswa perantauan yang suka begadang ini sudah selesai makan dan membayar. Dia berjalan santai menuju lokasi pembakaran. Oji lebih tertarik untuk menemukan kebenaran suatu peristiwa daripada membiarkan tafsiran-tafsiran liar berhamburan. Cocoknya dia kelak bekerja sebagai anggota tim pencari fakta, bukan sebagai komentator yang makan dari hasil prasangka dan ramal-meramal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan naluri ingin tahunya, Oji bertanya ke salah seorang di sekitar api itu, “Ada apa, kok terbakar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bakar, Mas. Pasalnya, mereka menjual makanan dan minuman haram,” sahut seorang pemuda setempat yang ikut aksi pembakaran tersebut. “Kami sudah memperingatkan mereka, tapi mereka nggak menggubris peringatan kami. Dulu pernah kami bakar. Eee, mereka dirikan lagi usaha sejenis. Ya kami bakar lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daripada hanya debat kusir, bakar aja beres,” sambung yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo mereka berani macem-macem,” celetuk seseorang yang membawa pedang terhunus, “kusikat pakai pedang ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah-wajah mereka memancarkan angkara yang tidak kenal belas kasihan apapun sepanjang aksi. Aksi itu mereka sebut sebagai gerakan moral. Tidak ada kompromi. Mereka bangga sekaligus garang dengan aksi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji tidak berkomentar. Dia menatap api yang meratap. Minuman dan makanan haram itu mengingatkan Oji pada kampung halamannya yang berpenduduk fanatik. Di sana beberapa pemudanya sering berpesta minuman keras dan mengisi dompet dengan hasil-hasil kriminalitas. Perjudian pun lestari dalam aneka variasi, termasuk judi buntut yang digemari sejak puluhan tahun. Ada juga keluarga yang hidup dari hasil mencuri. Oji prihatin. Sebatas prihatin, tidak lebih. Sebab, toh mereka menikmati dan turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang ada di depannya kali ini sungguh berbeda. Orang-orang muda ini tampak tidak kompromi. Mereka melakukannya dengan semacam gerakan moral yang diejawantahkan melalui aksi pembakaran. Selain itu, dulu, pernah pula gerakan serupa, diejawantahkan melalui aksi perampasan barang-barang yang dianggap ‘haram’ dan dibumbui aksi kekerasan. Apa saja yang mereka cap ‘haram’, segera akan menjadi berita ancaman serius bagi orang lain. Paling tidak, sebuah mimpi buruk sebagai peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji langsung teringat sesuatu. Tidak ada seratus meter dari tempat tersebut, tepatnya seberang jalan agak ke utara sampai sekitar tiga meter, di situ terdapat rumah kontrakan yang beralih fungsi menjadi rumah bordil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala malam hari Oji menikmati batagor di sebuah warung kaki lima dekat situ, dari dalam warung itu ia seringkali melihat mobil patroli polisi singgah sejenak di rumah bordil itu. Pedagang batagor pernah bilang, setiap sekitar jam delapan malam mobil patroli polisi datang ke situ. Cuma sebentar, lalu segera pergi. Ternyata mengambil jatah keamanan sebesar lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu rupiah per malam dan tiap satu unit rumah bordil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji bingung. Antara jual-beli miras dan jual-beli zinah, apakah ada perbedaan kategori haramnya? Kenapa ada perlakuan yang berbeda terhadap keberadaan tempatnya?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda-pemuda yang membakar warung itu pasti tahu, bahwa sang mucikari rumah mesum itu setiap malam patuh membayar upeti kepada aparat keamanan bersenjata yang juga setiap malam berpatroli seraya menarik pungutan liar di tempat-tempat sejenis. Bisnis esek-esek yang sudah bertahan lebih dari sepuluh tahun di rumah kontrakan itu berhadapan langsung dengan sebuah bangunan ibadah di seberangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan jual-beli perzinahan di situ?” tanya Oji sembari menunjuk sebuah rumah kontrakan di seberang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang itu menoleh ke arah telunjuk Oji. Tidak ada jawaban. Tidak ada komentar. Tidak ada tanggapan yang meluap-luap seperti ketika mereka bersemangat menghakimi warung kaki lima tadi. Mereka tiba-tiba beranjak pergi begitu saja setelah api mulai surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji heran. Angin malam perlahan-lahan merengkuh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di langit sana bulan telah hangus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;babarsarijogja, april 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 12 Mei 2002, kemudian di situs cybersastra.net, 5 juni 2002, lantas diperbaiki setelah dikomentari/baca hasil perbaikan setelah komentar dua pakar di bawah ini]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komentar-komentar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sang guru sastra Denmas Marto (email tanggal 14 September 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema yang kausodorkan dalam "MB" menarik: kemunafikan. Sayang, intronya lamban, dan tidak nyambung dengan keseluruhan cerita. Kau berpanjang lebar (hampir 1/3 bagian sendiri!) menggambarkan suasana warung kaki lima yang sedang kukut, namun bagian berikutnya menceritakan pembakaran warung miras dan makanan haram, dikontraskan dengan sikap bungkam menghadapi rumah bordil yang dilindungi aparat kepolisian. Semacam inilah gejala yang disebut misled. Di depan mengiming-imingkan A, e ternyata yang disajikan B. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, omong-omong, penutupnya bagus sekali: Di langit sana bulan telah hangus. Usulku, buang saja deh bagian sebelum bintang tiga (***), lalu buat pembukaan baru yang lebih menghentak dan langsung ke sasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam MB tidak ada karakter yang bulat. Sosok-sosok yang muncul sekadar lewat untuk menyuarakan komentarnya (atau komentarmu?) atas keadaan yang sekelilingnya. Tapi, siapa sebenarnya si Oji ini? Umur berapa? Kenapa ia bersikap demikian? Bagaimana sebenarnya kegundahan hatinya sendiri? Hidup toh bukan hanya terdiri atas komentar-komentar, ‘kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pakar sastra Kuswinarto Yaqin Saja (esai CATATAN UNTUK SEPULUH CERPEN AGUSTINUS WAHYONO yang dimuat di cybersastra.net, 5 januari 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul “Membakar Bulan” (dimuat di Cybersastra, 5 Juni 2002) menarik. Merupakan sebuah metafor. Membaca judul itu saya menebak, saya akan diberi sajian sebuah cerpen yang berisi perenungan, bahkan dalam menyelam. Tetapi rupanya tidak. Cerpen ini mempersoalkan bisnis haram: minuman keras (miras) dan prostitusi. Sekelompok anak muda membakar warung miras. Pembakaran dilakukan setelah beberapa kali diperingatkan, warung itu ternyata bandel. Cerpen ini mempersoalkan, kenapa miras diberantas, sedangkan prostitusi tidak (justru dilindungi dan malah dijadikan “ladang” mencari uang polisi)? Ini menjadi konflik batin pada tokoh Oji: “Antara jual-beli miras dan jual-beli zinah, apakah ada perbedaan kategori haramnya? Kenapa ada perlakuan yang berbeda terhadap keberadaan tempatnya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya “Membakar Bulan” karena pengarang berhasil menimbulkan ketegangan (suspense) sehingga pembaca tak bosan mengikutinya. Juga ada kenikmatan tersendiri pada pembaca karena mengetahui “siapa” pembakar warung miras itu, justru karena “siapa” itu tidak ekplisit dijelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setidaknya, cerpen ini punya dua kelemahan. Celotehan pedagang kaki lima di awal cerpen kurang menarik. Resolusi yang diberikan pengarangnya juga tidak tepat. Dengan sudut pandang pengisahan (point of view) orang ketiga, jelas sekali narator “memihak” tokoh Oji, mahasiswa yang kebetulan di TKP saat aksi pembakaran. Oji sinis dengan pembakaran itu dan ia cenderung berpendapat: sebaiknya biar saja warung itu tetap jualan miras, seperti rumah bordil tetap menjual zinah. Permisif. Padahal, orang yang tidak melakukan maksiat, tetapi membiarkan kemaksiatan itu, juga berdosa. Yang tepat saya kira, jual-beli zinah itu diberantas juga seperti miras, hanya saja tidak perlu dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen yang sudah matang untuk Antologi Cerpen “Kota Terhilang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MEMBAKAR BULAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulatan bulan perlahan memudar dalam sapuan awan pukul satu setengah malam. Oji tengah lahap menikmati sajian mi instan Indomie di warung Didin. Sementara jalan memanjang di depan warung hingga ujung tampak hanya satu atau dua orang yang melintas. Lengang. Penduduk pinggiran kota ini sedang bersiap-siap berlayar menuju lautan mimpi. Tak ketinggalan paduan suara kodok dari sepanjang parit dan bentangan beberapa petak sawah diantara bangunan-bangunan baru untuk pondokan mahasiswa pendatang atau usaha perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam beranjak lewat bersama sepinya kegiatan kaki lima. Tinggal satu-dua pedagang kaki lima bersama anak buah mereka. Itu pun mereka sudah berkemas-kemas hendak pulang setelah mengisi malam bersama kebutuhan mulut orang. Gerobak panjang berisi perkakas makan dan perkakas masakan, terlihat menanti di pinggir jalan untuk siap diantar pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelak yang tanding, siapa, Jo?” tanya Ngadino sembari menggulung tali tenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AS Roma lawan Inter Milan,” jawab Paijo yang asik menikmati rokok filternya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, seru nih!” timpal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O, jelas! Kedua kesebelasan calon kuat scudetto tahun ini,” kata Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celotehan mereka tak sanggup menerjang sepi yang memang sudah seperti malam-malam lampau. Kaki lima-kaki lima lainnya sudah bubar sekitar jam sebelas malam tadi. Ada tenda yang tersisa, dibiarkan mengangkangi trotoar. Atau sekadar kerangka-kerangka kaki lima yang berdiri tegar di situ sampai tenda digelar kembali esok senja. Juga meja-meja kayu, cukup dirantai dan dikunci gembok kecil, berada di pinggir trotoar dekat selokan atau terselip di pagar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga tidak terlalu peduli soal limbah dari kegiatan bisnis mereka malam itu. Sampah-sampah berupa plastik, kulit jeruk, sayur busuk, tulang ikan-ayam, nasi bekas dimakan pembeli dan lain-lain, tampak berceceran di atas trotoar dan di parit kecil yang airnya selalu mengalir menuju sawah-sawah yang tersisa. Padahal besok, apabila mentari terik memanasi alam di situ, bau limbah itu segera merebak di sekitarnya. Belum lagi jika melihat kondisi parit yang kotor dan penuh lumut berbentuk aneh, menambah kesan jorok, kumuh. Padahal sepanjang jalan itu merupakan salah satu kawasan kampus, termasuk keberadaan beberapa kampus universitas swasta yang cukup terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, lekas, kita pulang,” kata Ngadino. “Jangan kelamaan kayak orang nunggu Krisdayanti turun dari langit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ya,” sambut yang lain sambil beramai-ramai mendorong gerobak panjang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum beberapa langkah, cahaya merah menerpa wajah mereka. Tampak lidah api membesar, membuyarkan kekelaman malam bisu itu. Mereka menyaksikan kayu-kayu dan meja-meja sebuah warung kaki lima terbakar. Apinya melanda ke mana-mana. Untung saja memang sudah sepi sekali. Kecuali, beberapa orang pemuda tampak sedang berdiri di sekitar tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para kaki lima berhenti sebentar. Mereka menonton peristiwa itu sambil berjaga-jaga atas gerobak mereka. Tapi setelah melihat siapa-siapa yang melakukan pembakaran tersebut, dengan santai mereka mendorong gerobak mereka lagi. Sementara dari arah selatan nampak sebuah sepeda motor melaju. Dua orang berboncengan. Keduanya tercengang sesaat, lantas perlahan menormalkan perasaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, paling-paling kompornya meledak,” ujar seorang yang lewat, kepada kawannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya lewat saja sambil menghidupkan prasangka liar. Lalu menuju ke sebuah warung bubur kacang hijau yang beroperasi 24 jam non-stop. Di warung itu keduanya menebarkan prasangka tadi. Tak pelak beberapa orang di dalam warung berhamburan keluar, hendak melihat api yang masih terus melambai-lambai di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api memang masih melambai-lambai, menjulang hingga tiga meter. Beberapa pemuda tadi terlihat santai. Tidak ada yang panik. Semua seperti pemandangan biasa. Tidak ada yang berusaha menolong memadamkan api. Atau, barangkali merupakan potret kehidupan individualis yang mulai merambah daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasain lu!” guman Didin. “Udah diperingatin, masih aja nekat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang udah diperingatin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, iyalah. Kira-kira dua bulan lalu warung kaki lima itu pernah dibakar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dibakar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kira-kira jam segini juga. Kukira tadinya cuma frustasi gara-gara jualannya nggak laku-laku. Ternyata dibakar orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo nggak salah, gara-gara jualan minuman keras dan makanan haram.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didin segera kembali ke warungnya. Ia tidak tertarik berlama-lama menyaksikan kebakaran yang memunculkan aneka penafsiran itu. Begitu juga yang lainnya, segera masuk kembali ke warung bubur kacang hijau. Menikmati sajian bubur kacang hijau hangat beserta obrolan-obrolan yang juga sedang hangat, rasanya lebih menyenangkan tatkala dingin malam menyengat syaraf-syaraf tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali Oji. Kebetulan mahasiswa perantauan yang suka begadang ini sudah selesai makan mi instannya, dan membayar. Ia berjalan santai menuju lokasi pembakaran. Oji lebih tertarik untuk menemukan kebenaran suatu peristiwa daripada membiarkan tafsiran-tafsiran liar berhamburan. Cocoknya kelak ia bekerja sebagai anggota tim pencari fakta, bukan sebagai komentator yang makan dari hasil prasangka dan ramal-meramal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan naluri ingin tahunya, Oji bertanya ke salah seorang di sekitar api itu, “Ada apa, kok terbakar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bakar, Mas. Pasalnya, mereka menjual makanan dan minuman haram,” sahut seorang pemuda setempat yang ikut aksi pembakaran tersebut. “Kami sudah memperingatkan mereka, tapi mereka nggak menggubris peringatan kami. Dulu pernah kami bakar. Eee, mereka dirikan lagi usaha sejenis. Ya kami bakar lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daripada hanya debat kusir, bakar aja beres,” sambung yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo mereka berani macem-macem,” celetuk seseorang yang membawa pedang terhunus, “kusikat pakai pedang ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah-wajah mereka memancarkan angkara yang tidak kenal belas kasihan apapun sepanjang aksi. Aksi itu mereka sebut sebagai gerakan moral. Tidak ada kompromi. Mereka bangga sekaligus garang dengan aksi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji tidak berkomentar. Ia menatap api yang meratap. Minuman dan makanan haram itu mengingatkan Oji pada kampung halamannya yang berpenduduk fanatik. Di sana beberapa pemudanya sering berpesta minuman keras dan mengisi dompet dengan hasil-hasil kriminalitas. Perjudian pun lestari dalam aneka variasi, termasuk judi buntut yang digemari sejak puluhan tahun. Ada juga keluarga yang hidup dari hasil mencuri. Oji prihatin. Sebatas prihatin, tidak lebih. Sebab, toh mereka menikmati dan turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang ada di depannya kali ini sungguh berbeda. Orang-orang muda ini tampak tidak kompromi. Mereka melakukannya dengan semacam gerakan moral yang diejawantahkan melalui aksi pembakaran. Selain itu, dulu, pernah pula gerakan serupa, diejawantahkan melalui aksi perampasan barang-barang yang dianggap ‘haram’ dan dibumbui aksi kekerasan. Apa saja yang mereka cap ‘haram’, segera akan menjadi berita ancaman serius bagi orang lain. Paling tidak, sebuah mimpi buruk sebagai peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji langsung teringat sesuatu. Tidak ada seratus meter dari tempat tersebut, tepatnya seberang jalan agak ke utara sampai sekitar tiga meter, di situ terdapat rumah kontrakan yang beralih fungsi menjadi rumah bordil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala malam hari Oji menikmati batagor di sebuah warung kaki lima dekat situ, dari dalam warung itu ia seringkali melihat mobil patroli polisi singgah sejenak di rumah bordil itu. Pedagang batagor pernah bilang, setiap sekitar jam delapan malam mobil patroli polisi datang ke situ. Cuma sebentar, lalu segera pergi. Ternyata mengambil jatah keamanan sebesar lima puluh ribu rupiah. Lima puluh ribu rupiah per malam dan tiap satu unit rumah bordil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji bingung. Antara jual-beli miras dan jual-beli zinah, apakah ada perbedaan kategori haramnya? Kenapa ada perlakuan yang berbeda terhadap keberadaan tempatnya?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda-pemuda yang membakar warung itu pasti tahu, bahwa sang mucikari rumah mesum itu setiap malam patuh membayar upeti kepada aparat keamanan bersenjata yang juga setiap malam berpatroli seraya menarik pungutan liar di tempat-tempat sejenis. Bisnis esek-esek yang sudah bertahan lebih dari sepuluh tahun di rumah kontrakan itu berhadapan langsung dengan sebuah bangunan ibadah di seberangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan jual-beli perzinahan di situ?” tanya Oji sembari menunjuk sebuah rumah kontrakan di seberang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang itu menoleh ke arah telunjuk Oji. Tidak ada jawaban. Tidak ada komentar. Tidak ada tanggapan yang meluap-luap seperti ketika mereka bersemangat menghakimi warung kaki lima tadi. Mereka tiba-tiba beranjak pergi begitu saja setelah api mulai surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oji heran. Angin malam perlahan-lahan merengkuh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di langit sana bulan telah hangus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;babarsarijogja, april 2002 &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192903978485351?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192903978485351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192903978485351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192903978485351' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192889367284710</id><published>2003-08-26T13:14:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:16:09.953-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;SAYAP-SAYAP SENYAP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan seorang gadis seringkali membuatku kagum sekaligus bingung. Aku kagum pada kecantikannya, melebihi kekagumanku pada alam semesta alami bahkan alam buatan seniman dunia mana pun. Tapi aku bingung, bagaimana Tuhan merancang, menyusun bagian-bagiannya, mengukir, menjelmakan dan memoles kecantikannya menjadi sedemikian jelita. Sebuah adikarya yang tiada banding-tiada tanding!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan seorang gadis Manado bernama Angelina alias Angel atau Enjel, yang belum bertahun-tahun kukenal itu pun melengkapi kekagumanku sekaligus kebingunganku. Dia memang cantik jelita. Kulitnya cerah, yang bila berjalan bagai mentari berkelana di jalanan pelosok bumi. Alisnya hanya seluas sisa gerhana bulan. Sinar matanya selalu menjinakkan keresahan atau kemarahan setiap orang yang bertatapan langsung dengannya. Bibir indahnya tersapu merah muda tanpa polesan buatan manusia, bahkan lebih mewah daripada hadiah-hadiah raja. Hidungnya yang ramping dengan lekukan yang anggun, ramah, segera menyapa terlebih dulu pada siapa saja. Pipinya halus melebihi sutera termahal, membuat siapapun tidak tega menyentuhnya. Dagunya cembung mulus, menggantungkan pesona melelapkan. Rambutnya lurus lentur bak sutera hitam alami yang indah menjalari punggungnya. Jemarinya lentik namun gerakannya tak pernah genit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan juga selalu membingungkan aku menggambarkan ataupun menjabarkannya. Aku pasti akan kewalahan menguraikannya menjadi untaian kata mutiara dalam waktu sekejap. Barangkali saja aku hanya bicara tanpa makna akibat mabuk kepayang tak terbilang laksana orang limbung dalam buaian bius alkohol atau napza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, nada suaranya pun merdu. Bening, sebening kata cinta yang kerap kali menggerayangi telingaku. Dia selalu menjaganya dari aksara nista atau perilaku unggas yang mengocehi apa saja. Gerakan langkahnya begitu tenang, setenang samudera luas yang menyenangkan para nelayan. Suara ketukan langkahnya seakan mengatakan bahwa jangan tergesa-gesa atau juga jangan berlambat-lambat menjemput setiap harapan yang telah direnda di atas peraduan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu memang cantik jelita bahkan setara dengan ratu-ratu kecantikan dunia. Bukan aku saja yang tiba-tiba menjadi semacam pecandu manekin hidup di depannya. Kawan-kawanku pun terperangah, terpesona, tersihir lalu tergila-gila untuk memuja kecantikan gadis itu. Setiap dia melewati kumpulan orang, setiap pasang mata akan memandangnya seolah hendak menempelkannya di pelupuk mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenalnya tanpa pernah aku mengerti, seperti ketika Adam tak pernah sanggup membuat rencana pertemuannya dengan Hawa atau juga merekayasa sosok cantiknya. Tiba-tiba dia ada, lengkap dengan keindahan dari puncak ciptaan Tuhan itu. Dia ada ketika impian-impian maha indah tak sanggup meraihnya. Tempat pertemuan itu pun kurasa sudah sama dengan Taman Firdaus. Tapi selain kepada Angel, aku tidak ingin mengalihkan selera jiwaku kepada kegemerlap alam sekitarku, agar hantu-hantu busuk tidak terbahak-bahak di siang hari laksana lelucon konyol pada tragedi buah khuldi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angel atau Enjel; sebuah nama yang tidak sembarangan. Bermakna: malaikat. Tidak sedikit orang yang memberi nama anaknya dengan nama-nama yang hebat begitu, misalnya Gabriel dan Mikhael yang merupakan nama malaikat Tuhan. Bedanya, Gabriel dan Mikhael dipandang sebagai nama maskulin, hanya pantas untuk kaum laki-laki. Sedangkan Angel untuk perempuan. Barangkali begitu. Mungkin orang hendak menyebut dirinya setaraf bidadari, lantaran namanya bersatu dengan kecantikannya. Tetapi arti sejati bidadari tidak pernah diajarkan oleh orang tuaku dan guru agamaku. Yang jelas bukan “angel” dalam bahasa Jawa yang artinya “susah”, sebab kehadiran si Enjel senantiasa memberi masukan bahwa setiap kesusahan tidaklah melebihi kesanggupanku bertahan, dan selanjutnya harus kuubah menjadi kesenangan atas hidup yang sudah susah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan dengannya adalah anugerah luarbiasa dalam hidupku. Juga kala kami berbicara. Setiap bersapaan dengannya, jiwaku sontak riang tak terkekang. Tapi seketika lidahku lumpuh, mulutku beku. Keterpukauan menghisap perbendaharaan kata-kataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Curahkanlah keindahan Bunakenmu ke kolong-kolong hatiku yang dahulu melarat akibat dikuras manusia lantas ditinggal pergi begitu saja seraya memamerkan segala kepongahan mereka. Gantikan kemuraman air kolong hatiku dengan biru syahdu Bunakenmu itu. Sertakan pula terumbu karangmu yang maha indah itu untuk mengisi kolong-kolong hatiku yang kemarin cuma dipenuhi oleh rongsokan besi-besi karat kapal keruk, agar dapat menjadikannya indah,” gemuruh gelombang batinku tanpa ada getar di sekujur lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah rindangnya pohon rindu kami sering bersua. Dia berada di hadapanku dengan pesona tak terkata. Senyumnya tidak pernah terkikis oleh bengisnya krisis kehidupan yang silih berganti menyambanginya. Kecerahan air mukanya laksana matahari abadi yang terus bercahaya menghabisi kekelaman malam sekalipun. Kecemasan tak pernah terselip di sudut matanya. Irama tubuhnya tetap mengalun tenang. Dirinya tak beda dengan jelmaan berita-berita gembira yang selalu baru setiap hari yang bersegera menggiling-giling berita ketakutan yang disebarkan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senantiasa menyukai dan merindukan perjumpaan dengannya. Aku merasa segala kegelisahan, kepenatan, kebingungan, kekalutan atau kebosananku pada kenyataan hidup ini sekejap lenyap seperti asap diterjang senyum ranumnya. Semburan nafasnya yang berirama teratur sepoi-sepoi mendinginkan kepenatan hari-hariku setelah dilanda penatnya tugas harian. Kesejukannya menghembuskan debu-debu kejengkelanku pada ketidakadilan atau kesewenang-wenangan hidup. Kibasan udara kala dia bergerak seolah memberiku kesempatan untuk dapat menambah sejengkal asa terhadap kilatan-kilatan waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dirinya dan mendengar suaranya, sudah cukup mengenyangkan perutku selama ribuan purnama. Tidak seperti ketika aku sedang menikmati santapan di meja makan dengan diiringi bentakan kasar bapak-bapak terhadap anak-anaknya yang melakukan kesalahan, gerutuan ibu-ibu akibat gempuran harga barang, bisik-bisik para ibu yang iri hati, dan umpatan atau hujatan orang-orang muda terhadap apa saja yang menjengkelkannya. Tidak seperti ketika aku makan di rumah makan mewah dengan diiringi tawa kekenyangan para perampok duit negara, tawa kemenangan para penjahat kelas kakap, canda ria perselingkuhan orang-orang berkeluarga, senda gurau orang kaya di atas tulang-tulang iga fakir miskin, atau juga bisik-bisik persengkongkolan kalangan atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dirinya dan mendengar suaranya, sudah lebih dari segala keindahan alam raya semesta, segala kemewahan dan kemegahan dunia hiburan, meski sekian tingkat lebih rendah dibanding Surga. Ya, lebih indah dan mewah daripada istana kerajaan para penjahat berdasi-berkrah putih. Ya, lebih indah dan mewah daripada istana kerajaan para pengusaha maksiat, judi dan minuman keras. Ya, lebih indah dan mewah daripada istana orang kaya yang terbangun di atas kerangka rakyat jelata. Bahkan lebih megah daripada sebuah bangunan ibadah yang dibangun oleh semangat keangkuhan, dari hasil kejahatan, dan berisi orang-orang bertubuh bersih tapi berhati busuk bestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayang-bayang pepohonan mengusap-usap kemulusan kulit telanjang lengannya tatkala aku hanya bisa mematung di depan Angel. Segaris senyumnya sudah menggelorakan sukacita dalam jiwaku. Ada kemilau asa menanti di gerbangnya. Selalu begitu sewaktu bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Kakak tidak bersuara sedikitpun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak lihai menarikan kata,” sahutku sembari terus memandang keajaiban alam aduhai di depanku ini. Keindahan itu telah mengikat erat lidahku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak terlalu berlebihan,” ujarnya, karena beberapa kali dia memergoki keluguanku mengaguminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak memang sedang mabuk kelebihan-kelebihanmu, Angel, bisik hatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya berani membisikku hatiku sendiri. Aku malu bila lidah dan mulutku meluncurkan kata-kata itu. Kendati aku memandangnya tanpa kacamata birahi, aku tetap malu jika dia tahu diriku salah satu pemujanya, karena dia pasti akan menegurku bahwa memuja manusia adalah perbuatan menduakan Tuhan. Dia tidak sudi dijadikan berhala baru sebagaimana pemujaan terhadap benda-benda lainnya merupakan perbuatan syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecantikan seorang ratu,” tutur Angel sembari anggun menatap kekagumanku padanya, “seringkali lebih dipuja daripada sang ratu itu sendiri. Sehingga sewaktu kecantikan itu berangsur redup, maka sang ratu tak ubahnya sebuah batu yang teronggok dalam legenda kemegahan candi bersama reruntuhan tahtanya. Laksana bolam lampu yang kita puja sinarnya, lantas kemudian kita campakkan ketika sinarnya meredup bahkan mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Aku hanya bisa memandangi geliat bibir ranumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecantikan akan digusur umur. Semakin bertambah umur, kecantikan ragawi semakin luntur dan akan gugur pada musimnya. Kecantikan akan ditenggelamkan alam, diterkam kekelaman makam. Ia menjadi santapan sedap bagi kerakusan kuburan. Kecantikan akan ditinggalkan oleh kefanaan dan hanya menjadi kemuliaan masa silam yang membelenggu perjalanan akal sehat menuju masa depan tak berujung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amboi, perkataannya membuat diriku bertambah tenggelam dalam kekagumanku. Kerendahan hatinya terungkap lewat rangkaian kalimat yang kuanggap dahsyat itu. Dia tidak nampak merendah, apalagi merendah untuk meninggikan harga diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak sedang memuja kecantikannya sendiri, melainkan membeberkan hakekat kecantikannya. Aku semakin kagum padanya. Berbeda dengan banyak gadis yang sangat bernafsu mengumbar kecantikan mereka, bernafsu menjual kecantikan diri, gila-gilaan menjadikan diri sendiri sebagai ketelanjangan alam yang sepantasnya menjadi hadiah sah abadi bagi sang suami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak memancing decak kagum siapapun pada dirinya. Berbeda dengan gadis-gadis yang berteriak-teriak kelaparan pujian dengan perut bagai papan untuk dinding rumah pengemis tua, muka bagai badut taman ria, busana bagai orang-orang kalah perang, lenggak-lenggok bagai bebek di jalanan becek serta desah suara senada pelacur menor di gang-gang kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dan berhadapan dengan Angel, diriku mirip seorang yang sedang tersihir oleh sebuah adikarya seorang mahaseniman. Pertemuan itu pun tak ubahnya sebuah pameran termegah yang pernah ada di dunia ini. Tak bosan-bosannya aku menikmati pertemuan itu, dan selalu ketagihan untuk bertemu besok sampai selamanya bersama. Aku betul-betul terpukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga, aku jatuh cinta pada Angel! Cinta? Cinta yang pernah mati? Aku menyadari itu ketika suatu hari aku merasa bagai rajawali berenang senang menikmati keindahan langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu yang selanjutnya memberiku sepasang sayap di punggung manusia jiwaku. Sayap-sayap cinta yang menerbangkan diriku menuju keindahan samudera angkasa yang berbiru-ungu dan memandang bumi bagaikan sebuah surga tak terduga. Sayap-sayap cinta yang membuatku melayang-layang, serasa hendak menaklukkan kegetiran hidupku yang sebelumnya terasa begitu menakutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sayap cinta itu, terasa dunia hanyalah bola kristal maha indah. Dengan sayap cinta, terasa ruang-ruang bumi hanya kotak-kotak semu tak berpagar. Dengan sayap cinta, selama berjumpa dengannya aku merasa penerbanganku berhasil menembus tembok-tembok kebimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma sayap. Tapi ada pula candu. Sayap yang melayangkan aku pada impian tak berujung, sekaligus candu yang membuatku dungu dan membutakan mata jiwaku. Aku hanya melihat pada keindahan, melihat pada khayalan-khayalan, melihat fatamorgana, melihat panorama maya yang kuciptakan sendiri. Cinta itu telah memutuskan kendali-kendali tali jiwaku, selanjutnya menggiringku pada jalan-jalan berbatu tajam yang tidak kuhiraukan apakah itu menuju kehendakku ataukah justru menjerumuskan aku pada padang tandus yang sarat keliaran-keliaran, kelaparan dan kebrutalan jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surya tak selamanya melangkahi semedi bumi. Bulan tak selamanya mengangkangi tapa angkasa raya. Tiada pesta yang beracara sepanjang hidup. Aku tak kuasa mengingkari kenyataan. Sang bidadari pun punya azasi atas dirinya sendiri. Ya, beberapa hari berikutnya aku tidak menjumpai Angel di bilik cinta yang mewadahi jalinan kisah kami. Barangkali Angel mampu menangkap kecenderungan jiwaku terhadap dirinya dan pertemuan dengannya. Mungkin karena dia memang peka. Atau, karena aku terlalu polos membinar-binarkan mataku sewaktu bertatapan dengannya akibat ketagihan-ketagihanku pada candu cinta. Mungkin Angel telah melihat diriku melayang-layang di angkasa raya dengan sayap-sayap cintaku. Memang sejak cinta membelengguku, aku berubah jadi dungu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari beranjak ke beberapa minggu. Beberapa minggu menjadi hitungan bulan. Dan akhirnya aku menjadi bulan-bulanan kegelisahan. Aku kehilangan dirinya, bahkan aku merasa kehilangan hidupku sendiri. Kedahsyatan cinta telah menjejalkan jibunan merana dalam jiwa sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kucari dirinya. Melalui kawan-kawannya, kutanyakan dirinya. Di rumahnya, kucari dirinya. Termasuk dalam lamunanku sewaktu duduk di tempat kami pertama jumpa. Serta dalam mimpiku pun selalu kucari dirinya, kutanyakan pada orang-orang yang bermain-main di taman bunga tidurku. Kucari dan terus kucari. Jiwa sunyi memanggil tanpa bunyi. Lantas kukenakan kembali sayap-sayap cintaku. Aku melambung ke langit-langit. Lapis per lapis langit kuperiksa, adakah Angel bersemayam di sana ataukah sekadar pantulan keberadaannya di bumi yang telah menelannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jua kutemukan, sampai suatu waktu kudapati cintaku tak lagi menghidangkan kebahagiaan melainkan kekuatiran-kekuatiran baru dalam wujud purbasangka. Sakitkah dia? Tapi tidak satupun kawannya memberi sebaris kabar. Sibukkah dia? Tapi pastilah sekelebat dapat kuendus hembusan keringat harumnya. Berlibur ke luar negerikah? Tapi pastilah dia memberitahuku. Lalu, apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong pertanyaan miris menyerbu keheningan jiwaku. Jangan-jangan… Percikan api cemburu mulai menghasut hatiku dan merambat membakar kaki jiwaku sehingga lambat laun langkahku terasa panas, nyeri dan perih. Jangan-jangan…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hati nuraniku berdiri tegap langsung menegurku. “Cinta itu tidak cemburu. Kecemburuan adalah iri hati yang menyatu dengan sisa-sisa keserakahanmu yang sangat menginginkan seutuhnya-sepenuhnya sesuai keinginan jiwamu yang egois, tetapi kamu tidak mendapatkannya seperti yang kamu inginkan. Jangan racuni cinta dengan cemburu,” begitu teguran kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sepakat. Maka serta-merta segera kututup rapat-rapat bahkan bila perlu kupatri mulut jiwa kiriku yang bertubi-tubi menghembuskan kecemburuan tadi. Tak ada gunanya pula kubiarkan cemburu merayu-rayuku lantas membelenggu akal sehatku. Tidak pantas aku cemburu. Toh Angel bukan siapa-siapa. Angel adalah manusia merdeka, jauh melebihi burung merpati yang tidak terkurung dalam sangkar emas bikinan kekanak-kanakan manusia. Tuhan bebas mendaratkan diri Angel pada dahan mana pun atau di sangkar siapa pun, sebagaimana Tuhan yang berwenang menempatkan Hawa pada Adam tanpa perlu persetujuan Hawa atau perundingan dengan Adam. Namun selalu saja kehendak egoku berusaha membuat kerangkeng untuk mengurung Angel dan memaklumkan kepada dunia bahwa dia adalah milikku dan aku sajalah pemilik satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa purnama bergantian menunggui kesendirian malam-malamku. Mereka mengajakku melayang ke awan-awan untuk menikmati gemerlap kota-kota maya surgawi dengan sayap-sayap cintaku. Tapi beberapa kali ini terpaksa kutolak ajakan mereka karena aku merasa tak lagi punya daya untuk melambungkan khayalanku bersama mereka di samudera angkasa nan biru. Dengan mata mereka yang melotot begitu, kuyakin purnama mengerti suasana lengang dalam jiwaku. Tentulah purnama-purnama itu tahu bahwa aku sedang kehilangan sesuatu yang beberapa hari lalu menari-nari di atas permadani hatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celoteh burung prenjak mengajak fajar bangkit dari kemalu-maluannya. Itu pun urutan fajar kesekian puluh. Kalender usang menyisakan robekan demi robekan yang berdebu. Saat itu secarik kertas menggigil di meja kerjaku. Mungkin pembantuku yang meletakkannya di situ sewaktu aku tengah terkapar dalam nyenyak yang panjang semalam. Secarik kertas telah merontokkan tulang-tulangku, melenyapkan sayap-sayap cintaku, mirip “al-ajniha-al mutakassirah” yang pernah dialami oleh “sang Nabi” dari Beshari. Cintaku ambruk laksana daun runtuh di musim gugur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ulang tahunku telah terlewati tanpa kuperoleh surat lamaran dari Kakak yang sejak semula kuharapkan sebagai hadiah terindah bagiku, justru kedatangan pria lain beserta lamarannya di hadapan orang tuaku yang telah rindu menimang cucu dan mengira bahwa Kakak sebatas sahabat sekaligus pengagum karya-karya seni dunia umumnya. Aku pernah berjanji bahwa aku akan taat pada Tuhan sebagaimana aku mengasihi-Nya. Aku tidak berhak memilih-milih menjadi tulang rusuk siapa, tetapi Tuhanlah yang berhak menempatkan aku pada rusuk pria yang datang melamarku. Siapapun pria itu, aku akan mencintainya sebagaimana aku mencintai Penciptanya, meski dia bukan Kakak yang dulu pernah kupilih. Mungkin dia memang yang terbaik bagiku, dan pasti Kakak diberi-Nya seseorang yang terbaik pula. Dariku, Angel.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sempat menjerit pada langit sana untuk meminta keputusan ulang atau menentang apa yang telah digariskan-Nya. Juga tidak sempat mengumpat pada pria yang sewenang-wenang merampas bunga cintaku. Sebab sekonyong-konyong hati nuraniku muncul lalu menampar kesadaranku seraya menasihatiku bahwa jodoh bukanlah akibat kesalahan siapa-siapa dan memang bukan suatu kesalahan sebagaimana Tuhan tidak pernah salah atau tidak sedikit pun keliru ketika menetapkan jodoh masing-masing orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup kudengar alunan irama kulintang dan ketukan-ketukan langkahnya yang mantap meninggalkan kenanganku padanya, “Jangan tergesa-gesa atau juga jangan berlambat-lambat menjemput setiap harapan yang telah direnda di atas peraduan.” Bukankah isyarat itu selalu bergema pada setiap perjumpaan kami di waktu lalu? Seharusnya aku menyadari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogjakarta, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat di cybersastra.net, 23 September 2002]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Kuswinarto, “Catatan Untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono”, Galeri Esai situs Cybersastra.net, 5 Januari 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen “Sayap-sayap Senyap” menampakkan sebuah upaya sungguh-sungguh dalam mengeksplorasi bahasa. Nuansa-nuansa makna dan panorama bahasa hadir dalam cerpen ini. Tapi Agus masih suka kedodoran. Itu karena “nafsu” mengritik sosial. Di samping itu, konsistensi “suasana” tidak terjaga. Mungkin cerpen ini tidak diselesaikan dalam “sekali bikin”, tetapi selesai dalam beberapa kali pengerjaan. Suasana hati yang melingkupi pengarangnya tampaknya berbeda-beda. Mungkin Agus akan berhasil menggarap cerpen-cerpen seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, harus diusahakan agar eksplorasi bahasa itu tidak hanya menghasilkan deskripsi-deskripsi yang karena begitu melimpah sehingga malah bikin pembacanya bosan. Mengapa? Karena tidak bertenaga. Bahwa kecantikan tokoh Angel itu sangat mengagumkan, ya jangan tokoh “aku” saja yang bisa terkagum-kagum. Buatlah pembaca juga terkagum-kagum. Telling tidak hanya beda dengan showing, tetapi showing lebih susah daripada telling. Seorang pengarang jangan hanya telling, tetapi usahakanlah showing itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penggambaran perilaku tokoh, cerpen “Sayap-sayap Senyap” berhasil memotret pemuda yang mabuk kecantikan. Sayangnya, keberhasilan itu kurang mendukung daya pukau cerpen. Dalam “Sayap-sayap Senyap” penggambaran itu terlalu hiperbolis, bahkan bombastis. Secara psikologis, gambaran tokoh Angel yang begitu berlebih memang wajar jika itu dilakukan oleh seorang “aku” yang memang mabuk kepayang. Sayangnya, deskripsi tokoh Angel itu malah membosankan, di samping cara penggambarannya cenderung klise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******* &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192889367284710?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192889367284710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192889367284710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192889367284710' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192864836048467</id><published>2003-08-26T13:10:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:12:10.793-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;POKOKNYA…TRAGIS!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda menyeruak dari pekatnya kelambu kelam, melintasi jalanan remang-remang menuju warna-warni pelangi pertokoan. Matanya nyalang. Bibirnya tersungging senyuman. Gerakan tubuhnya begitu riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa dia?” tanyamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pasti terkejut atas kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Tak ada tanda-tanda atau aba-aba dari suara-suara atau pantulan cahaya pada tubuhnya. Sekonyong-konyong dia nongol. Tampangnya pun berbeda dengan gelandangan yang malas mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luckyson,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luckyson?” tanyamu. Mungkin telingamu menangkap kata “lukisan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Luckyson, si putera malam, asuhan rembulan,” sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luckyson memang putera malam. Ayahnya adalah iblis bernama Lucifer, dan ibunya adalah Fullmoon. Ia selalu berkeliaran tatkala senja telah menyingkir. Ia suka mengembara diantara belantara beton kota hanya ketika sang induk malam telah bertahta di atas menara-menara kota. Ia membenci matahari. Ia membenci fajar sampai senja. Ia tidak pernah mau hidup normal dengan berkegiatan selagi terang alam benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya ia telah dihasut ayahnya, si putera fajar yang terbuang,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar sekali. Lucifer alias putera fajar memang bapa para penghasut. Ia congkak. Kecongkakannya telah mengenyahkan dirinya sendiri dari pergaulan. Ia pemberontak,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luckyson mewarisi jiwa pemberontak dan penghasut itu. Ia suka menghabiskan malam dengan aneka kegiatan. Ia akan mengajak kawan-kawannya dalam kegiatannya. Mereka senantiasa tampak bergairah membedah malam. Bisa dengan bersastra, berseni, belajar atau begadang. Tapi ketika jiwanya meradang, sebilah belati senantiasa terselip di pinggangnya. Belati adalah sahabat karibnya. Luckyson seperti ayahnya: bermuka dua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kian menganga. Kabut gulita kian merata. Sosok gemulai merobek selaput kelam. Wajahnya cerah, gerakannya riang. Malam telah menyenangkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa pula gadis itu?” tanyamu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo… gadis itu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, gadis itu. Siapa dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya?” aku bertanya balik sembari memandang gadis yang sedang kegirangan menyalami malam itu. Dia lincah sekali. Memukau siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, namanya. Siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama gadis itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Serius nih!” kamu sudah tidak sabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kamu memang belum berubah. Selalu tidak sabar jika melihat seorang gadis manis melenggak-lenggok percaya diri. Terlebih… penampilannya. Dandanannya yang menggebukan. Busananya yang melelapkan. Sorot matanya yang melenakan. Bibirnya yang menggemaskan. Tubuhnya yang menghanyutkan. Aroma tubuhnya… langsung membiuskan! Pantas saja bikin kamu tidak sabar untuk mengetahui namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu kamu serius,” kataku begitu, sengaja untuk mempermainkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, siapa n-a-m-a-nya?” tanyamu seraya mengeja huruf disertai matamu melotot. Menurutku, air mukamu itu justru lucu. Lucu untuk usia kita yang bandot ini. Bisa kubayangkan mimik mukamu jadi mirip Hitler yang sadis dengan kumis cuma di tengah. Kamu ingat Asmuni dan Gogon Srimulat itu, kan? Mirip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebegitu pentingkah namanya bagimu?” aku sengaja lagi bertanya seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebegitu bahayakah, sampai-sampai kamu ingin menyembunyikan namanya?” kamu berbalik tanya. Sepertinya kamu merasa aku terlalu mencurigaimu, padahal aku sengaja hendak membuatmu ngambek kayak keponakanku merengek minta es bon-bon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak ada bahaya apa-apa kalo kusembunyikan namanya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah, siapa nama gadis itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, aku beri tahu. Toh tidak ada faedahnya juga bila kusimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya Lucyson,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok mirip Luckyson?” tanyamu seraya melirik kembali ke arah Luckyson, sang putera malam yang saat itu tengah asik bermain gitar diselingi menenggak air tuak dalam botol. Di sana juga tampak alat suntik tergeletak. Mungkin obat-obat laknat lainnya pun ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena mereka memang saudara kembar,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo…,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssssssst, lihat,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucyson melangkah gemulai. Mau ke manakah? Entahlah. Dibiarkannya angin malam menggeraikan rambut panjangnya. Pakaiannya sangat ketat melekat di tubuhnya. Tas kulit mungil menggelayuti pundak telanjangnya. Isi tasnya hanya perkakas kosmetika dan sebotol air putih. Ia menjaga kesegarannya dengan sering minum air putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis malam itu melangkah mantap. Dia terbiasa dengan dunia malam. Tapi, kuberi tahu, malam ini Lucyson cukup berbedak tipis. Tidak menor. Sungguh! Tidak kayak solekan pelacur kampungan yang cuma lulusan sekolah menengah pertama atau menengah umum. Artinya, dia punya kelas tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah aduhainya dia!” sorakmu tertahan. Bola matamu mencuat seakan hendak keluar dari sarangnya. Jakunmu bergerak laksana lift di gedung jangkung sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal malam-malam kemarin penampilannya tidak begini lho. Pernah juga satu kali dia berdandan super menor, sengaja meniru gaya genit kawan-kawannya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lucunya air mukamu. Aku hampir pula tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ingat, Lucyson ini juga mewarisi jiwa iblis. Pemberontak! Kelihatan sekilas dia selayaknya perempuan kebanyakan: lemah lembut, patuh, santun, rajin dan lain-lain. Sekilas begitu. Sekali lagi, sekilas. Buktinya, dia membiarkan tubuhnya berlumuran peluh laki-laki. Setiap malam tubuhnya menjadi bulan-bulanan berahi. Setiap malam dia berkelana memunguti zinah di mana pun dia suka. Atau cuma pamer ukiran auratnya. Dia paling mudah terlena oleh puji-pujian. Dia haus popularitas, dahaga pujian dan silau pada sanjungan orang-orang. Dia ingin sekali tersohor seperti ibunya, sang rembulan. Ingat itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nyaris terbahak-bahak melihat penampilanmu sore ini. Hari-hari kemarin kamu tampak parlente sekali. Pakaian rapi, penampilan trendi dan air muka selalu memancarkan kesegaran. Kali ini, di perpustakaan kota tempat kita biasa berdiskusi pada waktu-waktu senggang, kelihatannya ada yang berubah pada dirimu. Handphone-mu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku dirampok habis-habisan oleh begundal kembar itu tadi malam!” katamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga! Kapan dan di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya… tragis!” sahutmu singkat. “Tragis pokoknya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kamu belum mau mengaku. Boleh aku tebak? Ehm. Mungkin kamu malu bahwa kamu sempat mereguk anggur zinah bersama gadis malam itu di sudut taman kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar begitu, ‘kan, bahwa saat itu kamu sempat berzinah dengan Lucyson? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, waktu itu kamu lengah lantaran mabuk syahwat. Mendadak kakak kembarnya keluar dari kegelapan taman. Sang putera malam itu menempelkan ujung belati di kulit lehermu. Kamu tidak berkutik. Uangmu langsung amblas, aksesoris keparlenteanmu ludes, bahkan kamu nyaris ditelanjangi oleh serigala-serigala malam, komplotan anak iblis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah demikian kisah kemalanganmu? Mengaku sajalah, Bung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kenapa kamu tak berani mengusutnya atau melaporkan kejadian itu kepada polisi? Kenapa kamu malah menyimpan perkara itu? Pasti kamu malu berterus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berani bertaruh: paling-paling karena alasan moral, bukan masalah tindak kekerasan, kriminalitas atau berapa harga barang yang tercerabut dari dirimu. Ya, masalah moralitasmu. Dalam moralitas itu kamu masukkan pula gengsi serta harga diri. Tentu saja hal ini berpengaruh sekali terhadap reputasimu. Reputasimu sebagai pejabat, berstatus sosial sangat mengkrital di lingkungan kota kita, disamping statusmu sebagai seorang kepala rumah tangga dengan tiga anak yang sudah remaja. Kamu juga kaya. Kamu bisa dapatkan apa saja dengan jabatan dan hartamu. Namun, ternyata harga dirimu lebih segala-galanya bagimu. Apalagi orang-orang mengenalmu sebagai manusia yang taat beribadah. Perselingkuhan jelas terkutuk sekali di mata masyarakat kita yang agamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, terserahlah. Hak asasimu. Hanya saja aku penasaran, bagaimana kamu bisa ketemu mereka, padahal aku sudah memberi tahu bahwa siapa dalam diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kamu bisa berjumpa dengan mereka?” kutanyakan saja begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, bagaimana bisa? Mustahil amat kamu mau sembarang tersesat di taman kota atau di sela-sela bangunan yang gelap-gulita sana. Aku tahu siapa kamu. Barangkali kamu diperas oleh si Luckyson ketika dia memergoki kamu sedang berbincang dengan adiknya. Barangkali kamu telah terjebak di sebuah hotel luar kota sebagaimana alur skenario licik yang disusun oleh kembar bersaudara itu. Atau… apa. Boleh aku tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya… tragis,” kamu ulangi jawabanmu. Hanya “pokoknya tragis”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendiamkan dulu setelah kamu mengulang kata “pokoknya… tragis”. Kamu masih bertahan menyimpan aib paling memalukan dalam sisa-sisa usia senjamu, berkaitan dengan kedua anak kembar iblis itu. Aku tidak tahu kenapa. Soal zinah dan naasmu tadi semata-mata terkaanku kok. Pasalnya, jawabanmu cenderung melahirkan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya… tragis!” tandasmu, menegaskan jawabanmu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh susahnya membujukmu! Tampaknya cuma manusia semacam Lucyson itu yang bisa merayumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah, aku pulang aja,” kataku sembari beranjak lantaran kamu tidak mau mengungkapkan kalimat ‘pokoknya tragis’. Aku jadi tak berhasrat lagi mengisahkan sepak-terjang saudara kembar malam keturunan iblis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;babarsariyogya, juni 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat di situs cybersastra.net, 11 Agustus 2002, dan kemudian – setelah diperbaiki – dimuat lagi di harian Sinar Harapan, 22 Februari 2003 atau baca hasil perbaikannya setelah komentar Kuswinarto di bawah ini]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Kuswinarto Yaqin Saja, “Catatan atas Sepuluh Cerpan Agustinus Wahyono”, Galeri Esai Cybersastra.net, 5 Januari 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen “Pokoknya...Tragis!” menarik, karena “ketepatan” Agus dalam memotret realita kehidupan itu. Si cerpenis tampak tahu betul “kehidupan malam”. Dan memang harus tahu betul jika temanya memang itu. Kalau tak tahu, mau tak mau, si cerpenis harus melakukan eksplorasi. Harus. Cerpen ini menarik juga karena berbeda dengan cerpen Agus yang lain dalam point of view, pakai gaya “aku-kamu”, meskipun gaya seperti itu bukan tidak ada sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen itu, karakter tokoh “Luckyson” dan “Lucyson” digarap dengan baik. Tokoh “kamu” juga cukup baik digarap karakternya. Namun berbeda dengan 3 tokoh itu adalah tokoh “Lucifer”, “Fullmoon”, dan tokoh “aku”. “Lucifer” dan “Fullmoon” wajar jika karakternya sebatas itu, karena mereka memang cuma pemeran figuran. Tetapi tokoh “aku” adalah sentral, karakternya tidak digarap. Sebagai tokoh yang serbatahu, tokoh “aku” malah tidak seberapa tahu dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen yang pakai nada gugat ini endingnya kurang menarik. Terkesan ringan. Entah mengapa bagi saya pribadi, bahasa cerpen ini terlalu cair dan kurang intens. Maksud saya, ada kecenderungan “berfoya-foya” dengan kata atau kalimat. Tapi ini mungkin bukan suatu kelemahan. Mungkin saja itu terasa begitu olehku, karena aku lebih menyukai “bahasa perenungan” daripada “bahasa aksi”. Mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen yang sudah matang untuk antologi “Kenapa Mereka Suka Menggodaku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;POKOKNYA… TRAGIS !&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda menyeruak dari pekatnya kelambu kelam, melintasi jalanan remang-remang menuju warna-warni pelangi pertokoan. Matanya nyalang. Bibirnya tersungging senyuman. Gerakan tubuhnya begitu ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa dia?” tanyamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pasti terkejut atas kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Tak ada tanda-tanda atau aba-aba dari suara-suara atau pantulan cahaya pada tubuhnya. Sekonyong-konyong dia nongol. Tampangnya pun berbeda dengan gelandangan yang malas mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luckyson.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luckyson?” Mungkin telingamu menangkap kata “lukisan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Luckyson, si putera malam, asuhan rembulan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luckyson memang putera malam. Ayahnya adalah iblis bernama Lucifer, dan ibunya adalah Fullmoon. Ia selalu berkeliaran tatkala senja telah menyingkir. Ia suka mengembara diantara belantara beton kota hanya ketika sang induk malam telah bertahta di atas menara-menara kota. Ia membenci matahari. Ia membenci fajar sampai senja. Ia tidak pernah mau hidup normal dengan berkegiatan selagi terang alam benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tampaknya ia telah dihasut ayahnya, sang putera fajar yang terbuang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar sekali. Lucifer alias putera fajar memang bapa para penghasut. Ia congkak. Kecongkakannya telah mengenyahkan dirinya sendiri dari pergaulan. Ia pemberontak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luckyson mewarisi jiwa pemberontak dan penghasut itu. Ia suka menghabiskan malam dengan aneka kegiatan. Ia akan mengajak kawan-kawannya dalam kegiatannya. Mereka senantiasa tampak bergairah membedah malam. Bisa dengan bersastra, berseni, belajar atau begadang. Tapi ketika jiwanya meradang, sebilah belati senantiasa terselip di pinggangnya. Belati adalah sahabat karibnya. Luckyson seperti ayahnya: bermuka dua! Kok bermuka dua? Ya tahu sendirilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam kian menganga. Kabut gulita kian merata. Sosok gemulai merobek selaput kelam. Wajahnya cerah, gerakannya riang. Mungkin malam telah serta selalu menyenangkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa pula gadis itu?” tanyamu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo… gadis itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, gadis itu. Siapa dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya?” aku bertanya balik sembari memandang gadis yang sedang kegirangan menyalami malam itu. Dia lincah sekali. Memukau siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, namanya. Siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama gadis itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Serius nih!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kamu memang belum berubah. Selalu tidak sabar jika melihat seorang gadis manis melenggak-lenggok percaya diri. Terlebih… penampilannya. Dandanannya yang menggebukan. Busananya yang melelapkan. Sorot matanya yang melenakan. Bibirnya yang menggemaskan. Bentuk tubuhnya yang menghanyutkan. Aroma tubuhnya… langsung membiuskan! Pantas saja bikin kamu tidak sabar untuk mengetahui namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu kamu serius.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, siapa n-a-m-a-nya?” tanyamu seraya mengeja huruf disertai matamu melotot. Menurutku, ekspresimu itu justru lucu. Lucu untuk usia kita yang bandot ini. Bisa kubayangkan mimik mukamu jadi mirip Hitler yang sadis dengan kumis cuma di tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebegitu pentingkah namanya bagimu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebegitu bahayakah, sampai-sampai kamu ingin menyembunyikan namanya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialan. Sepertinya kamu merasa aku terlalu mencurigaimu, padahal aku sengaja hendak membuatmu ngambek kayak keponakanku merengek minta es bon-bon. Bagiku sih jelas tidak ada bahaya apa-apa kalau kusebutkan atau pun  kusembunyikan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah, siapa nama gadis itu? Jangan suka mempermainkan aku begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, aku beri tahu. Toh tidak ada faedahnya juga bila kusimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya Lucyson.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok mirip Luckyson?” tanyamu seraya melirik kembali ke arah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luckyson, sang putera malam yang saat itu tengah asik bermain gitar diselingi menenggak air api dalam botol. Di sana juga tampak alat suntik tergeletak. Mungkin obat-obat laknat lainnya pun ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena mereka memang saudara kembar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssssssst, lihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucyson melangkah gemulai. Mau kemanakah? Entahlah. Dibiarkannya angin malam menggeraikan rambut panjangnya. Pakaiannya sangat ketat melekat di tubuhnya. Tas kulit mungil menggelayuti pundak telanjangnya. Isi tasnya hanya perkakas kosmetika dan sebotol air putih. Ia menjaga kesegarannya dengan sering minum air putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis malam itu melangkah mantap. Ia terbiasa dengan dunia malam. Tapi, kuberi tahu, malam ini Lucyson cukup berbedak tipis. Tidak menor. Sungguh! Tidak kayak solekan pelacur kampungan yang cuma lulusan sekolah menengah pertama atau menengah umum. Artinya, dia punya kelas tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah aduhainya dia!” pujimu dengan bola matamu mencuat seakan hendak keluar dari sarangnya. Jakunmu bergerak laksana lift di gedung jangkung sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal malam-malam kemarin penampilannya tidak begini. Pernah juga satu kali dia berdandan super menor, sengaja meniru gaya genit kawan-kawannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lucunya air mukamu. Aku hampir pula tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ingat, Lucyson ini juga mewarisi jiwa iblis. Pemberontak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelihatan sekilas dia selayaknya perempuan kebanyakan. Lemah lembut, santun, rajin dan lain-lain. Sekilas begitu. Sekali lagi, sekilas. Buktinya, dia membiarkan tubuhnya berlumuran peluh laki-laki. Setiap malam tubuhnya menjadi bulan-bulanan berahi. Setiap malam dia berkelana memunguti zinah di mana pun dia suka. Atau cuma pamer ukiran auratnya. Dia paling mudah terlena oleh puji-pujian. Dia haus popularitas, dahaga pujian dan silau pada sanjungan orang-orang. Dia ingin sekali tersohor seperti ibunya, sang rembulan. Ingat itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nyaris saja terbahak-bahak melihat penampilanmu sore ini. Hari-hari kemarin kamu tampak parlente sekali. Pakaian rapi, penampilan trendi dan air muka selalu memancarkan kesegaran. Handphone-mu juga biasanya menggelayut mesra pada leher berlemakmu. Kali ini, di perpustakaan kota tempat kita biasa berdiskusi pada waktu-waktu senggang, kelihatannya ada yang berubah pada dirimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku dirampok habis-habisan oleh begundal kembar itu tadi malam!” katamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga! Kapan? Di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya… tragis!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tragis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tragis pokoknya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kamu belum mau mengaku. Boleh aku tebak? Ehm. Aku akan mencoba menganalisa. Menurutku, kamu pasti malu atas sesuatu. Taruhlah kamu sempat berbincang atau nekat memeluknya, lalu adegan itu direkam, diafdruk, dan dicetak. Terus, fotonya mereka pakai untuk memerasmu. Itu analisa pertamaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa kedua, kamu terjebak suatu skenario mereka. Entah mungkin semalam kamu di kafe mana, makanan, minuman atau bahkan parfum atau asap rokok mereka telah membius akal sehatmu. Lalu kamu melakukan sedikit adegan mesra, dipotret mereka, dan seterusnya, dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa ketiga, celakanya, kamu sempat mereguk anggur zinah bersama gadis malam itu. Entah di sudut taman kota, di hotel, vila di luar kota atau malah di kantormu. Nah, waktu itu kamu lengah lantaran mabuk syahwat. Kamu tidak tahu ada kamera yang merekam adegan mesum itu. Mungkin kakaknya menggrebek perbuatan kalian, lantas menodongmu dengan ancaman psikologi massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, kalau kejadian itu di taman kota, kamu lengah, mendadak kakak kembarnya keluar dari kegelapan taman. Sang putera malam itu menempelkan ujung belati di kulit lehermu. Kamu tidak berkutik mirip kura-kura kehilangan rumahnya. Lantas uangmu dikuras, aksesoris keparlenteanmu ludes bahkan kamu nyaris ditelanjangi habis-habisan oleh serigala-serigala malam, komplotan anak iblis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah demikian kisah kemalanganmu? Ayo, mengaku sajalah, Bung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, kamu tidak melaporkan kejadian itu kepada polisi, kamu seolah-olah sengaja menyimpan perkara itu. Hayo, kenapa? Pasti kamu malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berani bertaruh: paling-paling karena alasan moral, bukan masalah tindak kekerasan, kriminalitas atau berapa harga barang yang tercerabut dari dirimu. Bagimu, menurutku, uang terbuang berapa juta pun tidak jadi masalah, sebab toh sesudah itu kamu sanggup meraup beberapa puluh juta dalam sekejap. Tapi kalau sudah menyangkut masalah moralitas yang niscaya berimbas pada kredibilitas dan identitas dirimu, masalahnya jelas tidak main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, masalah moralitasmu. Dalam moralitas itu kamu masukkan pula gengsi serta harga diri. Tentu saja hal ini berpengaruh sekali terhadap reputasimu. Reputasimu sebagai pejabat, public figure, berstatus sosial sangat mengkristal di lingkungan kota kita, di samping statusmu sebagai seorang kepala rumah tangga dengan tiga anak yang sudah remaja. Kamu juga kaya. Kamu bisa dapatkan apa saja dengan jabatan dan hartamu. Namun, ternyata harga dirimu lebih segala-galanya bagimu. Apalagi orang-orang mengenalmu sebagai manusia yang taat beribadah. Perselingkuhan jelas terkutuk sekali di mata masyarakat kita yang agamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, terserahlah. Hak asasimu. Hanya saja aku penasaran, bagaimana kamu bisa ketemu mereka, padahal aku sudah memberi tahu bahwa siapa dalam diri mereka. Mustahil amat kamu mau sembarang berdekatan dengan gadis itu bahkan sampai nekat tersesat di taman kota atau di sela bangunan yang gelap-gulita sana. Makanya aku tadi mencoba dengan beberapa analisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya… tragis!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya “pokoknya tragis” begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendiamkan dulu setelah kamu mengulang kata “pokoknya… tragis”. Kamu masih bertahan menyimpan aib paling memalukan dalam sisa-sisa usia senjamu, berkaitan dengan kedua anak kembar iblis itu. Aku tidak tahu kenapa. Soal zinah dan naasmu tadi semata-mata terkaanku kok. Pasalnya, jawabanmu cenderung melahirkan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya tragis!” tandasmu, menegaskan jawabanmu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah nian membujukmu! Tampaknya cuma manusia semacam Lucyson itu yang bisa merayumu, seperti Samson ditekuk Delila, seperti Adam dibujuk Hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;babarsariyogya, juni 2002&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192864836048467?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192864836048467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192864836048467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192864836048467' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192847562897757</id><published>2003-08-26T13:07:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:07:55.706-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;ANAK AYAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pukul enam pagi. Endah kecil beranjak dari tempat tidurnya. Pikirannya terpusat pada ayam di kandang orang tuanya. Sisa kantuknya sekejap lenyap ditelan ingatannya pada keluarga baru ayam kampung. Kemarin sore Endah memergokinya di kandang belakang, ketika ayahnya sedang memasukkannya ke dalam kurungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah menuju ruang makan, ke arah gerobok makan. Dia hapal sekali, bahwa hampir setiap malam ada sisa nasi. Kira-kira separuh piring. Maka diambilnya segenggam. Lalu menuju ke belakang rumah melalui teras belakang yang menghadap halaman belakang yang memang bersih. Di sana suasananya asri. Rumput manila rata terhampar laksana karpet hijau digelar. Pepohonan berukuran kecil dan sedang pun begitu teratur dan terawat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana pula dibangun beberapa kandang yang selalu bersih, mewadahi unggas-unggas kesukaan ayah dan kakak angkatnya. Lalu dibatasi lagi dengan bentangan jaring kawat, 12x6x3 m3. Mereka tidak mempunyai tukang kebun, melainkan digarap oleh seorang kakak angkat. Perawatan hariannya dilakukan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kandang tersebut terdiri dari beberapa jenis unggas. Ada ayam bekisar dalam kurungan khusus. Dua pasang ayam kate dibiarkan bebas berkeliaran. Sepasang ayam kalkun di dalam kandang luar. Sepasang ayam bangkok berada di dalam kandangnya. Tiga pasang ayam kampung dilepaskan dalam kandang yang luas itu, juga bebek jawa dan angsa. Sementara burung perkutut, burung punai, burung tiyung kuning, burung kutilang, burung cucakrawa, dan beberapa burung lainnya berada dalam kandang masing-masing. Bisa dibayangkan, alangkah ramai suara para unggas bila fajar mulai membuka diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah mulai menikmati kegiatan barunya itu. Di mata Endah, anak-anak ayam terlihat sangat cantik. Bulu-bulunya masih halus, warnanya elok. Imut, lucu,  menggemaskan. Kebiasaan mereka masih berada di sekeliling induknya. Kemudian mereka bersembunyi dalam dekapan induknya. Aman sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak ayam yang senantiasa dalam dekapan hangat induknya. Anak-anak yang disayangi, bukan ditelantarkan atau dibuang. Bukan dibiarkan atau diperintahkan mencari makan sendiri dan membawa makan untuk sang induk. Bahkan ada anak-anak ayam yang sudah sebesar induknya namun tetap berkumpul dengan induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah tidak tahu kondisi anak-anak ayam milik orang lain di luar sana. Di luar sana, anak-anak ayam sudah harus berpisah dari induknya sewaktu induknya keburu kawin lagi, bertelur lagi, mengeram lagi dan punya anak-anak baru lagi. Namanya juga binatang, pengen kawin ya kawin aja. Soal nasib anak-anak yang ditinggal kawin lagi pun tidak dirisaukan induknya. Dan hebatnya, anak-anak ayam terlantar itu bertumbuh dewasa tanpa perawatan khusus di panti asuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kur! Kur! Kur!” panggil Endah perlahan sembari menaburkan beberapa butiran nasi yang digenggamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang induk ayam bangkit dengan ketinggian tubuh tidak terlalu jauh dari ketinggian anak-anaknya. Lalu memperkenalkan atau mengajari anak-anaknya makan. Anak-anak ayam itu pun makan seperti yang diajarkan induknya, namun dengan hati-hati sekali. Beberapa masih belum bernafsu untuk makan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah lucunya. Endah tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perlakuan Endah, beberapa ayam mendekati. Mungkin iri. Mungkin juga ge-er, mengira sudah jam makan mereka. Mereka segera bergabung, menikmati sarapan pagi tanpa susah-susah menunggu panggilan rutin atau mengais-ngais di pinggir-pinggir pagar. Endah jatuh iba. Diberinya juga sisa-sisa nasi yang digenggamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesukaan baru tersebut membuat Endah setiap hari mengunjungi kandang ayam. Tidak hanya setiap pagi. Tetapi juga siang hari, setiap pulang sekolah. Dan dia akan kembali menemui keluarga baru ayam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tiba di kandang, Endah akan mencari beras. Dia mengendap-endap menuju karung beras. Sebab, dia takut kalau ketahuan ibunya. Dia takut dimarahi. Sebab beras untuk dimasak dan dimakan manusia, bukan untuk ayam. Begitu kira-kira alasan ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambilnya sebanyak setengah gayung. Diberinya makan lagi. Ayam-ayam lain, yang semula berada di luar kandang, menjadi ge-er. Mereka mengira Endah akan memberi makan untuk mereka. Atau mungkin iri. Mereka berbondong-bondong mendekati Endah. Mereka ingin mendapatkan makanan cuma-cuma. Tapi karena peratian Endah hanya pada keluarga ayam, dia hanya memberi makan sedikit pada ayam lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya Endah melakukan hal serupa. Memberi makan keluarga ayam itu. Begitu seterusnya. Dan rupanya ada satu anak ayam yang menarik hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kur! Kur! Kur!” panggilnya kepada anak ayam yang menarik hatinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang induk ayam beserta anak-anaknya langsung datang. Lalu Endah mendekati anak ayam yang cantik itu. Dia hendak menangkap dan menggendongnya. Dan, hap! Endah berhasil menangkap anak ayam kesukaannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sang induk tidak menerima perlakuan itu. Matanya menjadi galak. Bulu-bulu induknya berdiri. Tubuhnya dimekarkan melalui sayap yang agak mengembang. Tanda bahwa induk ayam sedang marah; menganggap campur-tangan asing sebagai tindakan berbahaya bagi kelangsungan hidup anak-anaknya. Biasanya sang induk akan berusaha keras dengan segala daya dan upaya untuk mengusir pengganggu anaknya. Amarahnya meledak-ledak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendatangi Endah. Lantas, tuk! Tangan Endah dipatuknya berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekuat tenaga, Endah menahan sakit dan tidak menjerit. Karena dia takut dimarahi oleh ayahnya, yang setiap hari merawat ayam-ayam di kandang. Dia takut kalau dituduh hendak mengganggu ayam-ayam ayahnya. Endah tidak mau dipersalahkan hanya &lt;br /&gt;gara-gara ingin mendekati seekor anak ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kur! Kur! Kur!” panggil perlahan, sembari menabur sisa-sisa nasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah terus membujuki sang induk dengan makanan. Namun sang induk tidak mau termakan bujukan. Kemarahannya belum reda. Anak-anaknya masih panik, ketakutan, bubar dan berteriak memanggil induknya. Ramai sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Piyek! Piyek! Piyek!” teriak anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan itu didengar oleh perasaan Endah. Seolah sebuah jeritan ketakutan, kepanikan, kegusaran dan kepiluan. Endah kasihan. Dilepasnya lagi anak ayam itu. Lalu, redalah amukan induknya. Sang induk dan anak-anaknya bersatu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah tidak berhenti mendekati anak ayam yang disukainya itu. Pendekatan dan bujukan terus dilakukan. Hasilnya, beberapa hari berikutnya dia sudah memiliki anak ayam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ayam kesayangannya. Setiap dia memberi makan, tak lupa anak ayam kesayangannya selalu diambil dan dielusnya. Induk ayam tidak marah lagi. Dia tetap menikmati makanan dengan tidak terganggu. Anak ayam itu menjadi jinak sekali. Kemudian Endah memberinya nama “Kur-kur”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah mengambil Kur-kur dari kandangnya. Dia melihat dekat-dekat ke anak ayam itu. Timbul keinginannya untuk bisa berkomunikasi dengan ayam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo, Kur-kur, kamu suka, ya, jadi anak ayam?” tanya Endah sambil mengangkat anak ayam itu dan dihadapkannya ke mukanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anak ayam tetap diam. Endah malah memandangnya dengan perasaan iri. Ya, dia iri setelah membandingkan keseharian antara dirinya dengan anak ayam itu. Anak ayam itu bisa bebas, hidup hanya makan, bermain dan berkumpul dalam dekapan induknya. Tidak usah susah-susah sekolah, tidak repot-repot mengerjakan PR. Tidak ada &lt;br /&gt;yang memarahi. Enak sekali mereka, pikir Endah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu masih lapar, ya, Kur?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ayam itu tetap tak bergeming. Pandangan matanya dianggap oleh Endah sebagai jawaban atau pengertian dari anak ayam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kur-kur makan dulu nih,” katanya sembari mengulurkan telapak tanggannya yang sudah menampung butiran beras. Tak lupa Endah menyiapkan air bening untuk minumannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kur-kur makan dengan asyiknya. Sesekali minum, karena disuap oleh Endah. Menyenangkan bagi Endah, apalagi sambil cerita mengenai apa yang dialaminya sewaktu di sekolah. Sementara di sebelah Endah, dalam kurungan kecil, si induk menatap Endah. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh induk ayam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari reaksi si Kur-kur cuma begitu melulu. Hal ini mulai membuat Endah tidak puas. Pandangan bukan lagi sebuah jawaban. Anggukan kepala pun tak pernah ada sebagaimana suatu tanggapan santun atau ungkapan menghargai dirinya. Perkataan adalah tanggapan yang lebih nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo dong, cerita apa kek, Kur,” bujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ingin anak ayam itu bicara, atau kalau perlu bercerita tentang pengalamannya sebagai anak ayam. Namun, Endah terus bersabar. Tapi, Kur-kur diam saja. Matanya melihat ke mana-mana. Mungkin juga tidak tahu bagaimana harus bicara dengan Endah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sudah, jangan takut, pasti kelak kamu bisa bercerita padaku,” katanya kepada anak ayam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali ayah dan kakak angkatnya memergoki Endah sedang berbicara dengan ayam. Endah juga menirukan bunyi anak ayam, “piyek! piyek!”, jika dia mau makan. Melihat kelakuan Endah, seisi rumahnya tidak merasa aneh. Biasa saja. Mereka maklum, karena Endah sangat akrab dengan ayam-ayam itu, kecuali ayam kalkun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan pelajaran bahasa Indonesia, masing-masing anak disuruh maju ke muka kelas oleh bu guru. Mereka disuruh mengatakan cita-cita mereka. Hampir semua mengatakan “ingin berguna bagi nusa dan bangsa”. Sebagian lainnya menyebutkan secara khusus, misalnya menjadi dokter, guru, pedagang di pasar, sopir angkutan umum, montir, kondektur angkutan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin menjadi anak ayam,” kata Endah secara keras dan lantang, ketika dia mendapat giliran mengatakan cita-citanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;babarsarijogja, juni 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat di harian Sriwijaya Pos, 9 Juni 2002, dan situs cybersastra.net, 6 Agustus 2003]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Kuswinarto Yaqin Saja, “Catatan Untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono”, Galeri Esai Cybersastra.net, 5 Januari 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen “Anak Ayam” menarik, karena kesungguhan Agus mengeksplorasi dunia ayam. Daya tarik cerpen ini terutama pada penggambaran Agus terhadap perkembangan pengalaman batin (dan pengalaman lahir) tokoh Endah, murid SD yang menyayangi ayam. Tak hanya menyayangi ayam, bahkan Endah mampu berimajinasi, merenung, dan membandingkan dirinya dengan ayam. Interaksi Endah dengan ayam itu menghasilkan “keputusan” mencengangkan. Ketika guru bahasa Indonesia meminta para murid mengemukakan cita-citanya, hampir semua mengatakan cita-cita abstrak, ingin berguna bagi nusa dan bangsa. Giliran Endah, gadis kecil itu dengan keras dan lantang mengatakan, “Saya ingin menjadi anak ayam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen telah matang untuk antologi “Penerbangan Dini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ANAK AYAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pukul enam pagi. Endah kecil beranjak dari tempat tidurnya. Pikirannya terpusat pada ayam di kandang orang tuanya. Sisa kantuknya sekejap lenyap ditelan ingatannya pada keluarga baru ayam kampung. Kemarin sore Endah memergokinya di kandang belakang, ketika ayahnya sedang memasukkannya ke dalam kurungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah menuju ruang makan, ke arah gerobok makan. Dia hapal sekali, bahwa hampir setiap malam ada sisa nasi. Kira-kira separuh piring. Maka diambilnya segenggam. Lalu menuju ke belakang rumah melalui teras belakang yang menghadap halaman belakang yang memang bersih. Di sana suasananya asri. Rumput manila rata terhampar laksana karpet hijau digelar. Pepohonan berukuran kecil dan sedang pun begitu teratur dan terawat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana pula dibangun beberapa kandang yang selalu bersih, mewadahi unggas-unggas kesukaan ayah dan kakak angkatnya. Lalu dibatasi lagi dengan bentangan jaring kawat, 12x6x3 m3. Mereka tidak mempunyai tukang kebun, melainkan digarap oleh seorang kakak angkat. Perawatan hariannya dilakukan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kandang tersebut terdiri dari beberapa jenis unggas. Ada ayam bekisar dalam kurungan khusus. Dua pasang ayam kate dibiarkan bebas berkeliaran. Sepasang ayam kalkun di dalam kandang luar. Sepasang ayam bangkok berada di dalam kandangnya. Tiga pasang ayam kampung dilepaskan dalam kandang yang luas itu, juga bebek jawa dan angsa. Sementara burung perkutut, burung punai, burung tiyung kuning, burung kutilang, burung cucakrawa, dan beberapa burung lainnya berada dalam kandang masing-masing. Bisa dibayangkan, alangkah ramai suara para unggas bila fajar mulai membuka diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah mulai menikmati kegiatan barunya itu. Di mata Endah, anak-anak ayam terlihat sangat cantik. Bulu-bulunya masih halus, warnanya elok. Imut, lucu,  menggemaskan. Kebiasaan mereka masih berada di sekeliling induknya. Kemudian mereka bersembunyi dalam dekapan induknya. Aman sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak ayam yang senantiasa dalam dekapan hangat induknya. Anak-anak yang disayangi, bukan ditelantarkan atau dibuang. Bukan dibiarkan atau diperintahkan mencari makan sendiri dan membawa makan untuk sang induk. Bahkan ada anak-anak ayam yang sudah sebesar induknya namun tetap berkumpul dengan induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah tidak tahu kondisi anak-anak ayam milik orang lain di luar sana. Di luar sana, anak-anak ayam sudah harus berpisah dari induknya sewaktu induknya keburu kawin lagi, bertelur lagi, mengeram lagi dan punya anak-anak baru lagi. Namanya juga binatang, pengen kawin ya kawin aja. Soal nasib anak-anak yang ditinggal kawin lagi pun tidak dirisaukan induknya. Dan hebatnya, anak-anak ayam terlantar itu bertumbuh dewasa tanpa perawatan khusus di panti asuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kur! Kur! Kur!” panggil Endah perlahan sembari menaburkan beberapa butiran nasi yang digenggamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang induk ayam bangkit dengan ketinggian tubuh tidak terlalu jauh dari ketinggian anak-anaknya. Lalu memperkenalkan atau mengajari anak-anaknya makan. Anak-anak ayam itu pun makan seperti yang diajarkan induknya, namun dengan hati-hati sekali. Beberapa masih belum bernafsu untuk makan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah lucunya. Endah tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perlakuan Endah, beberapa ayam mendekati. Mungkin iri. Mungkin juga ge-er, mengira sudah jam makan mereka. Mereka segera bergabung, menikmati sarapan pagi tanpa susah-susah menunggu panggilan rutin atau mengais-ngais di pinggir-pinggir pagar. Endah jatuh iba. Diberinya juga sisa-sisa nasi yang digenggamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesukaan baru tersebut membuat Endah setiap hari mengunjungi kandang ayam. Tidak hanya setiap pagi. Tetapi juga siang hari, setiap pulang sekolah.  Dan dia akan kembali menemui keluarga baru ayam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tiba di kandang, Endah akan mencari beras. Dia mengendap-endap menuju karung beras. Sebab, dia takut kalau ketahuan ibunya. Dia takut dimarahi. Sebab beras untuk dimasak dan dimakan manusia, bukan untuk ayam. Begitu kira-kira alasan ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambilnya sebanyak setengah gayung. Diberinya makan lagi. Ayam-ayam lain, yang semula berada di luar kandang, menjadi ge-er. Mereka mengira Endah akan memberi makan untuk mereka. Atau mungkin iri. Mereka berbondong-bondong mendekati Endah. Mereka ingin mendapatkan makanan cuma-cuma. Tapi karena peratian Endah hanya pada keluarga ayam, dia hanya memberi makan sedikit pada ayam lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya Endah melakukan hal serupa. Memberi makan keluarga ayam itu. Begitu seterusnya. Dan rupanya ada satu anak ayam yang menarik hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kur! Kur! Kur!” panggilnya kepada anak ayam yang menarik hatinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang induk ayam beserta anak-anaknya langsung datang. Lalu Endah mendekati anak ayam yang cantik itu. Dia hendak menangkap dan menggendongnya. Dan, hap! Endah berhasil menangkap anak ayam kesukaannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sang induk tidak menerima perlakuan itu. Matanya menjadi galak. Bulu-bulu induknya berdiri. Tubuhnya dimekarkan melalui sayap yang agak mengembang. Tanda bahwa induk ayam sedang marah; menganggap campur-tangan asing sebagai tindakan berbahaya bagi kelangsungan hidup anak-anaknya. Biasanya sang induk akan berusaha keras dengan segala daya dan upaya untuk mengusir pengganggu anaknya. Amarahnya meledak-ledak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendatangi Endah. Lantas, tuk! Tangan Endah dipatuknya berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekuat tenaga, Endah menahan sakit dan tidak menjerit. Karena dia takut dimarahi oleh ayahnya, yang setiap hari merawat ayam-ayam di kandang. Dia takut kalau dituduh hendak mengganggu ayam-ayam ayahnya. Endah tidak mau dipersalahkan hanya gara-gara ingin mendekati seekor anak ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kur! Kur! Kur!” panggil perlahan, sembari menabur sisa-sisa nasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah terus membujuki sang induk dengan makanan. Namun sang induk tidak mau termakan bujukan. Kemarahannya belum reda. Anak-anaknya masih panik, ketakutan, bubar dan berteriak memanggil induknya. Ramai sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ciap! Ciap! Ciap!” teriak anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan itu didengar oleh perasaan Endah. Seolah sebuah jeritan ketakutan, kepanikan, kegusaran dan kepiluan. Endah kasihan. Dilepasnya lagi anak ayam itu. Lalu, redalah amukan induknya. Sang induk dan anak-anaknya bersatu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah tidak berhenti mendekati anak ayam yang disukainya itu. Pendekatan dan bujukan terus dilakukan. Hasilnya, beberapa hari berikutnya dia sudah memiliki anak ayam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ayam kesayangannya. Setiap dia memberi makan, tak lupa anak ayam kesayangannya selalu diambil dan dielusnya. Induk ayam tidak marah lagi. Dia tetap menikmati makanan dengan tidak terganggu. Anak ayam itu menjadi jinak sekali. Kemudian Endah memberinya nama “Kur-kur”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah mengambil Kur-kur dari kandangnya. Dia melihat dekat-dekat ke anak ayam itu. Timbul keinginannya untuk bisa berkomunikasi dengan ayam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo, Kur-kur, kamu suka, ya, jadi anak ayam?” tanya Endah sambil mengangkat anak ayam itu dan dihadapkannya ke mukanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anak ayam tetap diam. Endah malah memandangnya dengan perasaan iri. Ya, dia iri setelah membandingkan keseharian antara dirinya dengan anak ayam itu. Anak ayam itu bisa bebas, hidup hanya makan, bermain dan berkumpul dalam dekapan induknya. Tidak usah susah-susah sekolah, tidak repot-repot mengerjakan PR. Tidak ada yang memarahi. Enak sekali mereka, pikir Endah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu masih lapar, ya, Kur?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ayam itu tetap tak bergeming. Pandangan matanya dianggap oleh Endah sebagai jawaban atau pengertian dari anak ayam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kur-kur makan dulu nih,” katanya sembari mengulurkan telapak tanggannya yang sudah menampung butiran beras. Tak lupa Endah menyiapkan air bening untuk minumannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kur-kur makan dengan asyiknya. Sesekali minum, karena disuap oleh Endah. Menyenangkan bagi Endah, apalagi sambil cerita mengenai apa yang dialaminya sewaktu di sekolah. Sementara di sebelah Endah, dalam kurungan kecil, si induk menatap Endah. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh induk ayam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari reaksi si Kur-kur cuma begitu melulu. Hal ini mulai membuat Endah tidak puas. Pandangan bukan lagi sebuah jawaban. Anggukan kepala pun tak pernah ada sebagaimana suatu tanggapan santun atau ungkapan menghargai dirinya. Perkataan adalah tanggapan yang lebih nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo dong, cerita apa kek, Kur,” bujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ingin anak ayam itu bicara, atau kalau perlu bercerita tentang pengalamannya sebagai anak ayam. Namun, Endah terus bersabar. Tapi, Kur-kur diam saja. Matanya melihat ke mana-mana. Mungkin juga tidak tahu bagaimana harus bicara dengan Endah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sudah, jangan takut, pasti kelak kamu bisa bercerita padaku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali ayah dan kakak angkatnya memergoki Endah sedang berbicara dengan ayam. Endah juga menirukan bunyi anak ayam, “ciap! ciap!”, jika dia mau makan. Melihat kelakuan Endah, seisi rumahnya tidak merasa aneh. Biasa saja. Mereka maklum, karena Endah sangat akrab dengan ayam-ayam itu, kecuali ayam kalkun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan pelajaran bahasa Indonesia, masing-masing anak disuruh maju ke muka kelas oleh Bu Guru. Mereka disuruh mengatakan cita-cita mereka. Hampir semua mengatakan “ingin berguna bagi nusa dan bangsa”. Sebagian lainnya menyebutkan secara khusus, misalnya menjadi dokter, guru, pedagang di pasar, sopir angkutan umum, montir, kondektur angkutan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin menjadi anak ayam,” kata Endah secara keras dan lantang, ketika dia mendapat giliran mengatakan cita-citanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;babarsarijogja, Juni 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192847562897757?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192847562897757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192847562897757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192847562897757' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192838768844010</id><published>2003-08-26T13:06:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:06:27.723-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;PAK KAYAL DAN BUKU BARUNYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Onoy tertarik untuk segera mengunjungi Pak Kayal, seorang duda berusia melewati setengah baya yang dulu kerapkali menceramahinya perihal carut-marut kehidupan sosial yang sedang hangat-hangatnya. Lewat tiga bulan Onoy tidak ke sana. Ketertarikannya lebih disebabkan oleh kabar dari seorang teman, bahwa Pak Kayal sedang sibuk menggarap sebuah buku yang saat ini tinggal menunggu proses penyuntingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera ia melarikan vespa tuanya menuju rumah Pak Kayal. Rumah mungil, yang hanya ditinggali oleh tiga orang, yakni Pak Kayal, cucunya yang sudah SMU dan seorang pembantu laki-laki. Sejak pensiun dari pegawai negeri, otomatis Pak Kayal lebih banyak berada di rumah saja sambil menggali potensi-potensi yang nyaris terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah Pak Kayal, Onoy langsung disambut histeria anak anjing milik cucu Pak Kayal. Anak anjing yang baru hampir dua bulan ini dipelihara mereka. Didekatinya anak anjing itu, supaya bisa mengenal siapa Onoy. Setelah anjing kecil itu tak lagi histeris menggonggong, ia masuk ke ruang kerja Pak Kayal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo, Onoy Budak Bangka, apa kabarmu?” sambut Pak Kayal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik-baik saja, Pak,” sahut Onoy mantap sembari menjabat tangan Pak Kayal. “Bapak juga kelihatannya segar bugar. Apa resepnya nih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, biasa saja. Aku ‘kan memang selalu tampak segar setiap berada di luar penjara rutinitas kantoran. Senang sekali aku bisa cepat pensiun.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo silakan, silakan. Cari tempat duduk yang enak buat kita ngobrol,” sambung Pak Kayal. “Itu tu, kursi di sana. Ambil saja. Kita ngobrol dekat meja kerjaku ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy mengambil kursi yang ada dekat jendela, dan meletakkannya di sebelah meja kerja Pak Kayal. Meja kayu yang sudah sangat tua, di atasnya terpampang mesin ketik tua dan kertas-kertas hasil ketikannya. Sejenak Onoy melihat pula sekeliling ruangan tersebut. Rak buku masih menempel rapat di dinding dan buku-buku tampak kian merajai ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada angin apa yang menyeret jiwamu, sehingga terhanyut ke sini, Noy?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kabar angin sih, Pak. Dengar-dengar, Bapak sedang mempersiapkan penerbitan tulisan Bapak dalam bentuk buku. Apa benar kabar angin itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar sekali, Budak Bangka!” jawab Pak Kayal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pak Kayal memperlihatkan lembaran demi lembaran yang berisi tulisan-tulisannya. Wajahnya berbinar-binar, sangat antusias manakala membentangkan beberapa hasil proses berpikirnya. Sementara Onoy hanya bisa membaca sekilas lembar per lembar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin semua orang membaca tulisanku ini, terutama para cendikiawan dan para pemimpin di bangsa ini!” ungkap Pak Kayal mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu keinginan yang wajar, Pak. Bukan sekedar omong besar. Dan, siapapun bisa saja punya ambisi menjadi seorang reformis. Reformis apa saja. Setiap orang ingin dijuluki pahlawan atas sesamanya. Setiap orang ingin disebut reformator atas jamannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ya, ya… betapa konyolnya manusia. Makanya, aku sendiri kepingin mereka menanggalkan pola pikir usang yang kayak-kayak begitu. Lantas menggantikannya dengan konsepku ini serta menindaklanjutinya. Paling tidak, mereka cukup sepakat dengan gagasan baruku, walaupun bisa disebut ‘masih sebatas wacana’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, maaf, Pak…,” selaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ya, apa komentarmu tentang isinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soal clean governance, supremasi justifikasi, demokrasi dan hak asasi, itu semua sudah terlalu sering dilemparkan ke publik, Pak. Teori-teori para pakar, baik yang sudah lama mati maupun yang sekarang giat berorasi, bukankah sudah banyak dipaparkan di media massa? Apakah kelak tak lantas cuma memperparah kejenuhan publik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kejenuhan?” Pak Kayal mengulangi pertanyaan itu sembari mengernyitkan dahinya, seolah berpikir. “Iya, iya, bisa juga. Memang terlalu banyak orang tolol yang menawarkan gagasan-gagasan kuno yang tak lagi sesuai perkembangan masa kini. Mereka berusaha memakai keadaan sekarang untuk bisa dikawinkan dengan teori-teori purba. Itulah ketololan orang-orang yang mengaku sebagai cendikiawan. Kenyataannya apa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya? Omong kosong belaka, kan?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy berpikir sejenak. Bentuk negara Republik yang diperdebatkan oleh generasi yang tak pernah duduk-berunding di meja persiapan kemerdekaan bangsa. Kolusi dan korupsi tetap tegar. Hukum tetap manyun. Kejahatan di semua kelas merajalela. Kekerasan tetap membabibuta. Peperangan tak pernah sirna. Mesin-mesin pembunuh massal tetap diproduksi dan dipercanggih. Agama tetap dipolitisasi untuk kepentingan-kepentingan segelintir orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, itulah!” seru Pak Kayal antusias. “Saatnya mereka akan membaca gagasan cerdas yang aku sodorkan dalam bukuku ini. Itu pun jika memang mereka sanggup menangkap pesanku dan menilainya secara obyektif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak melihat kasus per kasus dalam sudut pandang siapa? Memakai preseden siapa?” tanya Onoy seraya tangannya kembali ke lembaran-lembaran awal untuk mencari landasan teorinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudut pandang siapa? Preseden siapa?” Pak Kayal malah mengulang pertanyaan Onoy seraya memandang keliling ruangannya. “Apa ada faedahnya kalau aku memakai sudut pandang siapa, mengutip preseden siapa?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, untuk mendukung gagasan Bapak, sebaiknya Bapak mencuplik preseden atau teori pakar-pakar terkenal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, mirip skripsi atau disertasi orang-orang tolol itu lagi,” ujarnya terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan begitu, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus? Terkenal di mana? Di dunia? Pakar dari Barat, Timur atau dalam negeri?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kayal berpikir sejenak. Semula ia tertarik untuk memakai teori para pakar sosiologi dan politik dari Barat. Biasa, seperti para penulis kawakan lainnya. Menurutnya, dengan mendompleng ketenaran siapa ia bisa berpanjang-lebar memaparkan pemikirannya. Tapi, setelah dipikir-pikir, antara Barat dan Bangsa ini tentu saja berbeda. Iklim dan realitas masyarakat punya pengaruh yang mutlak. Jelas, teori Barat bukan pijakan mutlak dalam teorinya. Kalau pun ia memakai kacamata beberapa pengamat asing yang sudah lama tinggal di Indonesia, menurutnya, toh mereka memiliki nilai rasa dan nilai pikir yang sangat berbeda dengan dirinya yang telah terlahir jebrot di tanah air. Ia merasa telah setengah abad lebih dirinya menggeluti tanah air. Ia merasa dirinya menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia beralih. Ia mengamati teori-teori para pakar dari Timur. Namun ia berasumsi bahwa pakar-pakar Timur terlalu berambisi menancapkan martabat budaya Timur demi suatu ketenaran. Mereka berusaha mati-matian untuk memamerkan keunggulan Timur. Lalu, apa gunanya keunggulan budaya jika konflik di kawasan Timur masih acapkali terjadi? Menurut Pak Kayal, budaya Timur tidak lebih unggul dari budaya Barat, begitu pula sebaliknya. Sedangkan para pengamat lokal seringkali menyuguhkan gagasan dangkal atau mengulang-ulang gagasan usang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, Bapak mengembangkan teori siapa dong?” tanya Onoy penasaran, sebab tak juga ditemukannya nama-nama pakar yang menjadi acuan tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kau baca lembar kelima,” kata Pak Kayal seraya menunjuk pada lembaran kertas di tangan Onoy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo, yang ini, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, di situ, kan, ada beberapa pendapat mereka yang sengaja aku tampilkan. Aku cuma sedikit menyinggung keunggulan dan kemandulannya. Aku nggak sungkan-sungkan mengungkapkan kegagalan para pemikir bodoh dari Barat, Timur ataupun lokal. Nah, setelah kusingkapkan ketololan mereka, barulah kuumbar gagasan-gagasanku. Aku hanya hendak memakai teoriku sendiri. Terserah idiotisme pakar. Murni gagasanku,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo…,” Onoy manggut-manggut sembari terus membolak-balikkan lembar demi lembar tulisan itu. “Tapi, kan, Bapak bukan seorang pakar? Bapak tidak punya gelar. Dalam biodata Bapak samasekali tidak ada pernah tercantum tulisan-tulisan yang pernah dimuat di media massa. Pengalaman hidup Bapak juga tidak pernah berhubungan dengan masalah-masalah yang sedang Bapak bedah. Bapak tak pernah ikut seminar-seminar sejenis. Nama Bapak tidak pernah disebut-sebut oleh media massa. Mungkin yang mengenal Bapak hanya secuil orang saja, termasuk saya. Bisa jadi, kelak orang-orang akan mempertanyakan siapa Bapak, dan bagaimana mutu gagasan Bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aha, Anak muda, kau ini terlalu meremehkan aku,” tangkisnya. “Aku memang bukan siapa-siapa. Tak punya gelar apa-apa, baik gelar pendidikan maupun penghargaan. Aku tak suka mengikuti acara-acara banyak bicara tanpa bukti nyata itu. Apa faedahnya gelar, jika ketidakberesan makin mencengkeram kita semua?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy tidak menyahuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Budak Bangka,” lanjut Pak Kayal, “sekarang ini siapapun bebas menerbitkan buku. Koruptor kelas kakap boleh menerbitkan buku. Mantan pegawai rendahan macam aku ini pun boleh menerbitkan buku. Sebaiknya kau mulai belajar menghargai karyaku secara adil, ketimbang fanatik pada para pakar yang sudah menelorkan banyak buku tapi hasilnya nol besar melulu. Janganlah kau ikut-ikutan pola berpikir orang-orang yang cenderung mendiskreditkan gagasan-gagasan orang semacam aku ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Min! Paimin!” tiba-tiba Pak Kayal memanggil pembantunya. “Tolong buatkan minuman untuk Onoy, ya, Min!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Pak,” sahut Paimin dari arah dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, iya, kita tadi sampai di mana, Noy?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mendiskreditkan gagasan-gagasan orang semacam Bapak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya, iya,” kata Pak Kayal. “Orang-orang selalu melihat ‘siapa’. Siapa sih penulisnya? Statement-statement siapa aja sih? Referensinya dari siapa aja? Huh! Bukannya ‘apa’, ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’. Akibatnya, orang-orang menjadi penganut ajaran penulis tertentu, bukannya benar-benar mau membaca secara proporsional dan terbuka pada gagasan-gagasan baru dari penulis-penulis yang tidak mengobral gagasan. Penerbit-penerbit besar pun hanya tertarik pada karya-karya penulis terkenal, kendati &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tulisan-tulisan mereka cuma hasil comot pendapat sana-sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku sih, kumpulan gagasanku ini tak perlu didandani koar-koar para pakar. Subyektif total, Noy! Apa gunanya gelar bergandeng-gandeng, nama mentereng, tulisan sering menyita ruang koran, sering juga muncul di televisi, dan lain-lain, tetapi situasi carut-marut Bangsa ini tetap begini. Para pemimpin yang samasekali tidak bisa menjadi panutan, tokoh-tokoh penting hanya bernafsu mengumpulkan duit milik orang lain, aparat yang terjerat kejahatan, para cendikiawan mengigau melulu, dan rakyat yang sudah kehilangan kendali lantaran tidak ada yang patut dipanuti lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy diam. Ia berusaha mengerti, bahwa gelar atau status sosial bukan jaminan atas manjurnya suatu anjuran. Toh memang jumlah orang pandai sudah lebih dari ratusan orang, tapi tetap saja keprihatinan melanda setiap orang yang memahami. Orang pandai berkumpul di Ibukota, tapi bencana alam, bencana keadilan, bencana sosial dan bencana integritas masih terus terjadi. Banyak kepala yang berfungsi tak lebih dari celengan alias tempat untuk menimbun duit. Otak hanya dijejali egoismenya pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paimin masuk dengan membawa baki berisi dua gelas minuman dan dua piring camilan berupa keripik singkong dan keripik talas. Onoy segera menyambut, dan meletakkan satu per satu ke atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Min,” kata Pak Kayal. “Ayo, Noy, diminum dulu, biar komentar-komentarmu tidak kering-kerontang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Pak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keripiknya juga lho. Ini asli dari hasil kebun sendiri dan diolah sendiri. Tanpa bahan pengawet, termasuk formalin yang dipakai para pengusaha pangan sinting itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy menanggapi dengan senyumannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus, begini, Pak,” ujar Onoy diantara keriuhan remukan keripik. “Rencana Bapak, buku ini nantinya akan dijual atau dibagi-bagikan gratis ke orang-orang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijual atau dibagikan secara gratis? Pak Kayal berpikir sejenak. Kalau dibagikan secara gratis, lha kok enak banget? Mana ada sih yang gratis? Jangankan jabatan, nama rakyat aja bisa diperjualbelikan. Jangankan soal gagasan cemerlang begini, lha wong buang sampah aja wajib bayar. Segala sesuatu harus bayar harga. Kalau biaya cetaknya gratis, pasti aku kasih gratis juga. Tapi, mana ada percetakan yang mau mencetak gratis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enaknya bagaimana ya, Noy?” tanya balik Pak Kayal. Ia menatap Onoy tajam-tajam, laksana hendak mengupas gagasan baru dari Onoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, terserah Bapak, gimana baiknya menurut Bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku jual, ‘ntar dituding ‘antek kapitalis’ atau ‘pengamat mata duitan’. Kalau aku beri gratis, ‘ntar malah dicurigai sebagai promosi diri, propaganda, atau disangka sosialis bahkan gawatnya lagi kalau sampai dicap ‘komunis’!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alasannya bukan sekadarnya begitu, Pak,” tukas Onoy. “Sah-sah saja Bapak menjual hasil berpikir Bapak. Penemuan-penemuan bidang kesehatan yang berguna bagi kelangsungan hidup manusia pun dijual dengan harga mahal dan diproduksi secara massal. Buku-buku agama pun diperdagangkan. Artinya, rejeki mengalir melalui apa yang Bapak kerjakan secara serius. Kalau Bapak beri gratis, ‘ntar kesannya hasil pemikiran Bapak tidak punya gagasan segar, tidak berkualitas, tidak berharga dan tidak berdaya saing. Sebab, daya saing juga seringkali dianggap sebagai kekuatan mutu produk. Dan, bukankah Bapak pantas menerima imbalan dari kerja keras Bapak sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya juga ya, guman Pak Kayal. Kalau aku bagi-bagikan secara gratis, ‘ntar malah dianggap ‘gagasan murahan’. Gagasanku ini murahan? Enak aja!   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku jual, Noy. Akan aku pasarkan ke toko-toko buku terkenal,” jawab Pak Kayal mantap. Wajahnya tampak bersemangat sekali untuk mengikuti persaingan gagasan di toko-toko buku. Entah semangat itu berasal dari rasa percaya diri yang kuat ataukah luapan kenekatan yang berasal dari ketidaktahuannya tentang penerbitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy mengambil minumannya lagi. Ia minum lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, Noy, coba sekarang kau bantu aku, hitung seberapa besar dana yang dibutuhkan agar buku ini dapat dicetak serta disebarluaskan, dan bisa diperoleh harga yang pantas. Nah, kelak namamu, Agustinus Wahjono atau Agustinus Wahyono alias Onoy Budak Bangka, akan kucantumkan dalam lembar-lembar awal. Andai kelak bukuku ini meledak di pasaran, jadi best seller begitulah, dan diperbincangkan habis-habisan di kalangan intelektual internasional, namamu bisa ikut terkenal juga, kan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onoy tercekat, seolah telah menenggak sebutir bola tenis yang lantas tertambat di tenggorokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Onoy tertarik untuk segera pulang. Ia tak peduli soal apa yang akan dilakukan Pak Kayal untuk buku pertamanya dan namanya bakal bagaimana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;babarsariyogyakarta, april 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini dimuat di cybersastra.net, 22 Agustus 2002]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Kuswinarto, “Catatan Untuk Sepuluh Cerpen Agustinus Wahyono”, Galeri Esai situs Cybersastra.net, 5 Januari 2003:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerpen “Pak Kayal dan Buku Barunya” paling tidak menarik. Isinya khotbah dan omel-omel. Terlalu sarat muatan. Cerpen ini perlu diendapkan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192838768844010?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192838768844010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192838768844010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192838768844010' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5717433.post-106192820492926174</id><published>2003-08-26T13:03:00.000-07:00</published><updated>2003-08-26T13:03:24.883-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;BERITA PAGI &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu beranjak meninggalkan pagi. Warung bubur kacang hijau itu mulai lengang ketika beberapa pembeli yang berpakaian sport usai menikmati sajian pemulih tenaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juk, entar siang mancing yo,” ajak Demun pada penjaga warung bubur kacang hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, nanti, kita lihat aja,” sahut Jujuk seraya membereskan meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pusing, Juk,” ujar Demun. “Kemarin aku nyari duit ke kampung untuk biaya operasi anakku, si Syila, nggak cukup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Butuh ongkosna seberaha?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tilu lima juta, Juk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35 juta? Kepala Jujuk tersentak sedikit. Ia membayangkan pekerjaan Demun yang hanya petugas cleaning service sebuah kampus dan istrinya yang berjualan tahu-tempe goreng kecil-kecilan. Mana nyukup atuh, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juk, minta es tehnya, Juk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, dari mana, Noy, pakai hitam-hitam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulang layat, Juk. Bapaknya kawanku semalam meninggal akibat sakit kencing manis. Jam 2 siang kelak baru akan dimakamkan. Sebentar lagi aku mau balik ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujuk tidak menimpali. Ia sedang menyiapkan minuman pesanan Onoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ikut mancing, nggak, Noy?” ajak Jujuk. “Barusan Demun ke sini. Dia ngajak mancing. Baru pusing, katanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pusing karena mikirin anaknya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya iyalah. Bayangin aja, duit 35 juta bakal dia dapat dari mana dalam waktu cepat buat biaya operasi anaknya itu? Pulang-pulang dari rumah orang tuanya subuh tadi, dia langsung ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ya. Kasihan banget. Anak satu-satunya, pinter, lucu, lincah. Di balik semua itu, malah sakit lemah jantung,” sahut Onoy lirih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terbayang anak itu. Hobbynya membaca komik. Setiap sore selalu menemani orang tuanya berjualan camilan goreng di warung kecil dekat gardu ronda. Warung mungil itu warisan mertua Demun, sebab istri Demun adalah anak kesayangan mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil itu sering juga menyusul ayahnya, si Demun itu, jika nongkrong di warung burjonya Jujuk sewaktu warung camilan mereka buka. Entah baru saja duduk atau sudah sekian menit, anak ini akan menyeret ayahnya pulang. Mungkin anak ini tahu bahwa ibunya harus dibantu, dan ayahnya tidak boleh mencari enaknya sendiri. Kalau dia sudah merengek minta Demun pulang, apa daya bagi Demun. Dengan muka lucunya, si anak ini tersenyum penuh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, anak yang lucu, guman Onoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, tadi kulihat ada bendera putih di pinggir gang masuk rumah Demun,” lanjut Onoy tiba-tiba seakan teringat sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah?? Yang bener, Noy?” mata Jujuk terbelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener! Kalo nggak percaya, ayo kita lihat di luar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujuk dan Onoy segera keluar dari warung itu. Keduanya langsung melihat sebuah bendera putih mungil yang ditempelkan di tengah tiang listrik yang terletak di tepi mulut gang rumah Demun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, jangan-jangan…,” kata Jujuk disertai mimik muka yang kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasihan Demun. Kasihan anaknya yang lucu itu, ya,” timpal Onoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo kamu mau ke rumah Demun, sendirian aja dulu, Noy.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya deh,” kata Onoy. Ia maklum, jika Jujuk tidak bisa meninggalkan warungnya. Pasalnya, Jujuk hanyalah penjaga bayaran, bukan pemilik warung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat Onoy menghabiskan sisa es tehnya, Demun sudah nongol lagi. Air muka Demun tampak keruh. Nafasnya terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mun, siapa yang meninggal?” tanya Onoy agak hati-hati, juga mewakili pertanyaan yang ingin diajukan Jujuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barusan mertuaku, kakeknya Syila meninggal. Sakit gulanya kambuh,” kata Demun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujuk dan Onoy diam. Tidak menanyakan soal jadi-tidaknya mereka mancing, atau menanyakan bagaimana kabar Syila. Serta-merta sunyi menyambangi warung bubur kacang hijau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babarsarijokja, Januari 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[cerpen ini ikut terpilih dalam antologi cerpen pendek Graffiti Imaji, Yayasan Multimedia Sastra, 2002]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Yusuf Priyasudiarja, email 19 April 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya memang surealis, potret kejadian yang nyata dan mudah dipahami. Soal "nyastra atau tidak" menjadi tidak penting ketika apa yang Agustinus hasilkan sudah diakui oleh sastrawan setingkat Sapardi Djoko Damono. Artinya cerpen itu sudah mencapai tingkat estetika tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku kagum dengan diksi yang mengalir, yang natural dan tidak dibuat-dibuat dalam cerpen itu. Ada dialog yang enak dan terkesan nyata. Dan ada suspense di akhir cerita. Itu yang membuat "Berita pagi" menjadi istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5717433-106192820492926174?l=bedahcerpen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192820492926174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5717433/posts/default/106192820492926174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bedahcerpen.blogspot.com/2003_08_01_archive.html#106192820492926174' title=''/><author><name>agustinus</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14009860575735939715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
